entah dimana kau bertakhta. tak ada sandi atau jejak yang kau toreh di lintas tualang di lindap jalan atau sekedar bekas gincu pada ilalang di depan gubuk kenangan yang perlahan rebah dikepung ranung gelisah dan seribu tanda tanya, aduh! inginku, aduh anginku.
kini, dibawah samur zaman dan gigir bayang aku lari mengejar tumpukan kata dari lolong kereta berharap selembar saja saursaur auramu menukik menemuiku memintal asa membagi gelisah pada kuncup mahabbah dan jadi penjaga rimbungnya tunastunas puisi, aduh! inginku, aduh anganku.
/anganku.
/anganku.
(Makassar, Awal Mei 2009, Harian Radar Bulukumba 6 Agt 2011)