Tampilkan postingan dengan label Omong Kosong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Omong Kosong. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Oktober 2011

Bahasa SMS yang Semakin Aneh dan Gaul

Semakin hari, saya (mungkin juga pembaca) merasa bahasa SMS yang masuk di ponsel  makin terasa aneh, sulit dipahami bahkan kadang membuat ujung bulu kening bertemu dikerutan jidat. Entahlah! apakah saya yang kurang tanggap mengikuti “gaya” SMS masa kini, atau justru gaya SMS itulah yang terlalu alay.


Kalau hanya sekedar disingkat, semilsal ” Kpn plg ke rmh?” (baca : kapan pulang ke rumah) saya masih bisa memahaminya. Tetapi kalau sudah terlalu aneh dan gaul, semisal ” Yupz, Q dah otw jangkrit!!!” (baca : saya sedang dalam perjalanan) atau ” z lg kw2 d cf, ASAP!!!” (baca : saya sedang kongkow-kongkow di kafe), ini yang sulit dimengerti dan dipahami, apa arti dan maksudnya. Malah, saya kadang mengartikan berbeda dengan maksud si pengirim SMS.


Ada satu kejadian lucu yang pernah saya alami berkaitan dengan SMS gaul tersebut. Pada saat musim lebaran lalu, seorang teman wanita saya yang usianya lebih muda, masih SMA, mengirimkan  SMS seperti ini ” M L ya? kbl fit…” wah, jujur saja saya tidak bisa memahami arti SMS teman saya itu. Mau membalas dan menanyakan maksud SMSnya, saya juga merasa malu dicap kurang gaul. Meskipun, pada akhirnya terbukti jika saya memang kurang gaul bahkan tidak gaul sama sekali.


Dengan sumringah sambil membayangkan yang aneh-aneh, saya kemudian membalas SMS yang berbunyi ” betul? tdk salah nih? oke, saya meluncur sekarang!” lalu teman wanita saya kembali membalas ” CP deh…” wah, saya semakin girang, dan segera melaju ke tempat kostnya. Tetapi sial, sesampainya di sana, pintu rumah kostnya terkunci karena sedang mudik. Dengan perasaan kecewa dan merasa tertipu, saya kembali pulang meninggalkan rumah kos yang sepi itu.


Seminggu kemudian, setelah bertemu dengan teman wanita saya, barulah semuanya jelas apa maksud dari SMS gaulnya yang sempat membuat otak saya dijangkiti penyakit berbahaya alias pikiran cabul. Rupanya, maksud SMS ” ML yah? kbl fit…” tak lain adalah ucapan selamat lebaran ( baca : Met Lebaran yah, semoga kembali fitrah). Padahal, saya menangkapnya dia mengajak saya bercinta, karena musim puasa sudah lewat dan tubuh sudah kembali fit.


” Terus, apa maksud SMS kamu yang ini, hah?!” tanya saya sambil memperlihatkan SMS yang berbunyi ” CP deh…” itu.

” Lho, memangnya kakak mengartikannya apa?!”

” Cepat, deh…!”

” Haha…Dasar otak cabul, tidak gaul, itu artinya Cape Deh…” Jawab teman saya sambil mendorong jidat saya dan terus menertawakan saya. Dengan perasaan malu, saya kemudian berlalu dan sejak itu saya semakin hati-hati membalas SMS, apalagi si pengirim masih ABG dengan isi SMS yang saya anggap aneh dan alay itu.


Adanya fenomena SMS yang semakin gaul itu, tentu harus disikapi secara bijaksana oleh semua pihak, utamanya di lingkungan keluarga dan sekolah. Tidak mungkin melarang, tetapi sebaiknya  orang tua dan guru memberikan pemahaman agar si pengirim SMS yang pada umumnya masih ABG dan masih duduk di bangku sekolah, tidak berlebihan gaul atau alay. Sebagai contoh, umumnya siswa SMP dan SMA yang tidak lulus tahun ini karena nilai pelajaran Bahasa Indonesia yang amburadul.


Kebiasaan penulisan SMS yang tidak mengikuti kaidah akan berakibat fatal, sehingga siswa sulit mencerna dan memahami,  manakala berhadapan dengan tulisan yang mengikuti kaidah semisal dalam ujian atau di dalam forum resmi lainnya. Anak ABG yang sering menulis SMS yang terlalu gaul, tidak  peduli lagi dengan kaidah dalam penulisan semisal artikel. Saya hanya bisa senyum sendiri ketika membaca artikel adik saya yang katanya akan diikutkan lomba, seperti berikut ini :


” Cape deh…Malaysia pengen ngebalikin TKI kita yang berjumlah riBBuan itu. Dasar jangkrit <^^> habis manis vespa diBBuang. Btw, kalo TKI pada balik, Indonesia buanjirrr donK. Khan penduduk tambah banyak ajah Khan? Truz mo di tampung di mana coba! ASAPP!!! Malaysia dodol!!! bla…bla…bla…”

Hahaha…So, CP deh…***

13182000672120347676

(Makassar, 10 Oktober 2011)

Kamis, 29 September 2011

Skor Sementara KPK Vs DPR : 1-0

Skor sementara antara KPK Vs DPR, 1-0 untuk keunggulan KPK. Angka ini diraih setelah Komisi Pemberantaran Korupsi (KPK) berhasil memeriksa empat politikus Senayan dalam kasus suap di Kementrian Transmigrasi. Bukan hanya memeriksa, tetapi KPK telah meringkus tiga tersangka kasus suap dengan barang bukti Rp.1,5 miliar pada tanggal 25 Agustus 2011 lalu.

Selanjutnya, 20 September 2011, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memanggil Ketua Badan Anggaran Melchias Markus Mekeng dan tiga orang wakilnya : Mirwan Amir, Tamsil Linrung dan Olly Dondokambey.

Mendapat serangan yang bertubi-tubi, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melancarkan serangan balasan dan meninggalkan pola bertahan. Rupanya formasi 4-5-1 seperti yang diperagakan Osasuna ketika dillumat oleh Barcelona di Primera Liga, tidak mampu meredam pergerakan lawan, bahkan terkesan memperlihatkan gaya permainan gajah tanpa dapat menciptakan peluang.

Serangan balikpun dilancarkan. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berusaha masuk menusuk pertahanan KPK dengan cara memanggil KPK ke Senayan sebanyak dua kali, dengan dalih untuk berkonsultasi soal mekanisme pembahasan anggaran. Panggilan pertama pun dilayangkan setelah sehari sebelumnya KPK memeriksa empat pimpinan Badan Anggaran sebagai saksi terkait suap di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Setelah serangan balik DPR mentok karena lini pertahanan KPK masih terlalu tangguh, serangan balik kedua pun kembali dilancarkan, bersamaan ketika KPK mengumumkan untuk kembali memeriksa dua Wakil Ketua Badan Anggaran yakni DPR, Tamsil Linrung dan Olly Dondokambey. Sayang, serangan balik DPR yang kedua kembali kandas, karena KPK menolak untuk memenuhi panggilan DPR.

Malahan, KPK berpeluang untuk memperbesar keunggulan setelah Tamsil dan Olly bersedia hadir dan memenuhi panggilan KPK pada 3 Oktober nanti. Bahkan, Tamsil siap-siap angkat topi setelah menyatakan bersedia mundur dari DPR, dengan alasan capek dengan gaya permainan serang-menyerang dalam politik. Hal tersebut tentu saja membuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk sementara berada di atas angin. Selain karena bisa menyeret para politikus DPR, KPK juga berhasil mempertahankan ritme permainan dengan citra yang baik di depan suporter ( baca ; publik), serta berhasil menjaga kerawanan intervensi politik.

Sanggupkah KPK tetap bermain konsisten seperti harapan publik untuk terus mengusut tuntas indikasi korupsi bukan hanya di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, tetapi juga di lembaga/instansi yang lainnya? Sanggupkah KPK memperlihatkan tajinya untuk meringkus para koruptor bukan hanya koruptor kelas Osasuna tetapi KPK bisa melibas para koruptor sekelas Barcelona?

Menarik untuk terus disimak, mengingat lawan KPK tidak akan pernah berhenti untuk melancarkan serangan balik, seperti manuver Badan Anggaran di Senayan yang "mogok" membahas Rancangan APBN 2012. Semoga KPK bisa tetap bermain konsisten sesuai harapan publik, dan bisa kembali mencetak bola untuk memperbesar keunggulan, mengingat waktu yang tersedia masih sangat panjang. Bravo KPK, jangan kecewakan para suporter yang kini terfokus menyaksikan aksi apik di Senayan***

Senin, 19 September 2011

Ketika JK Menjadi Kolektor Penghargaan

Koleksi penghargaan Mantan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla (JK) semakin bertambah. Beliau kembali  menerima penghargaan dari Raja Kamboja, Norodom Sihamoni,dan disaksikan langsung oleh Perdana Menteri Kamboja Hun Sen di Phnom Penh sore ini. Penghargaan tersebut diberi nama Royal Order Sahametrei Officer atau semacam Bintang Mahaputra.

JK dianggap sebagai tokoh perdamaian dunia, yang memiliki jasa yang sangat besar untuk mewujudkan perdamaian dunia, khususnya di kawasan Asia Pasifik. JK adalah orang kedua yang menerima penghargaan tersebut, setelah anggota parlemen Filipina, Jose de Venecia.

Sebelum menerima penghargaan tersebut,  JK akan tampil memberi sambutan dalam seminar sesuai dengan kapasitas JK sebagai Chairman Centrist Asia Pacific Democrat International (CAPDI).
Sebelumnya, JK juga mendapatkan penghargaan berupa gelar doktor honoris causa dari Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, karena dinilai telah ikut andil dalam bidang pemerintahan, politik, ekonomi dan berbangsa. 

Khusus dibidang ekonomi, JK dinilai telah melakukan terobosan dengan berbagai komentar, kebijakan dan aplikasi rill yang dikenal dengan istilah Kallanomics.
Jika JK dianggap tokoh perdamaian dunia khususnya di kawasan Asia Pasifik, oleh Negara Kamboja, bagaimana pandangan rakyat Indonesia sendiri terhadap sepak terjang JK khususnya di bidang keamanan? sekedar menilik kembali kebelakang,  ternyata JK berperan serta dalam mewujudkan perdamaian Aceh, aktor dibalik perjanjian Malino karena konflik Poso, dan upaya meredam konflik bersenjata di Ambon. 

Melihat geliat situasi bangsa yang sekarang kadang memanas, khususnya di bidang keamanan seperti pertikaian di Ambon yang kembali pecah beberapa waktu lalu, riak-riak permusuhan warga Makassar dengan salah satu suku pendatang yang seketika timbul semacam panu, hanya karena ulah seorang oknum, pertikaian yang sudah menjadi tradisi tahunan di UNHAS dll, tidak salah kiranya jika publik kembali merindukan sosok JK dalam upaya perdamaian, bukan hanya di kawasan Asia-Pasifik, tetapi terlebih khusus di dalam Negeri sendiri. 

Gelar tokoh perdamaian terlanjur melekat pada diri JK, sehingga jika ada riak-riak kecil di dalam Negeri, nama beliau selalu dikait-kaitkan oleh sebagian besar publik. “Ah..Andai saja masih pak JK…”, atau, ” Pantas, keadaan makin kacau, kan JK sudah tidak menjabat…” dan sebagainya, dan seterusnya, dan lain-lain…Panjanggggggggggg…

Memang, gejolak yang akhir-akhir ini marak terjadi, tentu saja JK tidak punya wewenang, toh masih ada menteri keamanan, toh masih ada aparat, toh masih ada kepala suku, masih ada gubernur, tetapi menurut hemat saya, tidak ada salahnya jika JK kembali memberikan sumbangsih, bukan saja di bidang ekonomi logika, rill, monorel, tol, kallanomics dan semacamnya, tetapi saya yakin banyak rakyatIndonesia yang merindukan setidak-tidaknya pemikiran JK di bidang keamanan atau perdamaian di dalam Negeri. 

Bukan saja ketika beliau menjabat sebagai Wakil Presiden, tetapi ketika tidak menjabat sekalipun, pengabdian terhadap Bangsa mudah-mudahan tidak pernah berhenti, utamanya dalam mewujudkan perdamaian di dalam negeri. Saya percaya, JK amat teramat mencintai Indonesia, dan saya yakin beliau tiada lelah memberikan sumbangsih, demi tercapainya Indonesia yang aman, adil, dan makmur, InsyaAllah.

Pemikiran-pemikiran beliau, jurus-jurus jitu beliau, semoga menjadi panutan rakyat Indonesia, tanpa mengaitkan dengan politik, apalagi politik pencitraan menyongsong pemilihan Presiden 2014 nanti.
Semoga kita tidak berburuk sangka, toh kalaupun pada akhirnya beliau maju sebagai calon Presiden (saya sendiri belum yakin), saya rasa tidak ada yang salah.  Yang salah dan gegabah jika tiba-tiba saya yang mencalonkan diri, …Hahahaaaa…Salam Kompasiana!

Aksi Memalukan Legislator DPRD Makassar

Sidang paripurna yang digelar legislator DPRD Makassar, yang juga dihadiri Walikota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin berlangsung ricuh kemarin, Senin 19 September. Para legislator saling melabrak meja, sehingga Rapat Paripurna Pengambilan Keputusan terhadap Ranperda Perubahan atas Perda No 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah Kota Makassar diskorsing.

Seperti diketahui, sejak wafatnya Ketua DPRD Makassar Ince Adnan Machmud belum lama ini, wacana pergantian Ketua DPRD Makassar yang baru telah menjadi perbincangan hangat di kalangan anggota dewan. Ketika Ince Adnan Mahmud belum dua malam bersemayam dalam kuburnya, sudah muncul perbedaan pendapat yang ditajam-tajamkan perihal siapa yang harus menjabat sementara ketua DPRD sementara.

Saling klaim tidak bisa dihindari, ibaratnya sekerumunan semut sedang memperebutkan sebutir gula pasir. Dua wakil ketua DPRD, Haedar Majid (Demokrat) dan Busrah Abdullah (PAN) sama-sama mengklaim berhak atas kursi peninggalan Alm. Ince Adnan Mahmud, sebagai  pelaksana tugas ketua DPRD Makassar.
Saling klaim inilah pemicu terjadinya kericuhan pada Rapat Sidang Paripurna kemarin,  lantaran beberapa anggota DPRD Makassar mempertanyakan keabsahan jabatan pelaksana tugas Ketua DPRD Makassar yang dipegang oleh Haedar Majid dari Partai Demokrat.

Rupanya, kubu Busrah Abdullah (PAN) dan Syamsu Nian (PDK) tidak setuju jika pelaksana tugas harian Ketua DPRD Makassar dipegang oleh Haedar Madjid. Tak ayal, aksi gebuk meja memprotes keabsahan jabatan Haedar Majid mewarnai Sidang Paripurna tersebut, yang membuat Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin merasa tidak dihargai bahkan merasa diusir secara tidak terhormat.

Jika berdasar pada peraturan Undang-Undang 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, dan DPRD Kabupaten kota, kemudian Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Tata Tertib, jelas disebutkan pergantian ketua sementara diserahkan kepada Pelaksana tugas (Plt) dalam hal ini kepada Haedar Majid yang menjabat sebagai Wakil Ketua 1.

Tetapi, rupanya kubu Busrah Abdullah (PAN) tidak sepakat, bahkan menyebut dirinyalah yang paling berhak menduduki jabatan tersebut, setelah terjadi kesepakatan dari pertemuan sebelumnya, meskipun dalam pertemuan tersebut tidak sepenuhnya dihadiri unsur pimpinan.

Ah, tidak ada yang aneh di republik ini. Saling klaim, saling menggebrak meja, saling menuding demi menduduki kursi kekuasaan bukanlah cerita yang perlu dibesar-besarkan. Kursi kekuasaan sudah menjelma layaknya Tuhan (atau hantu?) yang tiap saat, patut disembah dengan menanggalkan rasa malu, melipat rapi penderitaan rakyat dalam lemari penyot, dan baru akan dibuka jika musim kampanye kembali tiba. Tetapi, manakala musim kampanye belum tiba, urusan rakyat menjadi urusan nomor ke 196, yang utama tentu saja menyembah Tuhan (atau hantu?)

Ahay…apa kabar Istana hari ini? adakah Menteri yang juga berani menggebrak meja jika di tentang oleh Yang Mulia? menarik dinantikan sambil sesekali melirik rok mini yang dikenakan para penjaga stand di mal atau di atas angkot, ini anugerah, bung. Anu Gratis!!!

Sabtu, 10 September 2011

Pantaskah JK Mendapatkan Gelar Kehormatan Itu?

Mantan Wakil Presiden RI yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia, HM Jusuf Kalla (JK) menerima piagam penghargaan gelar Doktor Kehormatan (Honoris Cause) dari Rektor Universitas Hasanuddin Prof Idrus A Paturusi, kemarin Sabtu (10/9) di Baruga Andi Pangeran Pettarani, Universitas Hasanuddin (UNHAS).

Menurut JK dalam orasinya, untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur, negara harus kuat di sektor ekonomi tanpa mengesampingkan sektor lain. Khusus dalam bidang ekonomi, Indonesia harus menanamkan sikap percaya diri. JK menilai selama ini Indonesia kurang percaya diri mengolah sumber daya alamnya. Hal ini terbukti banyaknya sumber daya alam yang dikelolah oleh pihak asing.
Selain itu, lanjut JK, Pemerintah seharusnya lebih mengutamakan kebutuhan  dalam negeri terhadap energi. Sisanya, barulah di ekspor.

Pada kesempatan yang sama, JK meminta pemerintah untuk menghentikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang mencapai Rp. 100 trilliun lebih, yang menurutnya lebih banyak dinikmati orang kaya. Sebaiknya, subsidi tersebut dialihkan untuk pembangun infrastruktur dan program gas murah untuk masyarakat miskin.

Pemberian gelar Doktor Kehormatan (Honoris Cause) patut diberikan kepada JK melihat terobosan beliau utamanya disektor ekonomi yang menitik beratkan  kemandirian bangsa. Pembangunan tol di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi yang berhasil dibangun dengan tangan sendiri dan bisa menghemat anggaran sampai 50% merupakan bukti nyata jika anak-anak bangsa punya kemampuan dan tidak selamanya tergantung dari Pihak asing.

Terobosan JK lainnya adalah rencana investasi pembangunan monorel ditiga kota yakni Makassar, Bandung dan Surabaya dengan menggandeng perusaahan lokal di daerah masing-masing dan saat ini telah memasuki tahapan negoisasi. Inilah monorel pertama di Indonesia yang dikerjakan oleh perusahaan lokal, dan berdampak baik bagi para pengguna transportasi, dan bisa mengurangi tingkat kemacetan di jalan raya.
Gebrakan di bidang ekonomi JK lebih riil dan mengedepankan efisiensi, kemandirian, transparansi maupun obyektivitas, dengan logika pembangunan yang realitas untuk turut dinikmati masyarakat menengah ke bawah.

Dengan berbagai terobosan yang dilakukan JK di sektor pemerintahan, politik, ekonomi  dan berbangsa, seperti upaya meredam konflik bersenjata di Ambon, Poso dan Aceh, pembangunan jalan tol dan monorel, pemberian bea siswa 1,5 milliar setiap tahun melalui Kalla Educare, dan terobosan lainnya, patutlah jika beliau mendapatkan gelar kehormatan, bukan saja dari pihak UNHAS tetapi dari seluruh rakyat Indonesia.
Selamat sekali lagi selamat atas piagam penghargaan gelar Doktor Kehormatan, semoga tetap menjadi pribadi yang istimewa dan pro rakyat kecil.

Jumat, 09 September 2011

Betulkah Indonesia Negara Hukum?

Indonesia sebagai negara demokrasi telah memantapkan konsep Negaranya sebagai Negara hukum sebagaimana tertuang di dalam pasal 1 ayat (3) UUD 1945 “ Negara Indonesia adalah Negara hukum”. Berpijak dari landasan yuridis tersebut, maka Indonesia menempatkan hukum sebagai “panglima”, hukum bertindak sebagai alat kontrol terhadap kerja-kerja kenegaraan, agar dengan menjadikan hukum patron maka kesewenang-wenangan yang akan terjadi mampu diminimalisir dan berangsur-angsur lenyap dalam Negara yang mendasarkan citanya kepada cita hukum.

Ternyata konsep Negara Indonesia yang berdasarkan hukum masih menimbulkan berbagai macam rasa kecewa, manakala di benturkan pada tataran aplikasi hukum yang masih sangat jauh dari harapan masyarakat, bahkan pada titik ekstrim, mengacu pendapat dari Bapak Dr. Judariksawan, S.H.,M.H., bahwa Indonesia belum dapat dikategorikan sebagai Negara hukum, Negara Indonesia lebih tepat disebut dengan “Indonesia baru mau jadi Negara hukum”, hal tersebut bukanlah tanpa alasan, jika kita berusaha mengamati dengan jernih fakta-fakta empiris yang telah terjadi, dan seolah menjadi penyakit pada oknum-oknum penegak hukum baik dari kepolisian, kejaksaan maupun pengadilan masih menimbulkan berbagai macam persoalan pelik dalam proses penegakan hukum.

Berbagai kasus telah tersaji dengan berbagai macam kemasan yang di perlihatkan oleh media massa, baik media elektronik maupun cetak yang mengomentari bobroknya pola supremasi hukum Indonesia, mulai dari kasus kecil sampai kasus besar yang tak ayal melibatkan orang-orang penting dalam Negara ini, korupsi, mafia hukum, makelar kasus (Markus) adalah potet buram dari lemahnya penegakan hukum, ketidak mampuan penegak hukum memberantasnya dan telah menjadi fenomena gunung es yang sampai hari ini belum mencapai penyelesaian, hal itu diperparah dengan ketidak adilan proses pemberlakuan hukum, terdapat kontradiksi yang sangat tajam antara koruptor yang telah merugikan keuangan Negara dengan kisaran milyaran bahkan triliyunan rupiah dan seorang nenek yang mencuri Kakao, sangat tidak seimbang baik dari kacamata sosial maupun kacamata hukum.

Masih segar pada ingatan masyarakat Indonesia tentang kasus Mbok Mina yang terjadi pada beberapa bulan lalu, seorang nenek tua asal Banyumas yang divonis 1,5 bulan kurungan dengan masa percobaan 3 bulan akibat mencuri tiga buah Kakao, memang secara hukum Mbok Mina adalah pelaku pencurian 3 buah Kakao dan telah terbukti secara hukum, akan tetapi alangkah lebih pantas jika para penegak hukum melihat lebih arif kasus tersebut dengan pendekatan sosiologi dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Prof. DR. Achmad Ali, S.H., M.H., pernah berucap “melihat masalah hukum jangan menggunakan kaca mata kuda, tetapi harus dilihat secara holistic,” oleh karena itu para penegak hukum harus mampu melihat dan memetakan hukum secara sempurna apa tak lagi dalam proses penemuan hukum (Rechtvinding) dengan tepat, apa tak lagi seorang hakim yang berkewajiban memutus perkara dari kasus-kasus konkrit yang terjadi pada masyarakat dan yang paling urgen adalah bahwa para penegak hukum jangan terpaku pada kajian normatifnya saja, sebuah kisah tragis bahkan memilukan serta mengiris sanubari kita, dari proses penegakan hukum yang terjadi di Negara ini, Seorang nenek yang mestinya dilindungi oleh Negara ternyata menjadi korban dari penegakkan hukum yang sangat positifistik.

Kasus serupa terjadi pula di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Batang, kasus pencurian Kapuk yang dilakukan oleh Ibu Manisih dan dua anaknya serta sepupunya ke empatnya ditahan karena dituduh mencuri buah Kapuk seharga Rp 12 ribu.
Kisah pahit itu bermula ketika keempatnya kedapatan membawa sekarung kecil buah randu seberat 14 kg di perkebunan milik PT Segayung di Desa Sembojo, Kecamatan Tulis, pada awal November tahun lalu. Keempatnya kemudian dilaporkan ke polisi dengan tuduhan mencuri buah kapuk oleh satpam perusahaan yang memproduksi kapuk tersebut.

Di hadapan polisi, keempatnya mengaku hanya mencuri atau memetik buah kapuk itu dari pohon. Menurut mereka, buah kapuk itu mereka pungut dari tanah yang merupakan sisa panen. Proses hukum pun terus berlanjut dan keempatnya kemudian ditetapkan sebagai tersangka pencurian.
Manisih dan dua anaknya yang masih di bawah umur itu dikenakan pasal 363 KUHP tentang pencurian. Sebagai barang bukti, polisi menyita 2 buah galah sepanjang 3,6m, tali plastik dan sabit. Akhir dari kisah tersebut beujung pada penahanan keempat orang tersebut dan akan dilimpahkan ke pengadilan karena berkasnya telah lengkap.

Dua kasus diatas menjadi rujukan betapa bobroknya pola penegakan hukum di Negara ini, sangat bertolak belakang atau kontradiktif terhadap kasus besar seperti korupsi yang mewarnai kehidupan bangsa ini, aparatur hukum seolah lambat dan terkesan kurang serius dalam proses penanganannya, kasus Bank Century, adalah bukti lambatnya proses penegakkan hukum yang sampai hari ini masyarakat belum mendapatkan titik terang tentang kasus tersebut, padahal dana yang dikucurkan terhadap Bank Century tidaklah sedikit.

Proses pengucuran dana mencapai Rp 6,7 Triliun yang didapat berdasarkan laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan, angka yang sangat tinggi, dan harus diusut sampai tuntas, apa tak lagi dengan mengacu hasil keputusan Panitia Khusus Angket Century DPR-RI, yang menghasilkan bahwa terdapat indikasi pelanggaran hukum terhadap kasus pengucuran dana kepada Bank Century sebesar Rp 6,7 Triliun, terlepas keputusan tersebut merupakan keputusan politik dari wakil rakyat di Senayan, akan tetapi dari hasil keputusan tersebut yang menyerahkan kasus Bank Century kepada Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepolisian dan kejaksaan, setidak-setidaknya menjadi bahan renungan dan rujukan bagi penegak hukum dan segera mengambil langkah tegas terhadap kasus tersebut dengan tanggap dan trasnsparan agar tidak menjadi bola liar dan akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang akan mengambil keuntungan dari kasus tersebut.

Setelah kasus Bank Century, menyusul kasus-kasus besar lainnya. Kasus mafia pajak oleh gayus dan kasus korupsi yang dilakukan oleh Nazaruddin, serta beberapa kasus kelas kakap lainnya yang umumnya dilakukan oleh pejabat, meskipun “terkesan” diadili, tetapi rakyat sudah tahu jika pengadilan dan (mungkin) hukuman bagi para koruptor sama sekali tidak setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan.
Narasi diatas merupakan gambaran betapa hukum telah dinodai oleh para penguasa, hukum dijadikan alat kekuasaan, dia tidak lagi bertaring untuk membawa kedamaian dan keadilan, Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 seolah tanpa pengamalan dan hanya menjadi hiasan semata dalam konstitusi Indonesia, seyogyanya Negara berdasarkan hukum harus mampu menjadi pengayom seluruh warganya, megedapankan Hak Asasi Manusia, tidak menyengsarakan wargnya dengan tidak adanya kepastian hukum, hukum harus dilihat secara filosofis dan substantif, dan jangan hanya terpaku pada normatif semata.

Berbagai kasus yang telah terjadi dan menyedot perhatian masyarakat seharusnya menjadi pelajaran berharhga bagi para penegak hukum, untuk memperbaiki kinerjanya, agar kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum hidup kembali, pada tataran ideal hukum harus memberikan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi komponen masyarakat, itu akan tercapai jika aparatur penegak hukum bersikap bijak dan mengembalikan cita hukum kepada asalnya dan akan bermuara pada tercapainya keadilan.

Negara yang berdasarkan hukum, adalah Negara yang mengamalkan konstitusinya dengan sempurna, konsepsi Negara hukum yang berdasarkan the rule of law, harus dibangun dengan supremasi hukum, kesamaan didepan hukum, dan prosedur hukum yang adil, tegasnya untuk menghidupkan konsep Negara hukum maka keserisuan dan pemaknaan serta pengaplikasian adalah hal mutllak, Negara hukum akan rapuh jika sebatas teori ataupun konsep belaka, bukan sekedar pemanis mulut untuk mengklaim bahwa Indonesia adalah Negara berdasar hukum, yang terpenting adalah pola aplikasi yang konsisten dengan mengedepankan nilai-nilai keadilan, karena keadilan adalah hal mutlak untuk Negara hukum.
Baru-baru ini, drama hukum kembali dipentaskan dan menimpa artis Saipul Jamil dengan ancaman hukuman 6 tahun. Seperti diketahui, istri Saipul Jamil Virginia Anggraeni tewas dalam kecelakaan di tol Cipularang, yang saat itu dikemudikan oleh Saipul Jamil. Atas dasar kelalaian, ahkirnya Saipul Jamil terancam dipenjara 6 tahun. Oke, anggap saja Saipul Jamil benar-benar lalai dalam kecelakaan tersebut, tetapi apakah pantas diancam hukuman 6 tahun penjara tanpa memperhatikan aspek kejiwaan, kemanusiaan dan keadilan?

Jika benar Saipul Jamil diganjar hukuman 6 tahun, bagaimana dengan Gayus, Nazaruddin dan koruptor lainnya yang sudah termasuk penjahat kemanusiaan yang bisa disejajarkan dengan para teroris? Bukankah mereka sama saja seorang pembunuh bukan hanya seorang tetapi menjadi pembunuh bagi seluruh rakyat Indonesia? Ah, jangan berharap banyak hukum bisa melindas para koruptor itu. Toh, koruptor yang dihukum pun masih dielu-elukan dengan hadiah Kemerdekaan berupa remisi. Jadi, pantaskah Indonesia disebut Negara Hukum? Yang betul, Indonesia baru belajar menjadi Negara hukum dan hawa kegagalan dalam aspek hukum semakin terasa gerah!

Haruskah Mendukung Nadina Dalam Kontes Selangkangan Itu?

Saya tiba-tiba saja menjelma menjadi seorang perempuan muda, yang tidak mau ketinggalan tren atau mode. Apalagi, saya tinggal di kota besar dengan segala aktivitas yang menuntut saya tampil bukan hanya prima, tetapi harus istimewa, menarik dan seksi.

Sejak lima tahun yang lalu, jilbab atau kerudung maupun blus terusan lengan panjang menjadi penghuni rak bagian bawah, bercampur dengan tumpukan buku-buku tidak penting, dan saya hanya meliriknya jika kebetulan ada acara takziah keluarga atau sedang melayat ke rumah kerabat. Selebihnya, pakaian tersebut kembali meringkuk di dalam rak meratapi nasibnya yang tidak bisa bertahan dengan tren pakaian masa kini.

Tentu saja saya harus memperhatikan penampilan saya. Bukan hanya dalam pemilihan busana, tetapi saya harus jitu memilih keserasian warna. Kalau mau menemui klien laki-laki misalnya, saya biasanya memilih warna yang lembut, sedikit ketat, belahan dada sedikit terbuka, dan ujung rok bagian bawah harus sejengkal lebih tinggi diatas lutut.

Saya akan berlenggok menuju sofa disebuah kafe, meniru cara jalan Julia Perez, tersenyum sedikit binal ala Dewi Perssik, lalu bicara lembut sedikit mendesah meniru gaya bicara Syahrini sambil sesekali membasahi bibir dengan lidah persis kucing melihat tuannya melumat daging.
Ketika saya menghadiri pesta yang mewah, saya memilih pakaian yang agak gelap, dengan kilauan renda dan manik-manik yang mengesankan, dan alangkah senangnya ketika para tetamu melirik, mengulurkan tangan untuk berdansa, lalu berbisik, “malam yang sempurna!”.

Sekarang, saya lagi pusing mencari tren dan gaya baru. Majalah lifestyle tidak cukup membantu, saran rekan kerja terkesan kampungan, dan mal yang ada di kota saya hanya membidik pelanggan kelas rendahan! Sorry Laa..You,,,Enggak usya dehhh…Aih,,,Syubbehannallah…Kagak modis banget!
Saya seketika tergila-gila dengan penampilan para miss universe yang tidak hanya cantik (seperti saya), punya wawasan luar (saya buanget) juga berpenampilan menarik dan seksi. Alangkah sempurnanya penampilan saya jika seandanya bikini para miss itu melekat di tubuh saya. Alangkah anggun dan seksinya tubuh saya jika saja pakaian Nadina Alexandra Dewi Ames, calon putri dari Indonesi tercinta tiba-tiba saya kenakan.

Berhari-hari saya mencari merk dan jenis pakaian calon puteri sejagat itu di internet, menelpon teman di luar negeri dan menambah koleksi majalah mode. Saya ingin seperti mereka. Menarik dan seksi-seksi. Saya sudah membayangkan memakai bikini ditepian pantai, saya sudah membayangkan memakai pakaian Nadina menemani klien menghabiskan akhir pekan ditepi kolam renang hotel, saya sudah membayangkan diri saya menjadi miss words sesungguhnya. Miss Alam Panrita yang seksi tiada terkira, yang bisa membuat biji mata siapa saja melompat keluar sambil menelan ludah.

Aih,,,kuno! Ternyata busana Nadina, puteri Indonesi yang tercinta masih kalah tajir dibanding miss negara asing lainnya. Saya pun membidik cara busana miss universe Colombia, Catalina Robayo. Tidak bisa tidak! Saya harus bisa tampil seperti Catalina. Ah! Sayang Nazaruddin sudah tertangkap ketika ngumpat di Colombia sana. Kalau tidak, saya pasti “nitip” dibeliin busana ala Catalina! Oups…Aaah…Syubbehanallah…

Jika pembaca ingin mengetahui kenapa saya begitu tergila-gila dengan cara busana “Gatalina!” karena saya mengikuti perkembangan tren dan mode, mengenakan gaun mini warna koral aduhai menawan, tanpa celana dalam ketika hadir dalam penampilan resminya bersama 89 kontestan termasuk Nadina di Sao Paulo, Senin (5/9/2011). Yang lebih menarik, dan tentu saja saya ingin seperti itu, karena Catalina, perempuan calon puteri sejagat raya berusia 22 tahun ketahuan tidak memakai celana dalam sempat diabadikan wartawan surat habar lokal dan terpampang di headline keesokan harinya.

Keluarga saya di rumah yang kuno, menganggap miss universe tiada lain adalah kontes cabul yang mengumbar syahwat, sedangkan teman sekantor saya, teman komunitas saya, yang ketinggalan mode, menganggap kontes miss universe hanyalah ajang pamer selangkangan dan payudara, sedangkan saya sendiri menganggap ajang tersebut luar biasa istimewa dan tidak tertutup kemungkinan, gaya busana Catalina tanpa celana dalam itu akan menjadi tren yang bukan saja diikuti oleh saya, tetapi juga diikuti oleh banyak wanita di dunia tidak terkecuali di Indonesia.

Jangan heran jika tingkat kejahatan pelecehan seksual seperti pemerkosaan semakin merajalela di Indonesia! Siapa yang bisa tahan dengan bau parfum yang menyengat dengan busana bebas sensor seperti itu? beberapa waktu kemudian, jangan heran jika rak lemari paling bawah saya semakin sesak bukan hanya dengan jilbab, kerudung, tetapi bertambah sesak dengan kutang dan celala-celana dalam yang tiada berguna itu!***

Menuju Kota Serambi Maksiat?

Setelah puas menelusuri Hollywood dan California, setelah puas menyaksikan hingar bingar kota ditemani Kate Hudson, saya memutuskan meninggalkan kedua kota yang biasa-biasa saja itu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwasanya saya berasal dari negeri yang aman, damai dan makmur, jadi manakala menyaksikan kota lain semisal Hollywood atau California, perasaan saya biasa-biasa saja. Meskipun kepadatan penduduk dan kepadatan kendaraan di kedua kota tersebut tidak kalah bakhan lebih padat dibanding kota-kota lain, tetapi kedua kota tersebut masih jauh dari kemacetan, para penduduk dikedua kota tersebut makmur-makmur, pemerintahnya juga tampak jitu menerapkan tatanan kota yang aduhai menawan. Meskipun kendaraan padat, tetapi jalan-jalan dikedua kota yang sedikit menandingi kota saya itu jauh dari kesan semrawut dan macet.

Maka kuputuskan untuk secepatnya meninggalkan Hollywood dan California yang biasa-biasa saja itu. Jika hanya mau melihat negeri makmur, jika hanya mau melihat tatanan kota yang aduhai molek, jika hanya mau melihat mobil melaju diatas kecepatan rata-rata di jalan raya, kurang apa negeri saya yang tiada satu negeri di dunia pun yang bisa menandingi keamanan, kedamain dan kemakmurannya itu? untuk apa saja jauh-jauh melancong ke mari?

Setelah pamitan dengan Kate Hudson ala barat seperti yang sering kita saksikan di film-film barat yang berhasil mengelabui nilai-nilai budaya negeri saya, budaya bebas sebebas-bebasnya seperti layang-layang putus, saya pun mencari negeri yang baru. Negeri yang tidak biasa-biasa saja. Saya melanjutkan perjalanan ke Bollywood, ketemu dan berkenalan dengan penyanyi chayya-chayya, kemudian saya terbang ke Macau, menghabiskan malam di taman-taman kota yang indah tertata rapi, memandangi kerlap-kerlip lampu kota di Leal Senado, taman keabadian, ikut berjudi di kasino, berdecak kagum menyaksikan deretan gereja-gereja yang konon lebih banyak dibanding jumlah gereja di Patikan, mengagumi bangunan-bangunan neoklasik berciri Mediterania, mengamati mozaik-mozaik unik di lantai Senado Square, lalu terus ke puncak Ruins of  St. Paul’s yang megah mirip-mirip kota saya.

Tetapi, lantaran saya berasal dari kota yang tiada tandingannya di dunia, saya pun menganggap keindahan kota Macau biasa-biasa saja, dan rasa bosan saya membuncah dan rasanya tidak ada alasan yang bisa membuat saat bertahan di kota itu. Sekali lagi, kalau cuma ingin menyaksihan keindahan kota, kemegahan bangunan, tatanan kota yang aduhai molek seperti tubuh Miyabi, artis kesayangan saya, tidak mungkin saya jauh-jauh ke kota Macau yang biasa-biasa saja.

Saya pun bertanya kepada para penjudi di kasino, adakah gerangan kota lain yang bisa membuat saya merasa nyaman dan betah? jika saya bisa menemukannya, saya pasti akan tinggal lebih lama lagi. Banyak saran dari para borjuis, teman baru saya di kasino. Ada yang menyarangkan ke Singapura, katanya kota Singapura tidak kalah mewah dibanding Texas, California atau Macau, ada yang menyarankan ke Swiss, ada yang menyarankan ke Italy, bahkan ada yang menyarankan ke Indonesia.

“Mau cari kota yang beda, Tuan?” , kata pelayan kasino yang akhirnya keketahui berasal dari Indonesia dan bekerja sebagai pelayan kasino, sambil merapatkan mulut ke telinga saya, pelayan bertubuh molek halus itu setengah berbisik sambil tersenyum tipis, “Datanglah ke Indonesia, tetapi jangan mendatangi Bali!”.
Atas saran pelayan kasino itu, saya tidak pikir panjang lagi. Saya melanjutkan perjalanan ke Indonesia sesuai petunjuk sang pelayan. Dengan peta di tangan, dengan mudah saya menjajaki kota-kota besar di Indonesia.

Ahay…! Ternyata Indonesia kota impian gue banget, gitu lo…Benar-benar berbeda dibanding puluhan kota yang telah saya kunjungi. Saya disambut hangat bak raja oleh para demonstran di bundaran HI yang menuntut Gayus dan Nazaruddin di penggal, saya dielu-elu oleh puluhan ribu suporter PSSI ketika saya ikut nonton di stadion Gelora, bahkan, begitu saya datang, genderang penyambutan segera mereka tabuh. Mercon, kembang api, petasan menyambut saya dengan suka cita. Bahkan, mereka mengusir pemain Bahrain yang menjadi lawan Timnas waktu itu. Lebih gila lagi, para suporter itu mengusir Presidennya sendiri. Wow! saya benar-benar tersanjung dan tentu saja saya berterima kasih sebanyak lima puluh kilo kepada pengangum saya.

Setelah bubar, saya menuju hotel dengan mobil merangkak seperti kura-kura yang berjalan diatas tumpukan lem. Lambat akibat macet yang sungguh, saya begitu menikmati kemacetan itu. Luar biasa! ternyata kota idaman saya telah berhasil saya temukan.
Keesokan harinya, atas saran petugas lobi hotel, saya kembali terbang menuju pintu gerbang kota bagian timur yang tak kalah menariknya. Ya! Makassar menyambutku dengan hangat, angin mammiri bertiup sepoi-sepoi namun tidak bisa mengusir kegerahan kota. Demonstrasi terjadi di mana-mana, ada yang menuntut Presidennya mundur, ada yang menuntut remisi untuk koruptor dicabut, ada yang menuntut Malaysia di ganyang, Gayus dan Nazaruddin di hukum mati, ada pula yang meminta penghentian ekspor TKI ke luar negeri. Luar biasa meriah, luar biasa pesta demokrasi yang belum saya saksikan sekalipun di kota saya.

Seperti halnya di kota-kota besar di Indonesia, semisal Jakarta, Surabaya dan Medan, ternyata Makassar lebih padat dari yang saya perkirakan. Kota Makassar menjelma menjadi kota banjir! banjir air ketika musim hujan, banjir kendaraan yang jumlahnya tidak sesuai dengan lebar jalan dan tatanan perkotaan, banjir sampah di sana-sini, di kanal-kanal, di pasar-pasar tradional, yang pada akhirnya menghasilkan banjir semrawut dan banjir bau yang menyengat hidung.

Selain itu, banjir manusia juga terjadi. Kepadatan penduduk melumpah-ruah dengan wajah-wajah asing, entah dari kota mana, terus, banjir korupsi juga tidak bisa terelakkan seolah-olah tidak mau ketinggalan dengan kota lain, banjir air mata terjadi di mana-mana, kebakaran menelan korban jiwa dan benda yang tidak sedikit, dan yang membuat saya betah bahkan memutuskan untuk tinggal di kota ini karena ternyata kota ini barangkali sedang merangkak menuju serambi maksiat. Tidak bisa dipungkiri, kejahatan telah merajalela, tiap hari saya mendengar pembunuhan, perampokan, penculikan dan perkelahian. Beda pendapat, baku tikam. Beda keyakinan, baku hantam. Beda baju, beda asal daerah, beda, partai, beda kepentingan baku sikut.

Sementara itu, ditempat berbeda, Gubuk-gubuk kumuh mengerang menahan sakit di gilas bangunan gedung pencakar awan, anak-anak  dan perempuan tua tertahih merintih dengan kaleng kosong di lampu merah, bocah-bocah dekil yang seharusnya duduk manis di bangku sekolah, menari-nari mengais dan memulung sampah, menjadi pengemis di negeri sendiri, menjadi pemulung di kota sendiri.

Lebih menggiurkan, panti-panti pijat plus bukan lagi rahasia umum jika melakukan praktik  prostitusi, kafe-kafe menjadi tempat transaksi seks, hotel-hotel selalu padat dengan pengunjung yang berpasang-pasangan, tempat hiburan malam tumbuh bak cendawan di musim hujan, pelacur-pelacur kota tidak lagi sukar ditemui, mereka berjejer di sepanjang jalan menawarkan kehangatan kepada pengemudi, tanpa rasa berdosa apalagi merasa malu.

Dikawasan Nusantara, puluhan bahkan ratusan penjaja seks menghuni rumah karaoke dan bar, ribuan botol bir beredar setiap malam, narkoba merajalela, kumpul kebo meraja durja.
Inilah kota impian saya selama ini. Kota yang luar biasa istimewa dengan hingar-bingar manusia sepanjang hari, siang-malam. Seribu macam wajah, seribu macam warna, seribu macam kelezatan duniawi tersaji di atas meja makan.

Untuk apalagi saya melancong? untuk apalagi saya kembali ke negeri saya yang aman, damai dan makmur itu? saya memutuskan untuk menetap di kota baru saya, bercampur-baur dengan para penikmat dunia, ikut menenggak minuman keras, ikut berpesta sabu, terbahak-bahak setelah menyedot ganja, menikamati tubuh-tubuh pelacur, menjadi kuli proyek (20%-20%, diel?), ikut meneriakkan tentang negeri yang sedang sakit, tentang hukum yang jadi barang dangangan, tentang nurani dan moral yang mudah didapat seharga seribu. Inilah kotaku, kota serambi maksiat, dan saya menjelma menjadi seekor binatang berhati iblis!***

Anda yang Tidak Pantas Melatih Timnas,Bung!

Begitulah dalam permainan sepak bola: menang terbang, kalah tumbang! menang dipuji, kalah dicaci-maki! tentu kita masih ingat bagaimana gemuruhnya Stadion Utama Gelora Bung Karno  setelah Indonesia menang atas Turkmenistan 4-3 dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2011 zona asia. Para suporter baik yang ada di dalam stadion, maupun diluar stadion bersorak gegap-gempita, memuji dan mengelu-elukan Bambang Pamungkas  dkk.

Tetapi, manakala Timnas kalah, seperti yang terjadi di tempat yang sama ketika timnas kalah 0-2 melawan Bahrain, Bambang Pamungkas dkk pun menuai kritik dari berbagai pihak. Fenomena ini tentu saja tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi nyaris disemua Negara. Bahkan, bukan hanya dalam sepak bola, melainkan disemua cabang olahraga.

Yang jadi masalah, bukanlah menang-kalahnya timnas, toh kalah menang dalam sepak bola adalah hal lumrah. Tetapi, bagaimana kekalahan tersebut bisa disikapi dengan bijak. Seharusnya pasca kekalahan timnas melawan Iran di kandang lawan sebelum menghadapai Bahrain, dijadikan momentum kebangkitan timnas. Kurang apa coba! Bahrain bukanlah tim yang terlalu tangguh jika dibandingkan dengan tim macan asia lainnya seperti Jepang atau Korea Selatan, dengan kata lain Bahrain masih selevel dengan Indonesia, baik dari segi permainan maupun rangking kedua negara yang tidak jauh beda. Selain itu, timnas bermain di kandang sendiri, disaksikan oleh puluhan ribu suporter, bahkan Bapak SBY turut hadir memberikan semangat.

Saat pertandingan timnas melawan Bahrain beberapa hari yang lalu, timnas seharusnya menang dan tak ada alasan untuk kalah merujuk kondisi kedua tim yang sepadan, sedangkan timnas memiliki keuntungan karena bermain di kandang sendiri. Toh, jika pada akhirnya timnas keok di kandang sendiri, jika pada akhirnya timnas mengecewakan seluruh rakyat indonesia termasuk Bapak SBY yang memutuskan meninggalkan stadion sebelum pertandingan selesai, tidak sepantasnya jika kesalahan sepenuhnya dilimpahkan kepada para pemain.

Bambang Pamungkas dkk telah berjuang hidup-mati di lapangan, tetapi justru menjapat hujatan setelah kalah dari lawan. Bahkan, pelatih timnas Wim Rijsbergen mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwasanya pemain timnas tidak layak bermain di level Internasinal dengan kata-kata kasar dan makian kepada para pemain timnas, dan sang pelatih meminta pemain-pemain baru agar bisa mengembangkan permain. Apakah ada jaminan jika pemain baru yang Wim minta bisa mendongkrak prestasi timnas? mengingat Bambang Pamungkas dkk merupakan pemain-pemain terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini? tidakkah keinginan  Wim justru akan lebih menghancurkan kekuatan timnas mengingat kekompakan sebuah tim sulit tercipta dalam waktu cepat? padahal, timnas dalam waktu dekat sudah harus berjibaku dalam lanjutan Pra Piala Dunia sona Asia.

Wim Rijsbergen seharusnya mengoptimalkan kekuatan timnas yang ada saat ini dan merangkul para pemain. Bukan malah menghujat para pemain dengan kata-kata kasar yang tentu saja bisa meruntuhkan moral dan semangat pemain, yang pada akhirnya timnas akan terpuruk dalam kondisi kehilangan sopport dari pelatih, dan bisa ditebak, jika ini benar-benar terjadi, timnas akan kalah sebelum beranding. Melihat konflik yang semakin memanas antara pelatih dan para pemain timnas saat ini, melihat sosok pelatih Wim yang terkesan lempar tanggung-jawab dan temperamental, menyalahkan pemain tanpa sedikitpun ia merasa bersalah, dengan tegas saya katakan jika Wim Rijsbergen tidaklah lebih baik dari pelatih timnas sebelumnya seperti Alfred Rield, bahkan Wim sama sekali tidak pantas melatih timnas dengan sikap temperamentalnya yang bukan saja melukai hati pemain timnas, tetapi sudah mencederai hati seluruh rakyat Indonesia.

Rabu, 07 September 2011

Inilah Pembunuh Hasrat Seks Setiap Pasangan

Seks merupakan hal yang penting bagi setiap pasangan. Selain untuk menyalurkan hasrat biologis dan untuk mendapatkan keturunan, seks juga diyakini memiliki beberapa manfaat psikologi. Meskipun demikian, setiap pasangan tidak selamanya bisa menyalurkan hasrat seksualnya secara leluasa. Bukan berarti menganggap pasangannya sudah tidak menarik, tetapi semata-mata karena salah latu dari pasangan tersebut lagi tidak ingin melakukannya. Mengapa?
Banyak faktor yang bisa mempengaruhi menurunnya hasrat seks setiap pasangan. Silahkan diintip:

1. Depresi

Duka cita yang mendalam atau depresi, selain bisa merupakan prakuartor penyakit autoinum tertentu seperti artritis rematoid atau kanker, juga bisa mempengaruhi merosotnya hasrat seksual terhadap pasangan. Depresi yang bisa membunuh hasrat seksual setiap pasangan dikenal dengan istilah depresi klinik, yang secara langsung mempengaruhi kesehatan fisik.
Usaha yang bisa dilakukan untuk menghambat terjadinya depresi antara lain dengan cara komunikasi secara intens setiap pasangan. Suasana yang nyaman juga banyak membantu. Selain itu, rasa humor yang tinggi juga bisa menghambat terjadinya depresi.

2. Andropause dan Menopause

Menopause terhadap wanita ditandai dengan berakhirnya siklus menstruasi. Pada saat wanita mengalami Menopause, bisa dipastikan wanita tersebut tidak bisa lagi hamil. Selain itu, gairah seksualisnya secara otomatis akan berkurang. Perubahan status hormonal ini biasanya berlangsung diusia 45 tahun-usia 55 tahun. Tetapi secara statistik, Menopause terjadi pada wanita berusia 50 tahun 5 bulan.
Bagaimana dengan pria? sama halnya dengan wanita, pada pria juga dikenal istilah Andropause. Andropause pada pria ditandai dengan menurunnya level testosteron. Walaupun tidak segawat dengan wanita dengan penurunan level estrogennya, tetapi penerunan level testosteron bisa mengakibatkan hasrat seksual pada pria ikut menurun. Biasanya, Andropause pada priai mulai terjadi di kisaran usia diatas 40 tahun.

Andropause dan manopause bagi setiap pasangan tidak bisa dihindari. Meskipun demikian, ada beberapa cara untuk menghambat datangnya kedua pembunuh hasrat seksual tersebut. Salah satunya adalah menghentikan kebiasaan merokok. Sesuai penelitian, zat yang terkandung pada rokok bisa mempercepat menurunnya kemampuan tubuh untuk memproduksi hormon. Dan bagi perokok wanita, berhati-hatilah karena menopause bisa datang diusia dini.

3. Disfungsi Ereksi dan Ejakulasi Dini

Disfungsi ereksi dan ejakulasi dini pada pria bisa mengakibatkan impoten jika tidak ditangani secara serius. Meskipun demikian, disfungsi ereksi dan ejakulasi dini merupakan penyakit umum yang bisa disembuhkan. Konsultasi  ke dokter adalah salah satu solusi untuk keluar dari masalah tersebut.
Pada umumnya bagi pria, kedua penyakit tersebut dianggap sebagi penyakit yang memalukakan. Pria akan merasa takut dan khawatir tidak bisa memuaskan pasangannya. Nah, dalam masalah ini, pihak wanita  ikut memegang peranan penting. Wanita harus memberikan semangat kepada pasangannya. Wanita harus menegaskan kepada pria jika wanita selalu mencintai pasangannya apa adanya. Jangan biarkan pasangan anda kehilangan harga diri di depan anda.

4. Stres

Stres bisa dialami siapa saja baik pria maupun manusia. Meskipun demikian, menurut penelitian Dr. Hans Selye, pelopor peneliti masalah stres, berpendapat jika pada umumnya pria lah yang lebih dominan terserang penyakit tersebut. Posisi pria sebagai kepala rumah tangga dan bekerja lebih aktif dibanding wanita adalah salah satu penyebab terjadinya stres.

Salah satu cara untuk  mengurangi atau menghilangkan stres adalah menciptakan suasana nyaman dan santai baik di rumah maupun di tempat kerja. Sebagai seorang pria, menciptakan jiwa petarung sangatlah membantu. Pria petarung biasanya sangat jarang kehilangan sikap, menganggap kegagalan atau kehilangan pekerjaan dengan santai tanpa sikap putus asa. Selain itu, dorongan semangat wanita terhadap pasangannya juga bisa membantu mengurangi resiko stres. Mendengarkan musik, suka humor, dan menulis juga diyakini bisa menghambat stress.

5. Kelelahan

Setiap pasangan yang mengalami kelelahan biasanya memilih untuk segera tidur daripada bermesraan dengan pasangan masing-masing. Manusiawi, dan setiap pasangan seharusnya bisa memaklumi keadaan tersebut. Meskipun demikian, olahraga secara teratur adalah salah satu cara untuk membuat tubuh tetap bugar dan sedikit membantu mengatasi kelelahan.
Demikianlah beberapa tips yang bisa dikemukakan, semoga bisa membantu.
(Sumber: Tribun Online, Ina Maharani, buku 10 Tahun Lebih Muda karangan Dr.David Ryback)

Senin, 05 September 2011

Ketika Bapak Melabrak Meja, Diam Adalah Solusi Paling Aman!

Perayaan HUT RI ke-66 tahun ini terasa istimewa. Bukan hanya bertepatan dengan datangnya bulan puasa, tetapi istimewa karena jauh-jauh hari pemerintah sudah menebar ribuan paket labaran. Tidak tanggung-tanggung! paket itu bukan berupa kantong kresek berisi mentega, gula pasir dan syrup, tetapi nilainya jauh lebih mahal dan nyaris didambahkan setiap yang namanya manusia. Maka berbahagialah kita sebagai rakyat karena memiliki pemimpin yang bersifat pemurah. Tetapi, bagaimanapun juga, Negara tak ubahnya panggung sandiwara yang tidak hanya dihuni oleh para pemeran yang baik budi, tetapi juga ada peran antagonis yang selalu berkelebat bak kelelawar mengintip buah langsat! pernah lihat kah?

Salah satu yang tidak setuju dengan kado HUT RI ke-66 sekaligus menjadi paket lebaran dari pemerintah adalah Pak Juki. Ketika Pak Juki dan Putrinya, Anna sedang nonton TV di ruang tengah, tiba-tiba saja Pak Juki melabrak meja dan membuat Putrinya tersengat kalajengking. Kalau yang ini pasti pernah lihat kan?
“Bangsat! nurani pemerintah kita betul-betul telah tewas! Koruptor kok diberi remisi?”, Pak Juki berkacak pinggang sambil menonjok kearah TV yang sedang menyiarkan acara bagi-bagi kado kepada para koruptor, “Hampir mampus rakyat menderita karena ulah mereka, tetapi dengan mudahnya mereka mendapatkan remisi.” Hujat Pak Juki berapi-api dan kali ini jarak antara Pak Juki dengan layar kaca tinggal beberapa jengkal. Kalau tidak sedang puasa, mungkin saja TV tersebut dikira gulai kambing!

“Lho, apa salahnya Pak? pemberian remisi kan sudah diatur dalam undang-undang!”, bahwasanya setiap warga Negara berhak untuk mendapatkan remisi, baik berupa diskon hukuman, maupun yang langsung bebas! ini demokrasi, Pak! hati-hati kalau bicara. Salah-salah, kita yang digilas!”, Kicau Anna mencoba meredam lahar panas yang menyemburat dari mulut purba Pak Juki secara kritis.

“Tetap saja salah! koruptor itu bukan penjahat biasa. Mereka penjahat kemanusiaan yang merugikan rakyat dan Negara. Mereka sama halnya Nurdin M. Top. Koruptor dan teroris pantas membusuk di penjara, atau kalau perlu di tembak mati…!”, jika pembaca pernah melihat raut muka MR.Bean ketika sedang marah, mirip itulah raut muka Pak Juki ketika berbalik 360 derajat kearah Anna. Dan jika tiba-tiba saja baju kerja pembaca licin mengkilap padahal belum dicuci dan distrika, tidak usahlah heran karena kerutan itu kini menempel di dahi Pak Juki yang kian kusam.

“Wealah, Pak! kita ini hidup di Negara Hukum. Segala perbuatan dan kebijakan harus berdasar dengan undang-undang. Koruptor dihukum itu karena undang-undang. Sebaliknya, koruptur diberikan remisi juga karena undang-undang! sebaiknya kita sibuk saja mikirin mudik, Pak. Mau naik angkot apa rental mobil? jangan buang-buang ludah dengan remisi-remisian lagi. Tak ada gunanya!” nada suara Anna perlahan mengecil dan melambat seperti transistor kehabisan baterei.

“Walah..Walah…Anak Bapak kok jadi pecundang begitu? apakah gundukan Nasionalis dalam nuranimu sudah ikut terkikis habis? apakah kau tidak merasa tercederai dengan kelakuan para koruptor itu? kalian sama saja! sama-sama produk liberalisme yang tidak mengerti apa itu kemanusiaan, apa itu kejahatan, dan siapa saja yang berhak mendapat remisi! opera sabun di depan hidung kok ditaburi undang-undang?! pokoknya, Bapak tidak setuju dengan remisi-remisian!”

“Astaga, Pak! sejahat-jahatnya koruptor, mereka manusia juga. Setiap manusia punya hak asasi. Sudahlah! jangan ikut-ikutan menjadi pelanggar HAM. Mereka kan sudah menjalankan hukuman!” Nada bicara Anna sudah mulai kesal.

“Betul, para koruptor itu telah menjalankan hukuman walaupun kurang dari sepertiga masa hukuman! betul, koruptor itu juga manusia yang memiliki hak asasi. Tetapi ingat! makna hukuman bagi para penjahat adalah memberikan efek jera. Tanpa remisipun mereka belum tentu jera. Apalagi dengan adanya diskon-diskonan hukuman itu! sekali lagi Bapak tegaskan, koruptor adalah penjahat kemanusiaan yang tidak layak mendapatkan remisi. Kalau pemerintah mau adil, remisi untuk koruptor itu perlu ditinjau ulang lantas dicabut! itu harga mati!”.

Begilah. Bagaimanapun tajamnya tikaman kata Pak Juki, bagaimanapun kerasnya suara sebagian rakyat yang menentang pemberian remisi bagi koruptor, toh remisi yang menjadi kado HUT RI ke-66 sekaligus menjadi paket lebaran para koruptor tetap dilaksanakan. Diantara 137.379 orang penghuni lapas di seluruh pelosok negeri, 43.423 narapidana mendapatkan remisi khusus pertama, sedangkan 1.229 narapidana mendapatkan remisi khusus kedua atau langsung dibebaskan dari masa tahanan. Dari jumlah tersebut, Tercatat 419 koruptor mendapatkan remisi dalam rangka peringatan HUT RI ke-66. Bahkan, 29 terpidana korupsi langsung mendapatkan “paket gratis” alias langsung bebas. Dari 29 narapidana korupsi yang mendapat “paket gratis” tersebut, terdapat nama-nama top seperti mantan pengurus PSSI Eddy Sofyan dan mantan Dirut Bank Mandiri Eduardus Cornelis William Neloe.

Tak ada yang tidak mungkin selama kita masih hidup apalagi hidup di negara yang bernama Indonesia. Remisi, korupsi, koalisi, polusi dan garansi bukanlah barang langkah, bahkan dengan mudah dibeli seharga seribu perak di depan gedung dewan atau di pelataran parkir warung kopi sekalipun.

Hebat! Pemerintah Membagikan Paket Lebaran Kepada Ribuan Narapidana


Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah bagi seluruh umat muslim khususnya di Indonesia. Selain bisa meningkatkan iman dan takwa,  umat muslim juga bisa mendapatkan “paket lebaran”. Paket lebaran biasanya berasal dari kolega, pimpinan tempat kerja, pacar bahkan dari pemerintah. Maka berbahagialah kita karena pemerintah  memiliki sifat pemurah. Bukan hanya murah senyum seperti di musim kampanye, tetapi setelah berkuasapun mereka tetap peduli dengan rakyatnya. Semoga mereka diberkati!

Karena status ekonomi dan strata sosial yang lebih tinggi antara pemerintah dengan kolega, pimpinan perusahaan atau pacar, tentu saja paket lebaran dari pemerintah bernilai jauh lebih mahal. Kalau biasanya kita mendapatkan paket lebaran berupa syrup, tepung terigu dan gula pasir, maka pemerintah tidak tanggung-tanggung! pemerintah bisa memberikan sesuatu yang nilainya jauh lebih mahal, bahkan teramat mahal. Pemerintah bisa memberikan kebebasan kepada rakyat yang dikehendakinya. Bukanlah kebebasan merupakan hal yang paling didambahkan secara lahiriah oleh yang namanya rakyat? jika Tuhan memberi “kebebasan dosa” kepada umat muslim setelah melakukan ritual lebaran, maka pemerintah memberikan kebebasan berupa remisi kepada para narapidana di seluruh Indonesia.

Pemberian remisi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995, Keputusan Presiden RI Nomor 174 Tahun 1999, serta Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Tata Cara dan Syarat Pelaksanaan Hak-hak Warga Binaan Pemasyarakatan, menjadi dilema bagi sebagian rakyat Indonesia. Disatu sisi, pemberian remisi tersebut tentu merupakan kabar yang menggembirakan setiap tahanan beserta koleganya. Tetapi disisi lain, para korban dan keluarganya serta sejumlah penegak hukum termasuk KPK kebakaran jenggot.

Saat ini, total penghuni lapas di seluruh Indonesia mencapai 137.379 orang. Dari jumlah tersebut, 43.423 narapidana mendapatkan remisi khusus pertama, sedangkan 1.229 narapidana mendapatkan remisi khusus kedua atau langsung dibebaskan dari masa tahanan sebagai paket lebaran spesial dari pemerintah.
Para koruptor pun mendapatkan hal yang sama bulan Agustus tahun ini. Tercatat 419 koruptor mendapatkan remisi dalam rangka peringatan HUT RI ke-66. Bahkan, 29 terpidana korupsi langsung mendapatkan “paket gratis” alias langsung bebas. Dari 29 narapidana korupsi yang mendapat “paket gratis” tersebut, terdapat nama-nama top seperti mantan pengurus PSSI Eddy Sofyan dan mantan Dirut Bank Mandiri Eduardus Cornelis William Neloe.

Pemberian remisi bagi para narapidana utamanya koruptor, tentu sah-sah saja. Apalagi sudah ada undang-undang yang menjadi pedoman bagi pemerintah. Tetapi, pemerintah juga harus ingat jika proses pidana bagi narapida bertujuan untuk memberikan efek jera. Apalagi, tindakan pidana korupsi termasuk kejahatan kemanusiaan yang merugikan Negara dan tidak pantas untuk mendapatkan remisi seperti yang diberlakukan terhadap kasus lainnya. Maka dengan adanya “paket lebaran” khusus untuk koruptor, efek jera semakin menipis. Yang muncul malah koruptor semakin menjamur dan Negara beranak-pinak dengan Nazaruddin-Nazaruddin baru.

Salah satu langkah kongkrit yang bisa diambil pemerintah untuk menekan kasus korupsi adalah meninjau kembali keputusan pemberian remisi, yang pada akhirnya pemberian remisi khususnya untuk para koruptor dihapus. Apapun alasannya, pemberian remisi kepada para koruptor selain melanggar etika sebagai  “penjahat kemanusian”, juga mencederai banyak fihak utamanya bagi rakyat. Tidak ada remisipun belum tentu angka korupsi bisa diminimalisasikan, apalagi jika remisi tetap diberlakukan. Akhirnya, Selamat kepada para narapidana penerima paket lebaran, dan banggalah rakyat karena pemerintahnya begitu pemurah.***
(Sumber : Fajar Online, gambar: http://www.google.co.id)