Jumat, 09 September 2011

Haruskah Mendukung Nadina Dalam Kontes Selangkangan Itu?

Saya tiba-tiba saja menjelma menjadi seorang perempuan muda, yang tidak mau ketinggalan tren atau mode. Apalagi, saya tinggal di kota besar dengan segala aktivitas yang menuntut saya tampil bukan hanya prima, tetapi harus istimewa, menarik dan seksi.

Sejak lima tahun yang lalu, jilbab atau kerudung maupun blus terusan lengan panjang menjadi penghuni rak bagian bawah, bercampur dengan tumpukan buku-buku tidak penting, dan saya hanya meliriknya jika kebetulan ada acara takziah keluarga atau sedang melayat ke rumah kerabat. Selebihnya, pakaian tersebut kembali meringkuk di dalam rak meratapi nasibnya yang tidak bisa bertahan dengan tren pakaian masa kini.

Tentu saja saya harus memperhatikan penampilan saya. Bukan hanya dalam pemilihan busana, tetapi saya harus jitu memilih keserasian warna. Kalau mau menemui klien laki-laki misalnya, saya biasanya memilih warna yang lembut, sedikit ketat, belahan dada sedikit terbuka, dan ujung rok bagian bawah harus sejengkal lebih tinggi diatas lutut.

Saya akan berlenggok menuju sofa disebuah kafe, meniru cara jalan Julia Perez, tersenyum sedikit binal ala Dewi Perssik, lalu bicara lembut sedikit mendesah meniru gaya bicara Syahrini sambil sesekali membasahi bibir dengan lidah persis kucing melihat tuannya melumat daging.
Ketika saya menghadiri pesta yang mewah, saya memilih pakaian yang agak gelap, dengan kilauan renda dan manik-manik yang mengesankan, dan alangkah senangnya ketika para tetamu melirik, mengulurkan tangan untuk berdansa, lalu berbisik, “malam yang sempurna!”.

Sekarang, saya lagi pusing mencari tren dan gaya baru. Majalah lifestyle tidak cukup membantu, saran rekan kerja terkesan kampungan, dan mal yang ada di kota saya hanya membidik pelanggan kelas rendahan! Sorry Laa..You,,,Enggak usya dehhh…Aih,,,Syubbehannallah…Kagak modis banget!
Saya seketika tergila-gila dengan penampilan para miss universe yang tidak hanya cantik (seperti saya), punya wawasan luar (saya buanget) juga berpenampilan menarik dan seksi. Alangkah sempurnanya penampilan saya jika seandanya bikini para miss itu melekat di tubuh saya. Alangkah anggun dan seksinya tubuh saya jika saja pakaian Nadina Alexandra Dewi Ames, calon putri dari Indonesi tercinta tiba-tiba saya kenakan.

Berhari-hari saya mencari merk dan jenis pakaian calon puteri sejagat itu di internet, menelpon teman di luar negeri dan menambah koleksi majalah mode. Saya ingin seperti mereka. Menarik dan seksi-seksi. Saya sudah membayangkan memakai bikini ditepian pantai, saya sudah membayangkan memakai pakaian Nadina menemani klien menghabiskan akhir pekan ditepi kolam renang hotel, saya sudah membayangkan diri saya menjadi miss words sesungguhnya. Miss Alam Panrita yang seksi tiada terkira, yang bisa membuat biji mata siapa saja melompat keluar sambil menelan ludah.

Aih,,,kuno! Ternyata busana Nadina, puteri Indonesi yang tercinta masih kalah tajir dibanding miss negara asing lainnya. Saya pun membidik cara busana miss universe Colombia, Catalina Robayo. Tidak bisa tidak! Saya harus bisa tampil seperti Catalina. Ah! Sayang Nazaruddin sudah tertangkap ketika ngumpat di Colombia sana. Kalau tidak, saya pasti “nitip” dibeliin busana ala Catalina! Oups…Aaah…Syubbehanallah…

Jika pembaca ingin mengetahui kenapa saya begitu tergila-gila dengan cara busana “Gatalina!” karena saya mengikuti perkembangan tren dan mode, mengenakan gaun mini warna koral aduhai menawan, tanpa celana dalam ketika hadir dalam penampilan resminya bersama 89 kontestan termasuk Nadina di Sao Paulo, Senin (5/9/2011). Yang lebih menarik, dan tentu saja saya ingin seperti itu, karena Catalina, perempuan calon puteri sejagat raya berusia 22 tahun ketahuan tidak memakai celana dalam sempat diabadikan wartawan surat habar lokal dan terpampang di headline keesokan harinya.

Keluarga saya di rumah yang kuno, menganggap miss universe tiada lain adalah kontes cabul yang mengumbar syahwat, sedangkan teman sekantor saya, teman komunitas saya, yang ketinggalan mode, menganggap kontes miss universe hanyalah ajang pamer selangkangan dan payudara, sedangkan saya sendiri menganggap ajang tersebut luar biasa istimewa dan tidak tertutup kemungkinan, gaya busana Catalina tanpa celana dalam itu akan menjadi tren yang bukan saja diikuti oleh saya, tetapi juga diikuti oleh banyak wanita di dunia tidak terkecuali di Indonesia.

Jangan heran jika tingkat kejahatan pelecehan seksual seperti pemerkosaan semakin merajalela di Indonesia! Siapa yang bisa tahan dengan bau parfum yang menyengat dengan busana bebas sensor seperti itu? beberapa waktu kemudian, jangan heran jika rak lemari paling bawah saya semakin sesak bukan hanya dengan jilbab, kerudung, tetapi bertambah sesak dengan kutang dan celala-celana dalam yang tiada berguna itu!***