Tampilkan postingan dengan label Puisi Lendir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Lendir. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2011

HUJAN KEPAGIAN

sudah lama aku menyulam khayal pada tirai hujan menata wajahmu keping demi keping dengan perekat kenangan di tiap sisinya lalu saat semuanya menjelma sempurna akan kubingkai lukisan itu dalam setiap lelah rindu yang kupelihara sejak dulu “cinta selalu menjaga rahasia pada langit pun pada hujan” katamu lirih terbatabata dan seketika linangan airmataku menjelma aliran sungai deras menuju hulu dimana setiap impian dan harapan kita karam disana/
sudah lama aku mengukir sosokmu pada gerimis memastikan setiap serpih mimpiku untuk membangun istana cinta dapat menjadi nyata tapi semuanya segera sirna dan berlalu bersama desir angin di beranda “percayalah! aku ada dinadimu seperti kamu ada didarahku” bisikmu pelan ketika bayangmu perlahan memudar dibalik rinai hujan/
sepasang camar seketika menghampiriku: yang satu menjabat tanganku lalu berkata “selamat menikmati luka” dan satunya lagi sibuk menulis namamu pada serpihan kain kafan!
(Bulukumba 2010)

RONTAK

cium aku dengan kata sebelum fajar menjadi jingga:
telah kutandai dinding hatimu dengan jarum puisi dua belas purnama lalu sehabis melumat sepotong senja ditepi losari yang kelak kunamai pantai seribu narasi dimana setiap lekuknya ada kisah kita menjulur menggapai buih O dewi yang tertawan dalam nafas yang terbayang dalam igau yang semai dalam mimpi pun jika harus memberi tanda pada bagian tubuhmu yang lain aku memilih menancap jarum puisiku tepat pada jidatmu sebagai pengganti kecupan terakhirku sebelum kau berlabuh di dermaga lain O dewi sekali saja cium aku dengan kata sebelum fajar benarbenar menjadi jingga dan aku hanyut dalam lautan aksara menuju tempat tak terjamah O dewi karenamu kata ku ramu karenamu kita syahdu dalam lagu?
(Pondok Gede 17  Mei 2011)

MANTRA

aku rasa kita akan selalu bercakap dalam senyap dengan bahasa langit dan isyarat kedipan mata yang tak lazim serta menyemai setiap harap yang kerap datang mengendap lalu meresapinya ke hati dengan getir! aku rasa dengan bahasa langit dan isyarat itu (hanya kita saja yang tahu) secara bersahaja menyapa larik-larik kenangan dan meniti setiap selasar waktu bersama desir rindu menoreh kalbu! selalu aku rasa kita tak dapat menafikan batas yang membentang dimana jarak membingkainya lalu menjadikannya nyata serta membuat kita sadar bahwa pada akhirnya dalam pilu kita berkata: biarlah kita menyesap setiap serpihan senyap dan menikmatinya tak henti hingga lelap tanpa tatap tanpa ratap! aku kian rasa ada yang diamdiam melafaz bahasa dan isyarat menjadi mantra: puah, kita rebah dalam lautan aksara tanpa makna menyatu dalam duka nganga/
(Bajoe-Kendari 2007)