Tampilkan postingan dengan label Gadis Manis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gadis Manis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2012

Sepotong Bibir yang Tak Habis Dipatuk Ular

SIANG itu, aku mengutak-atik buku di kedai baca Sipakainga[1]. Sudah hampir satu jam aku mengitari rak buku yang memanjang dan memuat ratusan bahkan ribuan judul buku, tetapi aku belum juga memilih buku yang mana yang hendak aku baca dengan serius apalagi sampai tuntas. Sudah puluhan judul buku yang sudah kubolak balik, tetapi tak satu judulpun yang membuatku tertarik. 

Aku kembali menyambar buku bersampul cokelat muda. Di sampul depan buku itu, untaian katanya sedikit menggoda hatiku. INTERNATIONAL BEST SELLER. Nizami Ganjavi. LAYLA MAJNUN. Roman Cinta Paling Populer & Abadi. Ah, rupanya buku ini hanya cocok untuk anak remaja yang sedang patah hati atau sedang kasmaran. Dengan malas, aku terus membuka setiap halaman buku itu, sampai akhirnya tanganku berhenti di halaman 121:

...Cintaku kepada layla laksana air yang jernih dan bersih. Namun apalah arti air yang jernih jika tidak mampu menghilangkan dahaga?...  

Tanganku perlahan  menutup buku itu. Bukannya tidak menarik, tetapi masa mudaku telah lewat digilas usia. Rasanya, tidak ada lagi gunanya untuk membaca buku-buku yang dilumuri kata-kata menghanyutkan seperti itu. Masa muda benar-benar telah lewat, dan aku tidak ingin mengingat kenangan-kenangan masa silam dengan membaca untaian kata yang memabukan. Aku  sudah tua-walaupun belum tua-tua amat- dan aku tidak suka mabuk!  

Dengan perasaan dongkol, aku terus mengamati satu per satu judul-judul buku yang berjejer rapi. Sekedar  membaca sampul depannya, lantas kembali berlalu. Andrea Hirata, Sang Pemimpi. J.K.Rowling, Harry Potter and The Deathly. Andika Mappasomba, Mawar & Penjara. Moammar Emka, Karnaval Malam, Jakarta Under Cover 2. Karl May, Si Pemaki Tuhan. Dan Browd, Angels and Demons. B.J.Habibie, Detik-Detik yang Menentukan. Soe Hok Gie, Lentera Merah. Dan...

Tanganku berhenti pada buku tua yang sudah kusam. Sampul dan pinggirnya sudah koyak-moyak dan berlubang termakan rayap. Aku membetulkan letak kacamata. Samar-samar,  aku masih bisa membaca judul  buku yang sudah kabur itu-atau memang mataku yang sudah sedemikian rabun?- : Sepotong Bibir Seksi yang Tak Habis Dipatuk Ular, tanpa nama penulis. 

Ada serupa kekuatan magis yang memaksa tanganku untuk meraih buku itu. Padahal, aku yakin seyakin-yakinnya jika isi buku itu tidak jauh berbeda dengan isi buku yang aku telah baca sebelumnya. Aku kemudian membawa buku itu ke kursi kayu di tengah ruangan, lalu membuka halamannya lembar per lembar di tengah riuh celoteh pengunjung kedai baca lainnya. Ada yang asyik membahas kinerja pemerintah, ada yang serius membaca buku kamasutra, bahkan, di pojok ruangan, seorang lelaki seusiaku tampak malu-malu kucing menatap foto-foto telanjang majalah Play Boy, ada yang berdebat tentang kinerja menteri, sedangkan di dekat pintu masuk,  beberapa pasang lelaki sedang berhadap-hadapan tegang sambil menatap bidak-bidak catur. Sesekali mereka terbahak-bakak dan saling meledek setiap lawannya salah langkah.

***

Di temani segelas kopi pahit dan beberapa potong lumpia, sekali lagi aku membetulkan letak kacamata ketika sudah memasuki bab pertama. Dengan seksama, aku mulai membaca cerita tua itu, cerita tua serupa catatan-catatan penting, cerita tua tanpa nama penulis. Inilah buku pertama yang aku baca sepanjang usiaku, yang nama penulisnya tidak dicantumkan di sampul buku. Betul-betul unik dan  membuat selera baca saya seketika meningkat sekian digit.

Kamar kita yang basah, Jakarta, 14 Mei 1998
Aku baru saja membanting dan merobek-robek koran pagi setelah membaca berita empat teman mahasiswa yang tertembak dan terbunuh dalam tragedi Trisakti. Tiba-tiba, kau datang menembus gerimis pagi itu. Ada kesedihan yang kutangkap dari raut wajahmu yang ditudungi mendung. Matamu yang tersapu kabut, tertunduk kaku menatap sobekan koran yang terburai di atas lantai.
“Ibu telah diperkosa...”
Aku terloncat dari kursi. Kabut semakin purba pada matamu, menyemburkan gerimis yang patah-patah.
“Diperkosa, Huifang?”
“Juga dirampok…”
“Dirampok?”
“Mobilnya dibakar, lalu…”
“Lalu apa Huyfang?!”
“Ibu ikut dibakar…ibu sudah mati…”
“Bangsat…!”
Kau menubruk tubuhku yang diam membisu. Di sana,  kau sesunggukan menanak air mata tanpa kata tanpa bicara. Hanya suara seperti mandau yang berdesau menebas ruang hampa. Kau abadi dalam kesedihanmu, setelah kau tak bisa menggenggam secuil daging gosongpun dari mayat ibumu. Kau…

***

Ada perasaan aneh yang menyeruak laju di dalam hati setelah membaca beberapa paragraf buku tua itu. Ada perasaan sedih, benci, marah, menyesal, kecewa yang bercampur dan terasa diaduk-aduk oleh kaki-kaki lipan di dalam dadaku. Untuk kesekian kalinya, aku kembali membetulkan letak kacamataku, dan tentunya tak lupa menyeruput kopi pahit yang sudah terlampau dingin.

Ah, begini rupanya pengarang! Mereka begitu lihai memainkan kata, sampai-sampai aku terbuai dan ingin kembali melanjutkan membaca cerita omong kosong itu. Padahal, dari semua judul buku yang saya baca hari itu, ujung-ujungnya pasti sama saja. Pertemuan, hujan, senja, dermaga, cinta, basah, pisah, mati,  dan seterusnya dan selanjutnya. Tetapi, walaupun temanya hampir sama dengan buku-buku yang lain, sekali lagi, buku yang sedang aku baca seolah memiliki kekuatan magis yang memaksaku untuk tetap mengikuti bualannya. 

Asmara kita yang rabun, Jakarta 15 Mei 1998
Sejak kematian nyonya Hualing, kau menjadi asap hitam karatan yang patah-patah oleh tangan-tangan angin, tak mampu melukis sesuatupun di cakrawala. Dan aku, menjadi pokok-pokok kayu tembesu yang lapuk, pasrah menerima hunjaman batu-batu hitam yang meracau-payau dari kedalaman matamu. 
Di dasar wajahmu, aku mampus berkali-kali, disumpahi luka membusuk, tak kuasa membawamu menunggangi angin melewati sepanjang sedih dan pahit musim. Betapa cinta hanya bisa bungkam hari itu, di bawah amuk amarah nurani anjing-anjing bersayap.
Nurani mati...
Nurani mati...
Dan aku tak henti mematuk diri di depan cermin retak, sementara diluar lolongan anjing dan suara harimau menerkam kota semakin menjadi-jadi. Aku tak kuasa mendengar lolongan anjing itu. Aku tak kuasa mendengar auman harimau itu. Aku menutup jendela, tirai, mata, kuping, lalu meringkuk di kolong ranjang, tetapi suara-suara itu semakin mendekat dan menyusup di sela-sela jendela. Aku bangkit, aku berlari, aku berteriak, aku membenturkan kepalaku ke dalam kaca. Ia terburai, aku terkulai...

***

Aku menarik nafas panjang. Tiba-tiba kurasakan ada gemuruh yang memburu di dalam dadaku. Dasar penulis sialan, seharusnya ia tidak merusak suasana hatiku. Aku telah berjanji untuk mengubur dalam-dalam masa laluku, tetapi buku itu serupa pecahan-pecahan kaca yang jatuh ke dalam gelas kopiku. Aku meletakkan buku itu. Aku ingin menyudahi membacanya, tetapi tanganku serupa besi-besi tua dan setiap huruf yang tertera di buku itu adalah gerombolan magnet yang tiada henti menarik tanganku. Perlahan-lahan, aku kembali membuka dan melanjutkan bacaanku. Sementara kedai baca sudah sedemikian disesaki pengunjung. Sementara gerah semakin terasa. Sementara hatiku sebentar lagi binasa?.

Ternyata kita mati muda, Huyfang, Jakarta 18 Mei 1998...
Aku mendengar jeritan dari kerak kubur sore itu. Jeritan yang perlahan menghilang, berganti tawa segerombolan belatung yang membakar langit-langit. Aku menerobos sore yang dilumuri kabut. Aku berlari serupa anak-anak kijang di padang luas yang sedang dikejar hantu-hantu bersayap seribu.
Aku menuju rumahmu, Huyfan! Aku memasuki halaman rumahmu, Huyfan. Aku mengetuk pintu rumahmu, Huyfan. Aku menapaki setiap inci lantai rumahmu, Huyfan. Aku menapaki tiap anak tangga rumahmu menuju lantai dua, Huyfan. Aku mengetuk pintu kamar tidurmu, Huyfan. Aku memasuki kamar tidurmu, Huyfan.
 Aku menemukan seorang pembantumu meregang nyawa di tepi ranjang, Huyfan. Kepalanya berdarah, dadanya berdarah, payudaranya berdarah, selangkangannya berdarah, tak mampu bicara. Ia hanya bisa menggerakkan telunjuk ke arah kamar mandi, Huyfan. Aku membuka kamar mandi, Huyfan.
Aku jatuh terburai mencium lantai sambil meraung-raung memanggil Tuhan menyaksikan tubuhmu bugil tanpa biji mata tanpa tanpa hidung tanpa lidah tanpa gigi tanpa puting payudaya tanpa tangan tanpa kaki dan sebuah pisau menancap diselangkanganmu, Huyfan. Hanya sepotong bibir yang masih melekat sempurna sembari tersenyum. Senyum yang teramat memilukan.  Aku…aku…aku...

***

Plak...kreeek...plak...
Aku tak sanggup melanjutkan bacaanku. Kusobek dan kubanting buku itu di atas meja. Belum puas, kembali kuambil lembaran-lembaran yang masih utuh, mencabik-cabiknya, merontokkannya ke lantai, kemudian kembali menginjak-injaknya. Tidak sampai di situ, kuhunus sebilah badik yang meringkuk di pinggangku, lalu menikam dan mencincang buku itu berkali-kali, sampai benar-benar serupa bubur kertas.

Para pengunjung kedai tersentak dan sepakat meloncat dengan raut muka keheranan. Gelas-gelas kopi berhamburan, bidak-bidak catur berserakan, kemudian dengan nafas memburu, aku tinggalkan kedai baca itu. Tak seorangpun diantara pengunjung bahkan tak seorangpun di dunia ini yang tahu jika penulis buku itu adalah aku. 

Tak seorangpun diantara pengunjung bahkan tak seorangpun di dunia ini yang tahu jika aku telah membaca kisahku sendiri yang kutulis dengan mata berkaca-kaca dengan tinta-tinta darah. Juga, tak seorangpun pengunjung bahkan tak seorangpun di dunia ini yang tahu jika aku adalah anak seorang perusuh yang ikut menyutubuhi Huyfan puluhan tahun silam. Dan adakah yang percaya jika sampai sekarang, di usia yang sudah bau tanah ini aku masih hidup sendiri tanpa siapapun tak terkecuali seorang istri? Tak seorangpun…***

[1]Nama salah satu kedai kopi di Makassar, Sipakainga(saling mengingatkan)
(Makassar, 1 Okteber 2011)

Rabu, 02 November 2011

Lorong Cahaya

BETAPAPUN keyakinan Ibu telah kubantah berkali-kali, tetapi ia masih terus ngotot jika sewaktu-waktu, akan muncul sebuah lorong cahaya yang berpangkal di beranda rumah panggung kami, yang akan membelah perut bukit nun jauh di sana, lalu terus memanjang, berkelok, lurus, meninggi, menembus awan, kemudian bermuara di atas  langit!


Awalnya, keyakinan Ibu tentang lorong cahaya itu hanya kuanggap sebagai dongeng semata, tanpa berusaha untuk menanggapinya. Tetapi, lambat-laun, aku mulai merasa terganggu, karena Ibu hanya mempunyai sebuah bualan yang terus-menerus diulangi dari waktu kewaktu, dari hari kehari, hingga usiaku genap tujuh belas tahun. Bayangkan! Bagaimana menderitanya mendengarkan sebuah bualan yang tidak masuk akal, yang tidak pernah berubah- selalu saja tentang lorong cahaya- mulai ketika aku masih sering mengisap puting susu Ibu sampai sekarang diusiaku yang sudah tujuh belas tahun ini.


Bahkan, akhir-akhir ini, Ibu semakin menjadi-jadi dengan bualannya yang tidak masuk akal itu. Semua kematian di kampung kami, selalu dikaitkan dengan lorong cahaya. Seperti dengan kematian Haji Zakariah dua minggu lalu, Ibu mengaku melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana lorong cahaya itu tiba-tiba muncul di atas nisan Haji Zakariah, ketika para pengantar jenazah baru saja pulang beberapa langkah, dan perlahan-lahan jazad Haji Zakariah bangkit dari kubur, menerobos gundukan tanah perkuburan, lalu memasuki lorong cahaya yang membentang dari atas kuburan, menembus bukit, lurus, bekelok, menukik turun, meninggi, membelah pelangi, lalu hilang di balik gumpalan awan.


Bahkan, yang lebih parah, menurut Ibu, pangkal lorong itu sewaktu-waktu bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan bisa berganti warna. Ke trotoar, ke pemukiman kumuh, ke tangsi pengungsian, ke jalan raya, ke bangsal rumah sakit, ke palang jembatan, ke atap gedung, ke kamar-kamar rumah, ke penthouse, dan ke mana saja. Kadang warnanya merah meyala seperti lidah-lidah api, kadang kuning keemasan seperti sapuan senja, kadang putih bersih, kadang pucat seperti kabut, kadang abu-abu, kadang hitam, bahkan kadang hitam yang teramat hitam. Pekat.


“Bahkan Ibu pernah lihat lorong itu di dalam layar kaca, Dullah!,” Ibu mulai membual sambil menenun lipa’sabbe[1] di teras rumah panggung kami, “ Ketika usiamu masih empat tahun, lorong cahaya itu muncul di layar kaca tepat ketika stasiun TV menyiarkan Tragedi Trisakti. Ibu menyaksikan sendiri, lorong cahaya itu menukik turun ke atap kampus, lalu pangkalnya bercabang-cabang! Mula-mula, lorong cahaya itu berwarna perak, tetapi perlahan-lahan menjadi kelabu, hitam, dan…”


“Sudah…Sudah Ibu! Hentikan omong kosong itu,” aku memenggal kalimat Ibu, dan anehnya, justru ibulah yang menatapku heran sambil geleng-geleng kepala, “ proses pembentukan lorong itu butuh waktu, baik secara mekanis maupun secara kimiawai. Tidak serta merta muncul, apalagi sampai berpangkal di halaman kampus, lalu bermuara di langit. Pembentukan lorong itu perlu kegiatan magmatis di daerah gunung merapi, atau butuh bantuan komposisi dominan Kalsium Karbonat untuk menghancurkan batu-batu gamping atau karst. Larutan jenuh kalsium, di tempat yang tidak terpengaruh oleh tenaga mekanis, akan diendapkan dalam bentuk kristalin, antara lain berupa stalagtit dan stalagmit, yang tersusun dari mineral kalsit, dan variasi-variasi ornamen lorong! Jadi berhentilah mendongeng, karena Dulla sudah besar! Ja…”


“Tetapi ini lorong cahaya, Dullah!,” kali ini, Ibu yang memenggal penuturanku yang panjang lebar,“ ini lorong cahaya yang tidak semua orang bisa menyaksikannya, Dulla!. Bukan lorong sembarangan seperti yang kau maksud itu!.”
“Itu bukan lorong cahaya, Bu! Tetapi lorong dongeng yang akan menuntun kita menuju puncak khayalan yang tiada berguna itu! sudahlah, berhentilah membual!”.

“Suatu hari, kau akan melihatnya sendiri, Dulla…!”


***


Ketenanganku sudah berangsur-angsur pulih, seiring dengan kebiasaan Ibu membahas lorong cahaya tidak pernah terdengar lagi. Tetapi, tidak sampai seminggu, penyakit membual Ibu kembali kambuh. Lagi-lagi tentang lorong cahaya. Diawali ketika beberapa orang ibu-ibu tetangga datang membantu Ibu menenun lipa’ sabbe, karena pesanannya semakin banyak dari pasar desa.


Di sela-sela memasak, memberi pewarna atau memintal benang sutra, Ibu tiada lelah membual tentang lorong cahaya kepada para tetangga yang ikut membantunya. Bayangkan! Ibu dan para tetangga itu biasanya menenun dari pagi hingga sore, dan cerita Ibu tidak pernah jauh sekitar lorong cahaya.


Aku kadang-kadang harus menutup telinga dengan bantal di dalam kamar, untuk menghindari celoteh Ibu yang sambung-menyambung, kadang terdengar lirih, sayup-sayup, datar, melengking, menggelegar, memantul-mantul pada dinding rumah, menyusup ke dalam kamar, lalu menusuk-nusuk gendang telingaku serupa ribuan jarum yang dimuntahkan dari langit-langit kamar.


“Lorong cahaya itu akan berpangkal di rumah kalian sewaktu-waktu, tanpa kalian duga sebelumnya. Kalian ingat Narti? Anak kepala dusun yang dikabarkan hilang saat mengumpulkan kayu bakar di dalam hutan? Narti tidak hilang. Narti tidak hilang. Narti hanya sedang menelusuri lorong cahaya yang tiba-tiba muncul di tengah hutan sehabis gerimis sore itu. Aku sendiri yang melihatnya, Bu Retno, Bu Lita, Narti merangkak-rangkak memasuki lorong cahaya itu, dengan senyum sumringah dan rona kepuasan di wajahnya berpendar-pendar tersapu cahaya dari dinding-dinding lorong yang kuning keemasan. Tubuh Narti seperti dibaluti lelehan senja!”.


“Apakah Narti akan mati di dalam lorong itu, Bu Lela? Apakah Narti tidak akan kembali lagi?!” Tanya Bu Retno antusias dan mulai termakan bualan Ibu.

“Tidak. Tidak. Siapapun yang masuk di lorong itu tidak akan mati, tetapi mereka tidak akan pernah kembali. Tidak akan…”
 “Lalu kenapa seseorang, atau Narti misalnya mau menelusuri lorong cahaya itu? apakah kami bisa menolak menelusuri lorong cahaya itu jika sewaktu-waktu muncul di ranjang kami, Bu Leha?!.”


Sambung Bu Lita tampak penasaran dan para ibu-ibu yang membantu Ibu menenun lipa’ sabbe di beranda, sudah benar-benar termakan bualan Ibu. Saya mengintip dari sela kaca nako di dalam kamar yang hanya dibatasi dinding papan dengan beranda, mau tidak mau ikut mendengarkan bualan Ibu dengan emosi yang meluap-luap. Ingin rasanya aku menghambur keluar menghentikan bualan itu, tetapi aku menjaga perasaan dan wibawa Ibu di depan para penikmat ceritanya. Perlahan-lahan raut muka Ibu tampak berubah, sambil menggeleng ke arah Bu Lita.


“Tidak seorangpun yang bisa menghindar dari penelusuran lorong cahaya itu, ibu-ibu. Pangkal lorong cahaya itu begitu memukau, melebihi indahnya sapuan senja di atas permukaan laut, melebihi gemerlap lampu-lampu kota seperti yang sering kita tonton di layar kaca. Ada serupa magnet yang menarik kita, atau lebih tepatnya, mulut lorong itu terasa mengisap tubuh kita, dan tidak ada jalan sama sekali untuk menghindar!” terang Ibu panjang lebar, dan kali ini aku sudah benar-benar muak dengan bualan Ibu. Aku bangkit dan bergegas menuju ke luar, menuruni anak tangga lalu pergi meninggalkan rumah.


***


Setahun kemudian, aku meninggalkan Ibu di kampung menuju ke kota untuk melanjutkan kuliah. Walaupun Ibu sering kali menjengkelkan dengan bualannya mengenai lorong cahaya, tetap saja aku merasa sedih harus berpisah dengannya. Aku harus berpisah dengan perempuan tangguh yang tiada lelah bekerja, baik sebagai penenun lipa’ sabbe maupun sebagai penjual ikan asin di pasar desa, demi untuk membesarkan dan menyekolahkanku.


Bahkan, Ibulah yang mendesak aku untuk tetap lanjut ke perguruan tinggi, walaupun sebelumnya aku sempat berpikir untuk tetap tinggal di kampung, menjadi buruh di penggilingan padi Haji Yunus, atau ikut bergabung dengan warga kampung sebagai pengangkut pasir di bantalan sungai kalumareng[2]. Ada perasaan tidak tega melihat Ibu  banting tulang setiap hari, demi untuk menyekolahkanku. Tetapi, Ibu begitu berkeras, dan berhasil meyakinkan aku jika Ibu akan sanggup membiayai segala macam ongkos selama aku kuliah nantinya.

“Rubahlah nasibmu, Dulla! Sekolahlah tinggi-tinggi, dan buatlah Ibu bangga. Ibu masih kuat bekerja untuk terus membiayaimu!”.


***


Sejak kepindahanku ke kota, aku sangat jarang berhubungan dengan Ibu. Paling-paling, hanya sebulan sekali itupun jika aku butuh uang kuliah atau persediaan beras di pondokan sudah menipis. Biasanya, aku menitip pesan lewat sopir mobil panther di terminal Mallengkeri[3], satu-satunya mobil yang trayeknya Makassar-Bontorihu.


Jika pesananku lebih banyak lagi, mulai dari uang, ikan kering, mie instan, sambal terasi sampai singkong, takut sopir panther itu lupa, atau rasa rinduku dengan Ibu kian menggebu-gebu, aku biasanya bersurat, walaupun Ibu hanya bisa menjadi pendengar setiap kali suratku dibacakan oleh para tetangga di kampung. Hingga suatu hari, ketika aku menjemput kiriman di terminal, sopir panther itu mengabarkan jika Ibu sedang sakit.


“Ibumu sedang sakit, Dulla! Tetapi pesannya, kau tidak usah pulang karena sakit ibumu tidaklah terlalu parah. Hanya sedikit pusing dan flu. Ibumu hanya minta didoakan agar lekas sembuh!”.

“Baiklah, Pak Rukka! Kalau ada apa-apa, tolong suruh siapa saja mengabari saya lewat telpon ke pondokan! Nomor telepon pondokan sudah aku titip sama Ibu”.


***


Dalam tidur, Ibu mendatangiku. Dalam tidur, Ibu tersenyum manis kepadaku. Dalam tidur, Ibu meraih tanganku, lalu menunjukkan sesuatu. Dalam tidur, aku saksikan seberkas cahaya yang semakin lama semakin mendekat, muaranya tak berujung, menembus bebukitan, semakin mendekat, menukik turun menyusur hamparan rumput dan ilalang yang seketika merunduk layu, kembali meninggi, berkelok melekuki pepohonan, semakin terang, sangat terang, silau, silau, silau, melambat, sangat lambat, pelan-pelan merayapi anak tangga, dan akhirnya sebuah lorong cahaya menganga di beranda tempat yang biasanya diduduki Ibu ketika sedang menenun lipa’ sabbe.


Perlahan Ibu melepaskan genggamannya, mengusap rambutku, dengan senyum yang amat anggun dan sorot mata yang berbinar seolah ingin secepatnya memasuki lorong cahaya itu.

“Sekarang, kau lihat sendiri, Dulla! Ibu tidak pernah salah, dan Ibu yakin lorong itu lebih hebat dari seribu-satu macam lorong yang selalu kau paparkan kepada Ibu. Ini tidak perlu unsur mekanis atau kimiawi, dan tidak membutuhkan banyak waktu untuk terbentuk!”.


***


Aku sontak terbangun dan mimpi aneh itu seketika terpenggal. Sebuah ketukan keras di daun pintu telah merusak pertemuanku dengan Ibu di depan lorong cahaya.

“Ada telepon dari kampung, Dulla…!”.

Aku bergegas ke lantai dasar. Tubuhku menggigil entah kenapa. Mungkin udara terlampau binal malam ini, dan berhasil menelanjangi tubuhku di atas hamparan kasur.

Gagang telepon jatuh, terburai di atas lantai. Tubuhku ikut ambruk mencium lantai. Ada yang diam-diam pergi.***
[1] pembuat sarung sutra
 (Jakarta-Jayapura, Oktober 2011)

Sabtu, 22 Oktober 2011

Kelepak Sayap Burung Gagak

Oleh : Alam Panrita

PEREMPUAN itu duduk sambil melinting tembakau. Kaki kanannya terlipat dengan lutut menghadap ke atas. Paha dan betis kirinya berimpit di lantai papan, sedikit mengintip dari kain hitamnya yang agak tersingkap. Dengan lidahnya, ia menjilati lintikan tembakau. Hidungnya kemudian menciumi lintingan tembakau itu, sebelum asap mengepul membentuk bulatan-bulatan kecil lalu hilang diculik angin.

Ia perlahan berdiri lantas melangkah menuju beranda. Di beranda, ia disambut sepasang kursi rotan dan meja yang dilapisi triplek yang sudah memudar. Ia baru saja menghempaskan tubuhnya di atas kursi, tiba-tiba si Juki, anak bungsunya bergegas menaiki anak tangga.

“Bang Jubir…Bang Jubir ditembak, Bu!”

Tubuh perempuan itu seketika dipatuki ribuan ular berbisa. Sejenak ia mendongak, menatap bayangan langit yang buram tertutup awan. Ada gumpalan kabut datang menggulung, lalu terciprak pada matanya.

“Jubir ditembak? Siapa yang menembaknya, Juki?!”
“Penjaga perkebunan, Bu!”
“Aparat itu maksudmu, ha?!”

Juki hanya diam, tertunduk lusuh dengan mata ikut berkabut.
Belum hilang rasa kenget si Ibu, dari jalan setapak yang menghubungkan jalan utama dengan perkebunan karet, tampak dua orang lelaki sedang menggotong seseorang.

“Jubir ditembak…! Jubir ditembak…!”
“Jubir disangka pencuri getah karet…!”

Kedua lelaki itu menggotong tubuh Jubir yang sudah bersimbah darah menaiki anak tangga. Darah tiada henti mengalir dari luka bekas tembakan di perut Jubir, serupa mata air yang tak kenal musim kemarau.

“Biadab…!”

Pekik perempuan itu dengan mata nanar dan tubuh bergetar. Suaranya seperti gerobak kayu setelah amuk lidah-lidah api membakar rerumpun ilalang, di lindap jalan. Suaranya seperti kesunyian butiran pasir yang bangkit dari dasar laut memahat nisan kematian. Perih menyusui. Ngilu mengigau. Luka mendera.

***

Perempuan itu duduk dipojok dipan mengipasi tubuh anaknya yang terbaring lemah. Ia adalah igau burung dara purba bermata darah pengumpul jelaga. Ia adalah selembar daun jarak yang retak dan koyak-moyak menatap nanar tangan-tangan maut yang mencakar-cakar tubuh busuk yang dirayapi belatung. Ia adalah asap hitam dari arang, mengerang dilindas masa silam yang patah di bawah kaki-kaki belalang yang ditunggangi kuda-kuda jantan. Apakah ia akan kembali menanak air mata di atas tungku-tungku perapian seperti puluhan tahun silam?.

Ya! Puluhan tahun silam, suaminya ikut tertembak dan tersungkur kaku dibaluti halimun dengan mata yang membelalak berusaha menepis cakar-cakar burung gagak berkuku-kuku api. Ya! Puluhan tahun silam suaminya menjadi anjing kurap yang dikuliti belalang-belalang raksasa yang ditunggangi puluhan bahkan ratusan monyet-monyet belang yang menyemburkan bisa dan racun yang dikemas menjadi butir-butir peluru.

Ya! Puluhan tahun silam ia hanya bisa meratap di sela kaki-kaki kekar penggali kubur. Ya! Puluhan tahun silam ia hanya bisa meletupkan doa-doa ke angkasa raya, sambil menciumi sobekan kafan suaminya. Suami yang mati karena memperjuangkan sejengkal tanah yang telah diwariskan turun temurun oleh pendahulunya.
“Saya bukan pencuri, Bu…”

Ia mengusap tubuh yang menggeliat sekutip. Ia mendengar kelepak sayap burung gagak yang semakin mendekat. Ia mendengar pekikan suara gemerincing lonceng yang ditarik para budak. Ia mendengar burung hantu mematuk-matuk tanah merah. Ia mendengar pengakuan seorang anak yang ia yakini sepenuh hati, segenap jiwa.

“Sayalah yang melahirkanmu, Jubir! Saya tahu yang mana pencuri, yang mana bukan. Saya tahu yang mana pembunuh, yang mana bukan. Tanpa pengakuanmu-pun saya sudah yakin!.”

Di lekuk malam yang buram, mereka lihai dalam tatap yang rancu. Di lengkung masa yang suram, jari mereka saling menyentuh, serupa anak-anak daun yang tersusun menjari, berserak kapuk ketidak-berdayaan.

***

Angin malam meradang. Dingin menukik geram. Tirai jendela berkibas jalang. Sayup-sayup, terdengar suara kelepak burung gagak yang semakin mendekat, semakin merapat. Dulu, dulu ketika suaminya tergeletak kaku dengan luka membeku, ia menyaksikan sendiri bagaimana burung gagak itu perlahan menukik turun dari bukit. Meraung-raung, menyemburkan lidah-lidah api, seakan ingin membakar savana, lalu bertengger di bahu suaminya, mematuk-matuk kepala, mata, dan dada, sebelum gagak itu mematuk tanah.

Waktu itu, ia dengan sigap memungut batu sekepalan tangan. Ia tidak mau gagak itu mengambil mata suaminya. Ia tidak mau gagak itu mengambil kepala suaminya. Ia tidak mau gagak itu mengambil dada suaminya. Ia tidak bisa membayangkan mayat suaminya tanpa biji mata, kepala bahkan dada. Tetapi, baru saja ia mengambil ancang-ancang hendak melontar, gagak itu sudah kembali terbang, menyemburkan lidah-lidah api, pada matanya, pada mulutnya, pada cakarnya, bahkan bulu-bunya sudah menjelma lidah api yang membara, lidah api yang menyala-nyala.

Ia memeriksa setiap inci tubuh suaminya, memastikan jika mata, kepala, dada dan semua anggota tubuh suaminya masih utuh. Dan benar saja! Bukan hanya utuh, bahkan bekas luka tembakan sudah tertutup, dan ceceran darah sudah menjelma menjadi halimun. Suaminya pergi dengan seutas senyum, meninggalkan dirinya yang terperangkap di dalam kerak kesedihan yang tak terbatas ruang dan waktu. Matanya yang semula membelalak, perlahan tertutup rapat. Mulutnya yang semula mengaga, perlahan mengatup dan seketika tumbulah kuncup-kuncup mawar yang merekah tersapu cahaya.

“Saya hanya menghalau sapi-sapi kita, Bu…”
“Sudahlah, Jubir! Bagi sebagian orang, tidak ada alasan untuk mempercayai anak gembala seperti kita. Bagi sebagian orang, tidak ada alasan untuk mempercayai orang miskin seperti kita. Bagi sebagian orang, pencuri dan pembunuh hanya bisa disematkan kepada orang-orang melarat seperti kita!.”

***

Dan kelepak sayap burung gagak itu semakin terdengar jelas. Perlahan-lahan, lambat-laun, pelan namun pasti, suara kelepak itu semakin jelas, kian jelas, sangat jelas, lalu berhenti dan menyisahkan desiran angin yang meresap lembut di sela jendela.

Ia terperanjat dan ingin meraih gagang sapu yang tergeletak di samping dipan, tetapi ia merasakan ada sentuhan lembut di bahunya, serupa sentuhan kapas yang menyusup di sela-sela kabut.

“Jubir lelah menunggangi sapi dan kerbau setiap hari selama puluhan tahun, Ibu! Ijinkan Jubir menunggangi gagak itu sekali saja!”

Ia menatap lekat bola mata anaknya. Bola mata yang dulu sedemikian berapi-api menebas matahari atau memanah bulan. Sepeninggal suaminya, anaknya-lah yang menjelma sebagai tulang punggung keluarga yang tiada lelah, tiada keluh kesah mengais biji-biji jagung untuknya. Ia menatap bibir anaknya yang tersenyum tipis seolah meyakinkan jika anaknya memang layak dan sudah mampu menunggangi buruk gagak bermata api yang kini sudah bertengger di balok yang melintang pada jendela.

“Kau yakin, Jubir?”
“Percayalah, Bu! Jubir akan mengabarkan kepada ayah, bahwasanya keluarga kita mati terhormat, tanpa pernah menjilat hasil curian secuilpun. Tubuh boleh tertembak, tubuh boleh membusuk dirayapi belatung, tetapi perut kita hanya berisi biji-biji jagung yang kita petik di ladang kita sendiri!”

Dan ia perlahan menutup mata tak kuasa bersitatap dengan anaknya. Dan ia hanya merasakan desau angin yang perlahan layu meninggalkan aroma daun pandan yang menyeruak laju di atas hamparan cahaya emas keperakan, yang membentang dan menggumpal-gumpal di dalam kamarnya. Setahun, sepuluh tahun, seratus tahun, atau seribu tahun yang akan datang, ia percaya kelepak sayap burung gagak bermata api itu akan kembali datang, menyemburkan api ke dalam mulut orang-orang yang tega memisahkan ia dengan anaknya. Kapankah keadilan datang menudungi bumi kami yang berkabut? ***

(Makassar, 5 0ktober 2011)

MATA AIR MATA


Oleh : Alam Panrita


 DULU, kampung kami sebenarnya bernama kampung harapan. Kampung yang terletak di kaki bukit yang hijau dengan hamparan pepohonan, mulai dari batas kampung kami di bantalan sungai sampai ke atas puncak bebukitan. Manakala hamparan padi masih ranum, kampung kami tampak seperti karpet maha luas yang dirajut dari benang-benang berwarna hijau. Manakala padi siap dipanen, kampung kamipun menjelma lautan kuning keemasan tersapu sinar matahari pagi atau cahaya senja.


Tetapi, lambat laun, nama kampung kami berubah menjadi kampung mata air mata, seiring ditemukannya sebuah mata air di sela sebongkah batu yang terletak persis di kaki bukit. Mata air mata itu tercipta bukan dari kerak bumi atau dari perut bukit, tetapi, dari mata seorang perempuan yang abadi meminang kesedihan. Perempuan yang perlahan diam, perempuan yang perlahan tertawa-tawa, perempuan yang perlahan mencakar-cakar tanah, perempuan yang perlahan terisak, perempuan yang perlahan merintih, perempuan yang perlahan menyusup ke dalam sebongkah batu yang terus mengirimkan air seolah tak kenal musim.


Beberapa tahun silam, ketika warga kampung sedang sibuk menyambut hujan, ketika warga kampung sedang sibuk menyiapkan benih-benih padi untuk ditanam di sawah-sawah, ketika warga kampung sedang sibuk menyiapkan biji-biji jagung untuk ditanam di ladang-ladang, ketika warga kampung sedang sibuk membersihkan parit, selokan, tanggul, kali, dan sungai, tiba-tiba saja ada makhluk asing yang menyusup dan turun ke bumi. Mulanya hanya seekor makhluk asing, lalu menjadi sepuluh ekor makhluk asing, lalu menjadi seratus ekor makhluk asing, lalu menjadi seribu ekor makhluk asing, lalu menjadi beribu-ribu ekor makhluk asing yang tumpah ruah membanjiri kampung kami.


Potongan makhluk asing itu tidak jauh berbeda dengan dengan potongan warga kampung. Rambut, jidat, hidung, mulut, mata, dada, bahu, tangan, kaki, semuanya serupa baik bentuk serta letaknya. Tidak karena mereka makhluk asing lantas biji matanya melekat di tengkuk, misalnya. Tidak karena mereka makhluk asing sehingga mulutnya berdampingan dengan pantat atau gigi-gigi mereka berjejer di atas lutut, misalnya. Tidak sama sekali. Betul-betul serupa dengan potongan warga kampung, baik bentuk maupun letak anggota tubuhnya. Hanya saja, warna tubuh makhluk asing itu lebih mengkilap. Gigi-giginya putih, rambutnya tersisir rapi, sorot matanya tajam menikam, senyumnya aduhai mempesona, mulutnya manis -walaupun lidahnya kadang-kadang bercabang-.


Mereka bukan alien, mereka bukan dinosaurus, mereka bukan kura-kura ninja, mereka adalah makhluk asing yang turun ke bumi mengenakan pakaian yang serba mengkilap, membawa meteran-meteran, pulpen, buku-buku catatan, kamera, laptop, kunci inggris, besi baja, sinso, buldoser, mobil tongkang, bahkan perahu. Mereka, makhluk asing itu, awalnya memilih tinggal di dalam hutan, bersenda gurau, tertawa-tawa, terbahak-bahak, sambil menebangi pokok-pokok kayu yang kemudian diangkut ke planet lain dengan mobil tongkang atau perahu yang sudah menunggu di bantalan anak-anak sungai.


***


Begitulah! Seiring berjalannya waktu, gerombolan makhluk aneh itu semakin bertambah setiap hari. Mereka tidak hanya tinggal di hutan, tetapi sebagian sudah ikut berbaur dengan warga kampung. Bahkan, dengan tipu muslihatnya, banyak warga kampung yang akhirnya menjadi kaki-tangan makhluk asing yang kemudian ikut membantu mencukur gundul bebukitan dan menelanjangi hutan.


Bahkan, makhluk asing itu berhasil membujuk kepala kampung untuk merampas tanah warga yang kemudian dibanguni jembatan, pabrik-pabrik, gedung pencakar langit, rumah-rumah kaca, bahkan hamparan padi di kampung kami akhirnya berhasil disulap menjadi deret-deret rumah susun, kios, penginapan, dan berbagai macam bangunan lainnya. Kali dan anak-anak sungai telah dikeruk, diperluas, dibentuk menjadi empang atau danau, sementara jalan-jalan dipoles, jembatan digores, kemaluan dioles, yang kadang membuat perut mules!.


***


Kemarau berlalu, musim hujan datang merengkuh. Awalnya hanya gerimis, lalu menjadi hujan yang terpenggal-penggal, kemudian menjadi hujan lebat serupa berjuta-juta busur panah yang dimuntahkan dari langit. Angin menampar, kilat menjilat, halilintar menggelegar. Saat itulah, ketika para warga sedang mendengkur dibalik sarung masing-masing, tiba-tiba tanah bebukitan longsor dan runtuh. Air kali, air sungai, air empang, air danau,  meluap. Air mata meruap.


Warga sontak kaget dan suara jeritan, rintihan dan tangisan seketika saling bersahutan seisi kampung. Warga kocar-kacir berusaha menyelamatkan diri masing-masing, tanpa peduli lagi dengan anak-istri-suami-kerabat, rumah maupun ternak-ternak mereka. Malam itu, kiamat betul-betul terjadi di kampung kami. Kampung harapan menjadi kampung lumpur yang dipenuhi mayat-mayat manusia yang membusuk, tertimbun tanah, dengan tubuh remuk bahkan bercerai-berai menjadi seperti potongan-potongan daging yang siap di masak.


Keesokan harinya, udara kampung kami dipenuhi aroma busuk menyengat hidung. Keesokan harinya, suara tangisan dan jeritan para warga yang terluka, yang kehilangan anggota tubuh, yang kehilangan anak-istri-suami-kerabat, abadi menuju puncak sunyi segala sunyi, mengalun syahdu mengabarkan duka tiada tara ke puncak hitam segala hitam. Keesokan harinya, pelajaran tingkat dasar kehidupan bagi warga yang masih hidup segera digelar : belajar menulis nasib sendiri di atas lempengan duka dengan tinta darah dan air mata.


Sementara di kaki bukit yang sudah retak dan terburai, di atas gundukan lumpur, seorang perempuan semakin lihai menggubah nada-nada balada, nyanyian duka yang mengiris dan menyayat-nyayat kalbu. Suaranya adalah igau burung hantu yang melengking ke puncak bukit, memantul-mantul di ruang hampa, lalu melesat jauh ke langit hitam, menyusup ke dalam gumpalan awan, kemudian kembali turun bersama patahan-patahan hujan, menjadi suara kepakan sayap jibril yang menghentak bumi.


Perempuan itu tiada henti meratapi suaminya yang ditemukan tersangkut bersama tangkai-tangkai pohon jarak di tepian sungai. Perempuan itu tiada henti meratapi putri semata wayangnya yang ditemukan tertimbun di dalam lumpur, tanpa mata, tanpa tangan, tanpa kaki, tanpa suara…perempuan itu tiada henti meratapi dirinya sendiri yang terjepit dibongkahan batu, dengan lidah menjulur, tangan menggapai-gapai, mata membelalak, dan kaki mengayuh angin.


Ia adalah sampan yang karam di lautan lumpur, sementara waktu berkemas pergi membawa debu-debu harapan. Ia adalah pelantun lagu-lagu balada gurun pasir, tertatih-tatih memainkan tempo, tersendat-sendat mengiringi pekikan rebana yang tercipta dari kulit-kulit babi. Ia perlahan diam. Suaranya perlahan pergi. Gerakannya perlahan melambat. Tangisnya perlahan menguap. Tubuhnya perlahan menyusup masuk ke dalam bongkahan batu, kemudian batu itu perlahan membasah, kemudian batu itu perlahan berlumut, kemudian di sela batu itu perlahan muncul mata air mata yang terus mengeluarkan air, kemudian bergantilah nama kampung kami menjadi kampung mata air mata.


***


Setelah bencana berlalu, kampung kami kemudian dipoles. Tidak akan ditemukan lagi hamparan sawah yang hijau. Tidak akan ditemukan lagi hamparan sawah yang menguning. Tidak akan ditemukan lagi hamparan pepohonan di bebukitan yang melambai mengikuti nyanyian alam. Bahkan, bukit itu telah rata setelah diinjak-injak mesin tangguh yang didatangkan dari planet lain. Tidak akan ditemukan lagi anak-anak sungai yang mengalirkan air bening. Tidak akan ditemukan lagi kicau burung dan suara kambing, sapi, kerbau atau kuda.


Sekarang, semuanya sudah berubah. Kampung kami telah disulap menjadi kota maju. Maju dengan lampu-lampu tamannya. Maju dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Maju dengan kios, toko, swalayan, terminal, bandara, pelabuhan, kafe, bar, hotel, tempat prostitusi dan rumah-rumah mewah. Sementara warga kampung yang dungu dan kolokan, telah disingkirkan ke selokan, digantikan makhluk-makhluk aneh dari planet lain.


Makhluk aneh itu tiada lelah bersolek di atas bangunan-bangunan kota, sementara mereka tidak pernah dan tidak akan mau tahu jika pondasi dan lantai bangunan-bangunan itu dibuat dari genangan darah dan air mata ribuan warga kampung. Makhluk-makhluk aneh itu akhirnya mengganti nama kampung kami menjadi kota maju, sementara warga kampung yang masih tersisa-meskipun sudah menjelma menjadi kawanan lalat yang berdiam di sekokan-tetap menamainya kampung mata air mata.


***


Sebongkah batu yang dulu berada di kaki bukit dan tiada henti mengeluarkan mata air mata, perlahan-lahan digelinding untuk dipecahkan di tengah alun-alun kota. Tiada seorangpun yang tahu jika di dalam batu itu ada selembar nyawa perempuan yang menggeliat, melayang-layang, terus merintih dan menangis. Tetapi, perempuan itu akan abadi menjadi mata air mata. Mata air mata yang akan muncul bukan hanya di kampung kami yang sudah molek, tetapi akan muncul diberbagai tempat.


Sewaktu-waktu, mungkin  akan muncul di emper-emper toko, di tempat-tempat pengungsian, di bawah kolong jembatan, di gubuk-gubuk yang tergusur, bahkan, bisa jadi menjelma menjadi lidah-lidah api yang membakar kelamin para makhluk aneh yang datang dari planet lain.


Mata air mata itu akan terus abadi dari mata seorang perempuan yang telah mengawini kesedihan. Perempuan itu bukanlah siapa-siapa. Perempuan itu hanyalah tumbal dari geliat keserakahan yang dianggap lumrah atas nama pembangunan?. Perempuan itu hanyalah warga kampung. Perempuan itu adalah aku***

(Makassar-Bulukumba 2011)

Bulan Pucat Kehabisan Darah


AKU tersontak kaget. Tiba-tiba saja Ibu sudah berdiri di depan pintu kamar, lengkap dengan pakaian kebesarannya : baju kebaya kuning keemasan, selendang tanggung sutra limar hijau dengan motif lepus bintang berante dan sarung batik bermotif tambal dengan berbagai aneka bunga. Aku tahu persis jika pakaian kebesaran itu hanya Ibu kenakan jika ingin menghadiri  acara kawinan. Tetapi, sepengetahuanku, musim kawinan di kampung kami telah berakhir sejak beberapa bulan yang lalu. Lagi pula, mana ada pesta kawinan selarut ini?.


Di kampung kami, selain ada musim hujan dan kemarau, juga dikenal istilah musim kawin yang berlangsung antara bulan Juli-Oktober. Menurut Ibu, warga sepakat menetapkan musim kawin antara Juli-Oktober-walaupun secara tidak tertulis- selain untuk menghindari musim hujan yang tentu saja bisa merusak acara resepsi, juga karena di bulan itu, para warga akan panen berbagai macam hasil kebun dan sawah yang bisa digunakan sebagai uang nikah dan uang belanja untuk kedua mempelai.


Tetapi perempuan yang berdiri di depan pintu kamar itu kupastikan benar-benar Ibu. Bagaimana mungkin aku salah? Bagaimana mungkin seorang anak bisa lupa dan tidak hafal dengan wajah ibunya?. Ibu perlahan mendekat. Seketika aroma kuncup melati menyeruak laju memenuhi kamar. Memang, Ibu sangat suka dengan aroma bunga melati. Dulu, setiap kali ingin ke pesta kawinan, Ibu tak lupa memakai wangi-wangian beraroma bunga melati. 


Ibu semakin mendekat, dan sekarang sudah berdiri di depanku yang sedang berbaring di atas ranjang. Betapa ingin aku bangkit, tetapi tubuhku seolah melekat dengan kasur ranjang. Betapa ingin aku bersuara, tetapi tenggoranku seolah tersumbat entah dengan benda apa. 


Perlahan, Ibu membungkuk lalu membetulkan kain penutup tubuhku yang sudah melorot. Tangan Ibu merayap, menyentuh dada, bibir lalu mengusap rambutku dengan lembut. Ibu tersenyum tipis namun sangat menawan, seolah tiada lagi yang lebih menawan. Ibu perlahan mencium keningku, dan aku hanya bisa mengatupkan mata. Ada serupa butiran salju yang seketika menyusup ke dalam tubuhku, manakala bibir Ibu menyentuh keningku. Sejuk yang menyenangkan.  Lalu, perlahan mulut Ibu merapat di kupingku, mengucapkan kata yang tidak bisa kupahami.


“Sudahlah! Bukankah hidup memang berisi seribu satu macam kemungkinan yang sulit kita tebak? Berhentilah bersedih, apalagi menyalahkan dirimu sendiri. Bangkitlah!” 
Aku bingung memaknai kata-kata Ibu. Aku ingin menanyakan maksud perkataan Ibu, tetapi tenggorokanku benar-benar terasa tersumbat. Aku ingin bangkit mendekap Ibu seperti yang sering aku lakukan selama ini, tetapi tubuhku benar-benar melekat dengan kasur ranjang. Jangankan untuk bangkit, sekedar bergerakpun aku tidak sanggup. Tubuhku serupa berlumuran ber gallon-galon lem yang melekatkan tubuhku dengan kasur ranjang ini.  


Mulut Ibu perlahan menjauh dari kupingku. Ibu perlahan bangkit, lalu menatapku dengan iba. Ibu perlahan berbalik, lalu dengan sangat pelan melangkah menuju mulut pintu. Sekali lagi Ibu menoleh, lalu kembali tersenyum.


“Ibu akan menghadiri suatu undangan, Hudan. Mungkin dalam waktu yang agak lama, bahkan terlampau lama, mengingat jarak dari sini ke tempat itu sangat jauh! Ibu ada undangan dari Negeri Cahaya, Hudan. Jaga dirimu baik-baik. Sekali lagi, berhentilah bersedih!”.
Lalu Ibu kembali melangkah. Lalu Ibu membuka pintu kamar. Lalu Ibu menutup pintu kamar. Lalu Ibu menghilang, seiring menghilangnya aroma kuncup melati. Lalu sepi meninggi ke puncak sunyi, dan aku diam dalam keheningan yang terlampau menyakitkan.


***


Dalam diam aku meraba kenangan. Dalam kesunyian aku mencoba mengingat-ingat sosok Ibu. Ya, aku ingat. Dulu, ketika aku masih kecil, di dalam pelukan ibulah aku merasa aman dan terlindungi ketika suatu hari Ayah Jojo datang mengamuk setelah anaknya kubanting ke dalam selokan karena sering mengolokiku. Mengatai Ibu pelacurlah, menyebut aku anak jadahlah, anak miskin tak tahu diri, bangsat, dan puluhan gelaran lainnya.


“Jangan coba-coba mengganggu Hudan, Barka!,” bentak Ibu penuh amarah ketika Ayah Jojo mengancam akan mengulitiku, “Seharusnya kau yang harus malu punya anak lelaki cengeng seperti Jojo. Begitulah jika anak terlahir dari operasi laser karena kau mengandalkan uang. Tidak seperti Hudan yang terlahir tanpa bantuan siapapun!”.  


Ajaib! Hanya dengan satu kalimat, Ayah Jojo perlahan berbalik lantas pergi. Walaupun, lelaki kaya itu sempat membuang satu kata ke udara yang menikam jiwa kami.
“Dasar anak berandalan...! Ibu dan anaknya sama saja. Sama-sama sialan. Dasar anak pelacur!”.


***


Tiada sedikitpun rasa takut selama aku masih berada di sisi Ibu. Hidup terasa begitu mudah seolah aku sedang melaju dengan mobil di atas jalan bebas hambatan. Dulu, Manakala petir menggelengar dan kilat menyambar-nyambar, saat itulah Ibu mulai mendongeng tentang pangeran guntur yang membebaskan putri kilat yang tertawan di negeri hujan. Ibu melucu, dan aku tertawa terpingkal-pingkal. Katanya, pangeran guntur itu buta tetapi ia punya mata hati yang amat peka. Sedangkan putri kilat, selain cantik, ia juga tak henti mengeluarkan cahaya. Kata Ibu, seluruh tubuh putri kilat dibaluti cayaha kuning keemasan.


“Apakah pangeran guntur tidak takut dengan hujan, Bu?!”
“Oh, tidak!,” lalu Ibu merapatkan mulutnya ke kupingku, berbisik lirih walaupun kami berada di dalam kelambu dan tiada seorangpun yang bisa mendengarkan percakapan kami, tidak juga tokek yang sesekali berbunyi di atas sana, “Hujan itu selain buta, ternyata juga tuli, Hudan! Jadi lucu kan? Pangeran buta ketemu dengan musuhnya yang buta dan tuli?!” lalu kami terpingkal-pingkal, tawa kami renyah menguliti malam yang tiada henti memandangi kami dengan heran.


“Apakah pangeran guntur dan putri kilat juga tidak punya Ayah seperti Hudan, Bu?”.
“Husss! Mana ada seseorang yang terlahir tanpa Ayah? Pangeran guntur dan putri kilat lahir dari rahim Ibu yang bernama langit, dan Ayah yang bernama tanah, Hudan! Begitupun kau! Kau terlahir dari rahim Ibu, dan ayahmu...”
“Ayahku siapa, Bu?”
“Ah, sudahlah! Ayahmu sudah Ibu tentang, karena kau tidak membutuhkannya. Bukankah kita bisa bahagia walaupun tanpa sosok Ayah, Hudan? Jadi berhentilah menanyakan Ayahmu, sayang...!”
Lalu kami berdekapan merajut mimpi, melewatkan malam yang begitu indah di dalam kelambu. Barulah ketika aku mulai remaja, Ibu mengatakan yang sebenarnya. Tentang siapa ayahku sesungguhnya.

“Maafkan Ibu, Hudan! Ibu punya masa lalu yang suram dan teramat ingin Ibu lupakan. Ibu yakin, dengan kehadiranmu, perlahan-lahan semuanya bisa kulupakan. Kau adalah cahaya yang bisa menerangi kegelapan itu, Hudan,”

Suara Ibu sejenak tertahan, mungkin mencoba memilih kata yang tepat, “Dulu kami memilih lari karena cinta kami tidak direstui keluarganya mas Damar. Itulah hal yang paling konyol yang pernah Ibu lakukan sepanjang hidup Ibu,” angin bertiup lebih kencang, menampar wajah kami yang bersisian di beranda rumah. 


Awan menggumpal, dan langit seketika hitam, “Sialnya, ketika Ibu sedang hamil tua dari hasil cinta terlarang Ibu dengan mas Damar, ia memilih kabur dengan perempuan lain. Ah, betapa cinta terkadang habis terkikis waktu, Nak! betapa mata terkadang silau menatap rembulan, Nak!,” hujan mulai jatuh satu-satu. Angin semakin kencang, dan kilat sesekali memotret bumi, “ Ibu terkatung-katung maratapi nasib. Andai saja Ibu tidak sedang mengandungmu waktu itu, andai saja Ibu tidak memikirkanmu, mungkin Ibu telah memutuskan untuk mengakhiri hidup saat itu juga.  Kaulah yang membuatku kuat, hingga Ibu berhasil melewati masa yang paling sulit dalam hidup Ibu, Hudan!”. Hujan semakin deras, angin menggeliat, merontokkan ranting-ranting cemara di depan rumah.


“Lalu...,” tanyaku tersendat serupa kijang yang terluka di ujung tombak, “Betukah kata orang-orang jika Ibu...,” kali ini kijang itu tersungkur, diam terbujur kaku, serupa kataku yang tak mampu kulanjutkan.
“Terserah bagaimana tanggapanmu, Hudan! Apa yang bisa Ibu lakukan setelah melahirkanmu, sedangkan Ibu sendiri tidak punya pekerjaan dan hanya numpang di rumah kontrakan? Hidup banyak pilihan, tetapi saat itu Ibu merasa pilihan lain sedang bersembunyi di ketiak waktu!” Ibu menatapku nanar, dan aku tahu, tanggul di belakang kelopak matanya sebentar lagi akan jebol,” Ibu melacurkan diri, dan setelah merasa cukup, Ibu berhenti dan membawamu ke rumah ini. Ke rumah kita...!”


Dari arah bukit, seekor anjing melolong. Kilat menyambar-nyambar, dan petir menggelegar. Hujan semakin deras, dan tanggul di belakang kelopak Ibu kali ini benar-benar jebol. Mengirimkan air bening, yang tumpah membasahi wajahnya. Aku merapat, lalu mendekapnya.


“Apakah kau membenci Ibu, Hudan?!” Kata Ibu lirih sambil mendekapku.
“Adakah alasan membenci seorang Ibu yang telah menjual harga dirinya demi melahirkan dan membesarkan seorang anak? Aku tidak akan sanggup membalasnya, dengan cara apapun juga, Bu. Pengorbanan Ibu terlampau mahal harganya, sampai tak dapat dinilai dengan apapun juga!”.


***


Koran pagi masih tergeletak di tepi ranjang kamar rumah sakit. Koran itu, akan selalu kubawa kemanapun juga. Di halaman depan, ada sebuah berita yang tak pernah sanggup aku baca dengan tuntas.
...tiga hari yang lalu, sebuah bus mengalami kecelakaan dan masuk ke dalam jurang. Seorang perempuan paruh-baya ditemukan tewas mengenaskan bersama empat belas penumpang lainnya, termasuk sopir bus itu. Hanya ada seorang penumpang yang selamat, walaupun harus rela kehilangan satu kaki setelah diamputasi…

Hitam perlahan turun menudungi bumi, menyusup masuk ke dalam kamar. Padahal, pagi masih terlampau ranum. 

Gelap. 
Hitam. 
Pekat. 

Seorang lelaki sesekali tampak tersenyum sambil menggapai-gapaikan tangannya. Lelaki itu sedang menyaksikan seorang perempuan paruh-baya yang tiada henti melambaikan tangan di atas puncak bukit yang tersapu cahaya kuning keemasan, seperti batu-batu karang yang dijilat cahaya senja. 


Perempuan itu begitu anggun dengan balutan kebaya kuning keemasan, selendang tanggung sutra limar hijau dengan motif lepus bintang berante dan sarung batik bermotif tambal dengan berbagai aneka bunga. Apakah itu negeri cahaya? Lelaki itu terlampau ingin menunggangi angin, melesat menerobos jendela kamar sambil membawa lembaran koran  dan selendang Ibu yang tiada pernah terlepas digenggamannya. Lelaki itu sudah tidak sabar lagi untuk mendaki bukit menuju puncak Negeri Cahaya. Lelaki itu adalah aku***

(Makassar, 15 Oktober 2011)

Selasa, 11 Oktober 2011

II-II-II-II

PADA waktu-waktu tertentu, kenangan akan datang menyesup ke dalam hati siapapun tak terkecuali ke dalam hatiku. Banyak kenangan yang dikais dari masa lalu, yang kadang membuat kita merasa geli dan senyum sendiri. Tetapi, dilain waktu, kenangan itu akan menjelma serupa burung gagak bermata api yang tak henti mengepakkan sayap di ranting pohon yang bermandikan duri.

Memuntahkan kembali lembaran hitam dari serbuk-serbuk duka dan luka, bahkan terkadang hati terasa begitu nyeri dan menyeruaklah air mata membentuk genangan-genangan halimun yang pucat di sepanjang garis hujan.
Alangkah indahnya kenangan masa lalu di mana kita mulai menata taman bunga direlung hati masing-masing, menyiram tunas-tunas asmara yang membiak, berpendar-pendar serupa cahaya senja yang merah membakar langit, yang kuning menyapu laut, yang perak membilas batu-batu karang. 

O, indahnya waktu itu, seolah tiada lagi yang lebih indah. Yang indah hanyalah taman, yang indah hanyalah senja, yang indah hanyalah binar matamu, yang indah hanyalah senyum tipismu, gemulai langkahmu, genggaman jarimu, kecupan mesramu, dan dekapan eratmu. Apa lagi yang lebih indah menyaksikan dirimu berkemas di bawah siraman senja sebelum kita menikmati malam-malam yang basah?

Tetapi begitulah! Kenangan adalah dua sisi mata koin. Ada yang indah, ada juga yang luka. Kenangan adalah secangkir kopi manis yang mau tidak mau, suka tidak suka, banyak atau sedikit, tetap saja meninggalkan ampas hitam. Kenangan adalah lengkingan terompet Kenny G yang indah mendayu-dayu, tetapi meninggalkan kecipak-kecipak nada yang getir dan menyayat kalbu.


Hidup adalah kenangan, saling merangkai dan menyambung antara kisah yang satu dengan kisah yang lainnya. Kadang terangkai begitu sempurna, sehingga kita selalu menginginkan kenangan itu datang kembali. Kadang pula tercabik di sana-sini, koyak-moyak di mana-mana, dan meninggalkan perih yang mengiris ulu hati.

Kita memang sering merindukan kenangan, bersama rintik hujan sore hari, di saat malam yang begitu senyap, disaat rembulan datang menantang, atau ketika berada di sebuah sudut tanpa batas. Kenangan sering datang perlahan, mendadak di depan mata, lalu lenyap begitu saja tanpa meninggalkan jejak di lintas tualang di lindap jalan. Adakalanya, kenangan itu datang seketika dari negeri entah, melukis bayang-banyang di depan mata, mengukir kisah-kasih di permukaan kaca, di daun jendela, di langit-langit kamar, di sepanjang trotoar, di bibir pantai dan di mana saja.

 ***

 Seperti senja itu, aku mengenangmu di sudut kafe yang menjuruk ke arah pantai losari[1]. Ya! Kau masih ingat kan? Dulu, kita sering menghabiskan malam di kafe ini, setelah menikmati siraman senja di bibir pantai. Di sinilah sekarang aku berada. Duduk sendiri di sudut bagian belakang. Tempat yang paling kau gemari.

 Katamu, dari tempat ini, kita leluasa menyambut bintang dan rembulan. Katamu, dari tempat ini, di bawah keremangan lampu dan alunan musik romantis, kita bisa leluasa bertatapan, saling menggenggam jari tanpa harus malu terlihat pengunjung lain. Tempat ini sudah banyak berubah. Sejak kepergianmu ke kota lain dua tahun lalu, rupanya kafe ini ikut berkemas. Kursi anyaman rotan yang unik berwarna cokelat, kini telah berganti dengan sofa empuk. Meja kayu jati berukir, kini telah berganti dengan meja-meja kaca yang mewah. Ah! Begitulah waktu. Ia enggan mengabadikan sisa-sisa cerita kita.
 
 “Mau pesan apa, mas?” sapa pelayan mengangetkanku, dan seketika menjaulah kenangan itu, terbang mengitari kafe dengan kepakan sayap yang menciptakan kecipak-kecipak rindu.
“Aku mau pesan dua segelas kenangan!,” pelayan itu tampak heran, dan matanya menyapu setiap sudut sofa, “Jangan khawatir! Sebentar lagi, Ia pasti datang! Kami akan duduk melewati malam seperti biasa!”. Pelayan itu tiba-tiba pergi, tanpa menanggapi ucapan dan permintaanku. Sejurus kemudian, datang lagi pelayan yang lain. Ah, dari jauh, pelayan itu sudah kukenali. Dulu, dialah yang setia melayani kita, bahkan rela mengundur waktu tutup karena menunggui kita.

 “Mau pesan apa Sawung? Lama sekali baru muncul. Mana Maryam?”
“Sebentar lagi ia datang! Seperti biasa, aku pesan dua gelas kenangan!”
“Tapi…,” kata Pak Randu terhenti, dan menatapku iba.
“Tapi kenapa, Pak?! Bapak jangan bergurau! Cepat sediakan, sebelum ia datang. Bapak tahu kan? Ia tidak akan memesan minuman apapun kecuali segelas kenangan seperti dulu!”
“Maaf, Sawung! Sejak kalian tidak pernah lagi muncul sejak dua tahun lalu, minuman kenangan telah kami hapus dari daftar menu. Kau tahu sendiri kan? Hanya kau dan Maryam yang selalu memesan minuman itu, setiap hari dan sepanjang malam. Dua gelas menjadi empat gelas, empat gelas menjadi delapan gelas, dan seterusnya seperti kalian memiliki perut sebesar kolam! Pesanlah yang lain saja!”
 “Tidak, Pak! Bapak pernah lihat sendiri kan? Maryam muntah setelah mencoba minuman lain? Pokoknya, aku mau dua gelas kenangan. Berapapun harganya, akan saya bayar!”
“Sayang sekali, anak muda! Minuman kenangan tidak semudah mencampur jus alpukat, atau membuat sarabba[2]. Butuh waktu bertahun-tahun untuk meramunya, dengan bahan yang tidak sembarangan. Maaf jika malam ini Bapak menyecewakan  kalian. Permisi!”.

 Aku duduk terpaku di atas sofa. Rasa kecewa seketika menjalar ke tubuhku. Seperti janjinya, sebentar lagi Maryam akan akan datang. Hanya karena Maryamlah aku kembali lagi ke kafe ini. Semalam, ketika aku sibuk melukis potongan senja yang pucat, tiba-tiba pesan Maryam masuk di ponselku. Entah kenapa, nomor ponselnya tiba-tiba kembali aktif. Sejak dua tahun lalu, semenjak kami berpisah di dermaga itu, ponselnya dikuasai suara wanita yang sangat membosankan, yang hanya bisa mengucapkan satu kalimat : nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan.

 Aku kembali membuka pesan masuk. Tidak salah lagi, dan tidak ada yang keliru. Ini betul-betul nomor maryam.

 Besok malam kita ketemu di tempat biasa ya? Aku akan kembali ke kota kita dulu.
 Pengirim:
Perempuan Kenangan, Maryam
081242******
Diterima:
09:12:58
10-11-2011

 Tetapi ke mana ia? Sejak SMS itu kuterima, ponsel Maryam kembali tidak aktif. Sudah berulang kali aku mencoba menghubunginya, tetapi ponselnya kembali dikuasai perempuan bersuara buruk itu yang mengaku bernama Veronika.

***

Malam semakin larut. Sudah lima jam lebih aku duduk sendiri di sofa ini. Melewatkan senja, melewatkan malam yang perlahan mengirimkan dingin. Sepotong bulan tampak mengejek di atas sana. Lampu-lampu kota masih saja gemerlap walaupun sebagian telah padam. Aku mulai putus asa. Tetapi, aku masih mencoba bertahan sebentar lagi.

 Barangkali saja maryam sedang dalam perjalan. Di ujung pantai terjauh, lampu-lampu kapal semakin membesar, pertanda kapal mulai merapat di bibir pantai. Apakah Maryam ada di sana? Tiba-tiba harapan itu muncul kembali, membiak dan menggumpal di dalam sanubari. Aku sudah memikirkan dua kata yang tepat untuk menyambutnya. Yang pertama, kata makian setelah dua tahun tidak pernah menghubungiku, dan yang kedua, tentu saja karena aku tidak sanggup menyiapkan segelas minuman kenangan untuknya.

 Tepat jam 11.11.11.11 (baca: jam 11 tanggal 11 bulan 11 tahun 2011) sebuah pesan  masuk di ponselku. Itu pasti SMS Maryam. Ponsel loncat dari tanganku, terburai di atas lantai, setelah aku membaca pesan masuk.

 Maaf, aku batal menemuimu. Itu namanya selingkuh, padahal suamiku begitu setia walaupun kadang menjengkelkan.
 Pengirim:
Perempuan Kenangan, Maryam
081242******
Diterima:
11:00:00
11-11-2011

 Dan aku menyusuri kota mencoba mengubur kenangan di taman-taman kota dan disepanjang trotoal dengan isi perut yang nyaris terburai : sakit!

 Catatan: [1]pantai di Makassar[2]minuman khas Makassar dari campuraan gula merah, jahe dan santan dengan cara dipanaskan. Jika ada kesamaan dengan nama tokoh, bukan faktor kesengajaan. Jam 11: 11-11-11 belum terjadi, tetapi pasti akan datang sebentar lagi, dan menjadi inspirasi tersendiri dalam cerita ini.
 
(Makassar, 12 Oktober 2011, Popsa, Pantai Losari)