Setelah puas menelusuri Hollywood dan California, setelah puas
menyaksikan hingar bingar kota ditemani Kate Hudson, saya memutuskan
meninggalkan kedua kota yang biasa-biasa saja itu. Seperti yang saya
katakan sebelumnya, bahwasanya saya berasal dari negeri yang aman, damai
dan makmur, jadi manakala menyaksikan kota lain semisal Hollywood atau
California, perasaan saya biasa-biasa saja. Meskipun kepadatan penduduk
dan kepadatan kendaraan di kedua kota tersebut tidak kalah bakhan lebih
padat dibanding kota-kota lain, tetapi kedua kota tersebut masih jauh
dari kemacetan, para penduduk dikedua kota tersebut makmur-makmur,
pemerintahnya juga tampak jitu menerapkan tatanan kota yang aduhai
menawan. Meskipun kendaraan padat, tetapi jalan-jalan dikedua kota yang
sedikit menandingi kota saya itu jauh dari kesan semrawut dan macet.
Maka kuputuskan untuk secepatnya meninggalkan Hollywood dan California
yang biasa-biasa saja itu. Jika hanya mau melihat negeri makmur, jika
hanya mau melihat tatanan kota yang aduhai molek, jika hanya mau melihat
mobil melaju diatas kecepatan rata-rata di jalan raya, kurang apa
negeri saya yang tiada satu negeri di dunia pun yang bisa menandingi
keamanan, kedamain dan kemakmurannya itu? untuk apa saja jauh-jauh
melancong ke mari?
Setelah pamitan dengan Kate Hudson ala barat seperti yang sering kita
saksikan di film-film barat yang berhasil mengelabui nilai-nilai budaya
negeri saya, budaya bebas sebebas-bebasnya seperti layang-layang putus,
saya pun mencari negeri yang baru. Negeri yang tidak biasa-biasa saja.
Saya melanjutkan perjalanan ke Bollywood, ketemu dan berkenalan dengan
penyanyi chayya-chayya, kemudian saya terbang ke Macau, menghabiskan
malam di taman-taman kota yang indah tertata rapi, memandangi
kerlap-kerlip lampu kota di Leal Senado, taman keabadian, ikut berjudi
di kasino, berdecak kagum menyaksikan deretan gereja-gereja yang konon
lebih banyak dibanding jumlah gereja di Patikan, mengagumi
bangunan-bangunan neoklasik berciri Mediterania, mengamati mozaik-mozaik
unik di lantai Senado Square, lalu terus ke puncak Ruins of St. Paul’s
yang megah mirip-mirip kota saya.
Tetapi, lantaran saya berasal dari kota yang tiada tandingannya di
dunia, saya pun menganggap keindahan kota Macau biasa-biasa saja, dan
rasa bosan saya membuncah dan rasanya tidak ada alasan yang bisa membuat
saat bertahan di kota itu. Sekali lagi, kalau cuma ingin menyaksihan
keindahan kota, kemegahan bangunan, tatanan kota yang aduhai molek
seperti tubuh Miyabi, artis kesayangan saya, tidak mungkin saya
jauh-jauh ke kota Macau yang biasa-biasa saja.
Saya pun bertanya kepada para penjudi di kasino, adakah gerangan kota
lain yang bisa membuat saya merasa nyaman dan betah? jika saya bisa
menemukannya, saya pasti akan tinggal lebih lama lagi. Banyak saran dari
para borjuis, teman baru saya di kasino. Ada yang menyarangkan ke
Singapura, katanya kota Singapura tidak kalah mewah dibanding Texas,
California atau Macau, ada yang menyarankan ke Swiss, ada yang
menyarankan ke Italy, bahkan ada yang menyarankan ke Indonesia.
“Mau cari kota yang beda, Tuan?” , kata pelayan kasino yang akhirnya
keketahui berasal dari Indonesia dan bekerja sebagai pelayan kasino,
sambil merapatkan mulut ke telinga saya, pelayan bertubuh molek halus
itu setengah berbisik sambil tersenyum tipis, “Datanglah ke Indonesia,
tetapi jangan mendatangi Bali!”.
Atas saran pelayan kasino itu, saya tidak pikir panjang lagi. Saya
melanjutkan perjalanan ke Indonesia sesuai petunjuk sang pelayan. Dengan
peta di tangan, dengan mudah saya menjajaki kota-kota besar di
Indonesia.
Ahay…! Ternyata Indonesia kota impian gue banget, gitu lo…Benar-benar
berbeda dibanding puluhan kota yang telah saya kunjungi. Saya disambut
hangat bak raja oleh para demonstran di bundaran HI yang menuntut Gayus
dan Nazaruddin di penggal, saya dielu-elu oleh puluhan ribu suporter
PSSI ketika saya ikut nonton di stadion Gelora, bahkan, begitu saya
datang, genderang penyambutan segera mereka tabuh. Mercon, kembang api,
petasan menyambut saya dengan suka cita. Bahkan, mereka mengusir pemain
Bahrain yang menjadi lawan Timnas waktu itu. Lebih gila lagi, para
suporter itu mengusir Presidennya sendiri. Wow! saya benar-benar
tersanjung dan tentu saja saya berterima kasih sebanyak lima puluh kilo
kepada pengangum saya.
Setelah bubar, saya menuju hotel dengan mobil merangkak seperti
kura-kura yang berjalan diatas tumpukan lem. Lambat akibat macet yang
sungguh, saya begitu menikmati kemacetan itu. Luar biasa! ternyata kota
idaman saya telah berhasil saya temukan.
Keesokan harinya, atas saran petugas lobi hotel, saya kembali terbang
menuju pintu gerbang kota bagian timur yang tak kalah menariknya. Ya!
Makassar menyambutku dengan hangat, angin mammiri bertiup
sepoi-sepoi namun tidak bisa mengusir kegerahan kota. Demonstrasi
terjadi di mana-mana, ada yang menuntut Presidennya mundur, ada yang
menuntut remisi untuk koruptor dicabut, ada yang menuntut Malaysia di
ganyang, Gayus dan Nazaruddin di hukum mati, ada pula yang meminta
penghentian ekspor TKI ke luar negeri. Luar biasa meriah, luar biasa
pesta demokrasi yang belum saya saksikan sekalipun di kota saya.
Seperti halnya di kota-kota besar di Indonesia, semisal Jakarta,
Surabaya dan Medan, ternyata Makassar lebih padat dari yang saya
perkirakan. Kota Makassar menjelma menjadi kota banjir! banjir air
ketika musim hujan, banjir kendaraan yang jumlahnya tidak sesuai dengan
lebar jalan dan tatanan perkotaan, banjir sampah di sana-sini, di
kanal-kanal, di pasar-pasar tradional, yang pada akhirnya menghasilkan
banjir semrawut dan banjir bau yang menyengat hidung.
Selain itu, banjir manusia juga terjadi. Kepadatan penduduk
melumpah-ruah dengan wajah-wajah asing, entah dari kota mana, terus,
banjir korupsi juga tidak bisa terelakkan seolah-olah tidak mau
ketinggalan dengan kota lain, banjir air mata terjadi di mana-mana,
kebakaran menelan korban jiwa dan benda yang tidak sedikit, dan yang
membuat saya betah bahkan memutuskan untuk tinggal di kota ini karena
ternyata kota ini barangkali sedang merangkak menuju serambi maksiat.
Tidak bisa dipungkiri, kejahatan telah merajalela, tiap hari saya
mendengar pembunuhan, perampokan, penculikan dan perkelahian. Beda
pendapat, baku tikam. Beda keyakinan, baku hantam. Beda baju, beda asal
daerah, beda, partai, beda kepentingan baku sikut.
Sementara itu, ditempat berbeda, Gubuk-gubuk kumuh mengerang menahan
sakit di gilas bangunan gedung pencakar awan, anak-anak dan perempuan
tua tertahih merintih dengan kaleng kosong di lampu merah, bocah-bocah
dekil yang seharusnya duduk manis di bangku sekolah, menari-nari mengais
dan memulung sampah, menjadi pengemis di negeri sendiri, menjadi
pemulung di kota sendiri.
Lebih menggiurkan, panti-panti pijat plus bukan lagi rahasia umum jika
melakukan praktik prostitusi, kafe-kafe menjadi tempat transaksi seks,
hotel-hotel selalu padat dengan pengunjung yang berpasang-pasangan,
tempat hiburan malam tumbuh bak cendawan di musim hujan, pelacur-pelacur
kota tidak lagi sukar ditemui, mereka berjejer di sepanjang jalan
menawarkan kehangatan kepada pengemudi, tanpa rasa berdosa apalagi
merasa malu.
Dikawasan Nusantara, puluhan bahkan ratusan penjaja seks
menghuni rumah karaoke dan bar, ribuan botol bir beredar setiap malam,
narkoba merajalela, kumpul kebo meraja durja.
Inilah kota impian saya selama ini. Kota yang luar biasa istimewa dengan
hingar-bingar manusia sepanjang hari, siang-malam. Seribu macam wajah,
seribu macam warna, seribu macam kelezatan duniawi tersaji di atas meja
makan.
Untuk apalagi saya melancong? untuk apalagi saya kembali ke
negeri saya yang aman, damai dan makmur itu? saya memutuskan untuk
menetap di kota baru saya, bercampur-baur dengan para penikmat dunia,
ikut menenggak minuman keras, ikut berpesta sabu, terbahak-bahak setelah
menyedot ganja, menikamati tubuh-tubuh pelacur, menjadi kuli proyek
(20%-20%, diel?), ikut meneriakkan tentang negeri yang sedang sakit,
tentang hukum yang jadi barang dangangan, tentang nurani dan moral yang
mudah didapat seharga seribu. Inilah kotaku, kota serambi maksiat, dan
saya menjelma menjadi seekor binatang berhati iblis!***