Tampilkan postingan dengan label Bibir Mungil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bibir Mungil. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2011

Lelaki yang Merintih

selarik sajak melompat dari mimpi buruk : menjelma tikus yang sigap menakar umurku. aku musang. bangkai musang dibedil derita begitu abadi dirajami luka. sepekik sukma jengah mengeja renjana tentang sisa gerit ranjang di dasar bejana. sepenggal ngilu membentang di jidatku. menggaris pilu melukis puting dan selangkanganmu. aku mayat. mayat musang ditolaki kubur. rohku keluh memanggil lindu dipecut rerintih dan sepisau dukalara merah merata membekas jejakku pada aroma birahi yang menyeruak laju di tikung masa. alangkah pahitnya rindu, sayangku! alangkah pedihnya risau sayangku! ditenung hening maut, sekali lagi aku kabarkan duka ke puncak hitam segala hitam, ke puncak malam segala malam sambil memenggalmenggal pucuk surga yang memahat namamu dengan liar liur dan kata asmara yang rabun berkabut.
:selepas kau pergi!
(Mks, 10 Okt 2011)

Kamis, 29 September 2011

kau tak pernah bicara tentang dirimu
bukan hanya karena kau tak tahu kepada siapa akan bicara,
tetapi juga karena kau tak tahu bagaimana caranya bicara!
padahal kulitmu kian kering kerontang tanpa setetes minyak yang tersisa
padahal kepalamu kian licin mengkilap karena setiap hari rambutmu dicukur
bahkan rambut pengawal kelahiran anakanakmu telah dirambah tangantangan asing
atas izin anakanakmu sendiri.

darah yang sedikit tersisa dalam tubuhmu perlahan menjelma kubangankubangan nanah
di pusarmu telah tertancap tiangtiang baja dan cerobongcerobong raksasa yang tiada lelah
mengirim abu tiada lelah mengirim debu tiada lelah mengirim bau pada matamu pada hidungmu
pada mulutmu pada putingmu pada perutmu pada kemaluanmu pada seluruh tubuhmu yang kian
gemulai meratapi diri dengan mata berkacakaca.

apakah ini bentuk pengorbananmu setelah konon kabarnya anakanakmu telah berjasa melepaskanmu dari belenggu pingitan setelah berabadabad kau ditiduri manusiamanusia asing dan serakah?!
di saat ketika anakanak tetuamu punah terseret takdir, ramairamai anakanak termudamu meraungraung lalu bergelantungan di puting payudaramu yang kini telah disesaki ribuan tiangtiang bendera berjuta warna! mulutmulut anakanak termudamu berebutan menjilat dan menyantap dengan lahap putingputing susumu padahal air susumu kini tinggal sekutip. 

maka ketika anakanakmu kehabisan susu, anakanakmu akan berubah dari manja menjadi bengis dari manis menjadi garang dari kucingkucing yang cantik menjadi serigalaserigala lapar yang menyemut mencabik dan mengoyak tubuhmu. tubuh ibunya sendiri. tubuh yang telah melahirkan dan membesarkannya.dan pada akhirnya kau dan mungkin juga anakanakmu akan kaku tak bergerak diam dengan mulut menganga seolah ingin menelan bulan yang pucat di atas sana. alangkah ngerinya waktu itu!
(Cafe Biru, Mks 24 sept 2011)

Minggu, 04 September 2011

Sepasang Merpati Sepanjang Pantai

bulan jatuh:

Telah kukawini gelap yang gagap, dengan seperangkat nyanyi yang sunyi di punggung malam yang sibuk menata awan dengan sisa air hujan kemarin. Angan melesat jauh ke jantung orbit berpencar di angkasa raya menimang-nimang kenangan tentang kau-aku yang pernah lebur dalam ciuman panjang dan menyelam bersama dalam lautan debar sembari menduga-duga kemana birahi bermuara kemana air mata berbicara kemana duka bersuara. Tubuhmu hilang!

Hati berpacu membilas rindu dengan mata air mimpi dibalik selimut kalbu yang mengabut. Buih-buih air dari kelopak mata melengkung tajam melukis potret lusuh perempuan berbaju biru dengan bekas peluru disela payudara sedang membentang senyuman hambar ke pucuk rembulan. Sebentar saja, sebelum rinai hujan turun menjuntai menghapus tiap sketsa wajahmu dengan ornamen kesedihan. Ada jalan tanpa ujung, rupanya ada juga kesedihan tak berujung.

Ketika malam melarut bersama sunyi yang kian abadi, ribuan janin kata tertawan di rahim puisi yang gerah, menyeruak laju dan menghentak: rupanya ia tak sabar meretas di lembar-lembar cahaya mengeja sepotong senja dan segenggam matahari. Tetapi, sekali lagi awan mengejan. Bukankah sudah kukatakan berulang-ulang jika puisiku sangat takut dengan hujan? ia serupa puteri malu yang hanya ingin mekar pada matamu.

Kau masih ingat pertemuan kita di lekuk pantai itu bukan? pada lengan air yang dilumuri buih, tubuhmu kutemukan pucat, menggigil,  dan gerahammu beradu di bilik bibir yang bergetar hebat. Aku membawamu ketepian, menjulurkan secangkir teh hangat dan menawarkan sepotong senja yang sudah semakin menua. ” Tidak! aku hanya ingin air mata!” jawabmu. Dan ketika malam mulai ranum, kita sepakat bertukar kisah tentang sepasang merpati yang terluka.

Dari sanalah berawal sepenggal cerita yang tak selesai aku rangkum, dan dari sana pula berawal sebait puisi yang tak pernah bisa aku gubah menjadi kidung cinta seribu purnama.  Janin puisiku berkali-kali mati di ujung belati, yang entah dari mana asalnya (barangkali saja hujan itu yang mengirimnya) ketika aku sibuk menyulam payung dari rontokan bulu-bulu sayapmu.

Kau adalah burung yang lupa jalan pulang. Terperangkap dalam sarang asmara yang mengharu-biru, dan terluka ketika sebuah peluru dari penembak jitu bersarang telat diantara payudaramu. Kau mengepak sayap, mencoba melesat pergi ketika sepotong bulan pucat tepat jatuh disampingmu: di ranting cemara. Kau tak bisa terbang kemana-mana. Bulan pucat itu, sesupa cermin dan memaksamu untuk menatap lekat bayangan sendiri. Bayangan merpati bersayap seribu, dan sayangnya di ujung sayap-sayap itu getah-getah duka menempel hebat.Tubuhmu hilang!

Di atas tilam, sepasang merpati yang terluka menggelar ritual penangkal bala kecewa. Atas nama bukan atas nama siapa, atas nama duka yang tak sanggup bersuara, atas nama luka yang tak sanggup berkata, kita mengukur setiap jengkal ramarama asmaradhana yang tersisa. Gemuruh debar membuat kita terjungkal dalam legian ciuman panjang. Dan mulai saat itu, sepasang merpati mematuk-matuk campuran liur dan air matanya sendiri.

Kelak, kisah ini akan kutulis di tujuh lembar pelangi: birahi yang gelisah
Rupanya: ciuman yang panjang dan lautan debar yang pernah kita arungi hanyalah sekutip kisah tak berwajah. Kau menjelma gapura dari air matamu sendiri, terpasung dalam ruang kesedihan yang membuncah, sedang aku memilih meringkuk dalam dekapan sunyi, sembari mencoba mencari bayangmu di kerak bumi, pun di puncak cakrawala. Kita sepasang merpati yang tertawan dalam penjara hati masing-masing. Tubuhmu benarbenar hilang, dinda!
Lalu:
Sunyi
Sepi meninggi
Abadi!
( disanalah aku sibuk mengutuki diri)
(Makassar 2011, bibir pantai losari yang pucat)

Kamis, 25 Agustus 2011

PAHLAWAN

Segumpal darah
Sekepal marah
Sehampar lelah
Ada merah di ujung lidah sejarah

Seusap debu
Setikam ngilu
Sehantam kelu
Ada pilu di tepi titah waktu

Jejak luka
Sayat sempurna
Di lengkung bahu
Ada rindu pada usai sendu

Sisa-sisa air mata
Tumpah ruah percuma
Durja jiwa murung angkara
Ada kelabu di dada pengembara

Tapi ia selalu percaya
Nyawa tergadai demi bendera

Tapi ia selalu percaya
Nyawa tergadai demi merdeka
[Bulukumba, Agustus 2009]

Jumat, 19 Agustus 2011

SEPI MENYUSUI KENANGAN

(I)
Sepi menyusui kenangan. Waktu menyisahkan labirin senyap dan pekat. Di penghujung musim, iklim turun menggigil dingin, dan hujan terlampau tajam bagi asmara yang rabun. Aku tawanan terperangkap dalam penjara hati yang lindap dan basah, terkatungkatung mengutuk gemuruh menjadi salju pun jadi batu. Gemuruh menjelma hujan pisau tajam, sedang aku tak punya waktu untuh berteduh. Aku terbunuh di akhir gemuruh, saat rindu mencoba mengeja tiap lembar kenangan tentangmu.
(2)
Aku mayat ditolak kubur. Gentayangan mengabarkan duka mengobarkan luka. Kubayangkan sosokmu telanjang di tepi ranjang meminang sisa gerit setubuh di puncak subuh, tapi kunangkunang ajal terlampau gesit berlari mengibarkan bendera kematian di lindap jalan rinduku yang melepuh biru. Rindu yang melancip serupa puting payudaramu yang tak selesai kulukis pada dinding kelabu . Kau-aku di takdirkan hidup dalam sekat berbeda pekat.
Sungguh cinta awalnya duka. Memahat lambang kesepian di kerut keningku. “Mengapa kau ikut gesit berlari, sayangku, bukankah tunas-tunas sajakku sudah kurimbunkan dalam getar hatimu? “ serupa kijang tubuhmu melesat ke puncak Turzina, membawa ribuan busur panah. “Ayo, bidik baik-baik kearah jantungku yang sudah bernanah!” nyawaku tinggal setitik liar liur. Betapa ingin keteguk hambar kesedihan yang menetes dalam piala duka nganga, sebelum lidah kenangan datang menjilati sisa gerit ranjang dan lepuh keringat kita yang perlahan menghilang, perlahan mengering terbasuh waktu yang tertatih merintih.
(3)
Sungguh! Ingin kukecup kembali payudaramu, tetapi aku hanyalah selembar daun yang luruh ditiup angin, tak kuasa menggaris sajak manis di sela selangkanganmu. Aku lapuk pada jejak kaki yang tertoleh di lindap setapak, dan musim begitu abadi menghunjamkan hujan. Jubah hitam awan di langit sana membentang serupa kenangan. Legam mengilat, merambat harap. Didih letih, menuai risau hati.
(4)
Wujudku melepuh. Kurasakan ada kalajengking yang merayap dalam aliran darahku. Di depan sana, seekor burung hantu tak henti mematuk tanah. Matanya merah zaga serupa darah yang berceceran di ujung tenggorokanku. Ngeri menjuntai. Zakaratul menari. Aku hendak lari tetapi gelap tak juga pergi. Sekali lagi, aku terbunuh. Jiwaku kekal mengabarkan duka ke pelosok desa ke sudut kota. Ruhku terpasung dalam kekangan kenangan, ditusuki mata sembilu. Jika ada yang ingin tahu betapa nikmatnya luka ini, kemarilah! Akan kuhamburkan pahit lindu dalam mulutmu, akan kupercikkan air mata bercampur darah di sekujur tubuhmu, hingga kau membatu dilempengan duka nganga. Serupa dukaku!
[Kendari, April 2007]

TAMU

Pintu berderik
Ada yang mendekat
Berbisik
Dan menagih janji

Aku tersentak dan meronta
Sepagi ini ia datang?
Sedang butir-butir jagung
Belum jua sempat kutanam

“Datanglah tahun depan!”
Kataku lirih
“Tidak! Tahun depan aku ada janji dengan yang lain.”
Katanya lantang

Lalu ia pergi membawa selembar nyawa
Dalam bungkusan penyesalan yang tiada terkira.
Meninggalkan anak yang kehilangan ayah
Meninggalkan perempuan yang menjadi janda

“Ke mana kau membawaku?”
“Ke puncak hitam!” jawabnya.
[Bulukumba, Agustus 2009]

ULAR

kau menyusup masuk
pada aliran darahku
ketika daun pintu hatiku tidak terkunci

kau menyibak tirai

dan mencungkil paksa kamar getarku
ketika aku terlelap dibuai mimpi
kurasakan ada serupa  ular
menari-nari di puting payudaraku
lalu mencabuti bulu-bulu kemaluanku
mematuk-matuk dinding rahim
dengan bisa yang teramat amis
menyusuplah sesuka hatimu
keluar masuklah ke dinding jantungku
sapalah tiap bagian tubuhku,
tandailah dengan patukanmu
tetapi jangan pernah mencari jalan pulang
apalagi berniat kabur sekehendak hatimu
kau harus bertanggung jawab
atas luka yang kau toreh
hingga air mataku menggenangi
kapas-kapas bantal yang putih pucat
atau kau ingin memaksaku menjadi
: pembunuh seekor olar?
[Bulukumba, Mei 2008]

KEMATIAN YANG SEMPURNA

(I).
Selarik sajak melompat dari mimpi buruk: menjelma burung hantu yang sibuk mematuk tanah dan terus menatapku. Isyarat kematianku telah tercatat di tujuh lembar kain kafan, berkibar-kibar serupa bendera pada rusuk sejarah yang mulai gerah. Inginnya aku mencari sisa-sisa air liurku di rona bibirmu, tetapi waktu bergegas pergi dan burung hantu itu melesat tajam kearahku dengan patuk seruncing mata pisau. Apakah kau tak ingin tahu kelanjutan cerita penyadap getah cinta yang dicakar dan dipatuki burung hantu di ulu hati, sayangku?
(2)
Kita sepasang burung yang bertengger di ranting rapuh. Kemarau mengirim terik dan angin terlampau sigap menghempaskan kita ke semak belukar. Oh, bukan. hanya aku rupanya. Sedang kau, berhasil terbang dalam dekapan rajawali berbulu domba. Di semak itu, kusaksikan tubuhmu melayang-layang melambaikan tangan sambil meludah. Langit seketika hitam dan kisah kita terhenti dipisahkan rajawali dan tabir malam yang legam. Kau meninggalkan seekor burung jantan yang dikepung ribuan hewan purba. Dan kurasakan tubuhku remuk dalam lilitan dinosaurus, sebelum terpelanting jatuh di kerak bumi. Rupanya beginilah kuburan bagi tawanan asmara yang kalah. Liat dan amis serupa sisa akhir ciuman kita di dalam sarang tempo hari. Aku mayat dengan kubur tanpa nisan, telanjang tanpa kafan. Musim mengirimkan selembar daun khuldi tanpa doa belasungkawa. Seekor anjing melolong panjang, dan kupastikan sedang mengutuki diriku menjadi batu. Begitu dasyatnya perjalanan kematianku, sayangku. Sampai-sampai aku tak punya waktu untuk mengingat tanda yang pernah kupahat di leher jenjangmu, pun di telapak kakimu.
(3)
Di dalam kubur, ruhku meronta-ronta mencari sela. Aku merasa  kematianku belum sempurna. Kemana rajawali itu membawamu pergi? Jangan-jangan kalian lupa jalan pulang setelah beranak-pinak di gundukan awan. Aku kalah. Tetapi aku masih ingin mencari serpihan jerami sarang kita dahulu. Barangkali saja, kau pernah melintas lalu sekali lagi meludah pada serpihan itu. Akan kubakar serpihan jerami dan ludahmu itu, biar bendera hanya menyisahkan satu warna. Putih serupa cinta dan tulang-belulangku, berkibar-kibar pada rusuk sejarah cinta kita yang benar-benar sudah gerah. Kematianku akan sempurna, meski tanpa taburan bunga kamboja dan sekutip air mata, sayangku. Sedangkan kau, tetaplah mematuk bulan, dan menjelmalah menjadi rajawali betina berbulu rusa. Inginku!
[Mks-Kendari, Awal Maret 2007]

NYANYIAN LELAKI RENTA


Di lekuk masa yang renta
Kita sepakat menyusun kata
Menjadi kota yang asmara

Dilekuk masa yang renta
Tiada lelah kita menyapa
Gelora cinta yang tersisa

Di lekuk masa yang renta
Tiada letih kita meraba
Butir-butir mutiara jiwa

Tubuh kita mulai purba
Tapi cinta pasti tersisa
:meski hanya setitik bara
[Makassar, Januari 2010]

KUCARI KAU KUCARI

kucaricari
hilang lagi hilang lagi
kucaricari
lenyap lagi lenyap lagi
kucaricari
sirna lagi sirna lagi
kucaricari
sunyi lagi sunyi lagi
kemana kau
yang hilang
yang lenyap
yang sirna
yang sunyi?
:aku rindu!
(Mks, Januari 2010)

WAKTU

detik menjadi menit menjadi jam menjadi waktu menjadi apa saja sesuka kita apa saja semau kita apa saja seingin kita apa saja seharap kita apa saja sebutuh kita apa daya apa daya apa daya tak ada kuasa mengkudeta yang kuasa!
waktu pergi
kita kembali
ke puncak sunyi!
[Makassar, April 2009]

ADA SIAPA

(Za)
ada biru menelungkup sendu
membujur kaku di lekuk tubuhmu

ada derita menggores pilu
dan membeku di relung hatimu

ada letupan doa mengangkasa
berharap dukamu segera berlalu

ada siapa mengajakmu belajar mencintai luka?
:ada aku!
[Pondok Gede, Januari 2009]

LINTAH

tanah  merah mulai marah:
disini, ribuan lintah menghisap darah
beterbangan dari sawah ke sekolah
dari sawah kesegala arah

menghisap puting ibu
menyunat kelamin ayah
melilit kaki perut dan leher kita

sambil berkata:
siapa suruh jadi rakyat!

tanah merah mulai marah
disini, lintah itu semakin membiak
merayap kemana-mana
terbang kesana sini

ke kursi dewan, ke laci meja aparat
ke kasur pejabat, ke dapur penguasa
sambil melantungkan AyatAyat palsu
tanda tangan palsu, air mata palsu
katakata palsu, janjijanji palsu

sambil berkata: 
siapa suruh jadi rakyat!

disini, tanah mulai marah
dan kami mulai gerah
(Bulukumba Agustus 2009, Harian Radar Bulukumba 6 Agust 2011)

SEPI MENYUSUI KENANGAN

sayapsayap senyap menyergap harap
ratap menatap tiap isyarat:
barangkali hidup adalah
terjemahan burung yang lupa jalan pulang
sedang tanah sudah menganga siap melumat
sepotong janji yang belum tunai?

sepi merejan kenangan membayang,
sudah berapa banyak air mata tertuang
berhamburkan untuk sesuatu yang tak kumengerti
dan nyaris siasia mengeja peta yang kelana
kini, ditengah rimbunnya tunastunas puisi

setitik air mata semoga menjadi sandi
kemana burungburung itu (dan mungkin juga aku)
melepas letih menuai janji mengibar panji
: mengawini sepi di punggung purnama

(Kendari, Awal Januari 2007, Harian Radar Bulukumba, 6 Agust 2011)

RAHIM PUISI YANG MULAI GERAH

(Za)
ada sisa tatap membekas di cermin dan daun jendela:
pagi gesit berlari, sedang sisa malam kemarin belum mengirim
baitbait doa pada tangkai angin yang lena. Ribuan janin kata
masih meringkuk dalam rahim puisi yang gerah, siap meletup kapan saja

era kecipak itu terlampau singkat dan waktu bergegas berangkat
meninggalkan ranum gelisah yang mekar di kamar getarku
inginnya aku rangkai tangga lagu sederhana: cermin, jendela dan kau!
tetapi sekali lagi, ada yang begitu gesit berlari sebelum pagi
menebar jala asmaradana di puncak mahabbah

kini, ada yang setia menunggu derik dan ketukan pintu
pada tumpukan kata, lagu tak pernah tercipta
pada gundukan aksara, puisi tak mampu menggema
ketuklah dari arah mana saja, kapan saja
biar janin puisi itu bisa segera menyusui, meletup ke angkasa raya!
(meski pada puting kenangan yang tawar dan sedikit pahit)
(Mks, Juli 2009, Harian Radar Bulukumba 6 Agt 2011)

BERLAYAR DILAUTAN DO’A

Burungburung terbang dari sarang
Ikanikan berenang di laut jenjang
Perahu menerjang karang
Berlayar menuju
Tujuh dermaga
Tujuh persinggahan
Tujuh samudera
Tujuh pengharapan
: esok, pulanglah dengan segenggam matahari!

(Blk, April 2009, Harian Radar Bulukumba 2011)

Jumat, 08 Juli 2011

Nyanyi Losari

inilah denyut pasang-surut anak manusia penjelajah duka:
sesempit selat akrab losari berumah musim angin selatan
seribu ngaum harimau menerkam badai dengan hati landai
sudah lama hati belajar menjahit jala, mendempul rakit, pun
memintal bantal ombak dengan kata tanpa tuah tanpa cinta!

seperti ziarah dari satu jazirah keseribu jazirah,
kau-aku lebur dalam cadas kalam. diatas rakit
yang ditelanjangi gelombang, hawa udara semisal
rawa-rawa air mata duka ” dinda! sekeping hatiku
terbang dengan kunang-kunang kenangan!”

sekafan kain putih aus, lampus dan hangus
jatuh menjulur oleh bocor jantung angin,
riuh sorak-sorai suara yang tak kukenali
seumpama busa-busa duka dalam dada
” dinda! maukah kau menemanikuku sekali saja
duduk berdua di pelaminan kata?”.

diatas rakit digigir senja yang menua, aku sekarat digilir tangis
seumpama tikaman gerimis yang mengiris pelipis paling tipis!
sisik sirip tumpang tindih menjadi belukar penuh duri membalut hati
yang mungkin tak akan pernah lagi bisa menghapus sisa madu
selepas kau-aku jalang pada sebuah ciuman yang panjang!

___ Aku sekarat dengan sekerat rindu yang berkarat,diatas rakit yang tak pernah bisa membawaku ke dermaga, setelah kau-aku sepakat menabur bunga kenanga diatas nisan tak bernama!___
( Kisah tak berwajah, LOSARI 1 juni 2011)

Jumat, 24 Juni 2011

CIUM

cium aku dengan kata sebelum fajar menjadi jingga: telah kutandai dinding hatimu dengan jarum puisi dua belas purnama lalu sehabis melumat sepotong senja ditepi losari yang kelak kunamai pantai seribu narasi dimana setiap lekuknya ada kisah kita menjulur menggapai buih O dewi yang tertawan dalam nafas yang terbayang dalam igau yang semai dalam mimpi pun jika harus memberi tanda pada bagian tubuhmu yang lain aku memilih menancap jarum puisiku tepat pada jidatmu sebagai pengganti kecupan terakhirku sebelum kau berlabuh di dermaga lain O dewi sekali saja cium aku dengan kata sebelum fajar benarbenar menjadi jingga dan aku hanyut dalam lautan aksara menuju tempat tak terjamah O dewi karenamu kata ku ramu karenamu kita syahdu dalam lagu?  
(Pondok Gede 17 Mei 2011)

angananganangin

rindu menderu melumat jalan menghubungkan lariklarik kenangan kauaku dilintang gerimis saat tajam puisi tak dapat lagi menikam bayangmu saat lembarlembar sajak tak kuasa lagi menyusun paragraf senja bersamamu, aduh! inginku, aduh anginku.
entah dimana kau bertakhta. tak ada sandi atau jejak yang kau toreh di lintas tualang di lindap jalan atau sekedar bekas gincu pada ilalang di depan gubuk kenangan yang perlahan rebah dikepung ranung gelisah dan seribu tanda tanya, aduh! inginku, aduh anginku.
kini, dibawah samur zaman dan gigir bayang aku lari mengejar tumpukan kata dari lolong kereta berharap selembar saja saursaur auramu menukik menemuiku memintal asa membagi gelisah pada kuncup mahabbah dan jadi penjaga rimbungnya tunastunas puisi, aduh! inginku, aduh anganku.
/anganku.
(Makassar, Awal Mei 2009, Harian Radar Bulukumba 6 Agt 2011)

REBAH DALAM SABDA

pada kata kita satu
pada mata kita satu
pada rasa kita satu
pada raga kita satu
pada suara kita satu
pada masa kita satu
pada kata pada mata pada rasa pada raga pada suara pada masa kita satu
pada satu kita igau
pada satu kita risau
pada satu kita ragu
pada satu kita layu
pada satu kita abu
yang igau yang risau yang layu yang abu pada satu
itu kita!
(rebah dalam Sabda)