Begitulah dalam permainan sepak bola: menang terbang, kalah tumbang! menang dipuji, kalah dicaci-maki! tentu kita masih ingat bagaimana gemuruhnya Stadion Utama Gelora Bung Karno setelah Indonesia menang atas Turkmenistan 4-3 dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2011 zona asia. Para suporter baik yang ada di dalam stadion, maupun diluar stadion bersorak gegap-gempita, memuji dan mengelu-elukan Bambang Pamungkas dkk.
Tetapi, manakala Timnas kalah, seperti yang terjadi di tempat yang sama ketika timnas kalah 0-2 melawan Bahrain, Bambang Pamungkas dkk pun menuai kritik dari berbagai pihak. Fenomena ini tentu saja tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi nyaris disemua Negara. Bahkan, bukan hanya dalam sepak bola, melainkan disemua cabang olahraga.
Yang jadi masalah, bukanlah menang-kalahnya timnas, toh kalah menang dalam sepak bola adalah hal lumrah. Tetapi, bagaimana kekalahan tersebut bisa disikapi dengan bijak. Seharusnya pasca kekalahan timnas melawan Iran di kandang lawan sebelum menghadapai Bahrain, dijadikan momentum kebangkitan timnas. Kurang apa coba! Bahrain bukanlah tim yang terlalu tangguh jika dibandingkan dengan tim macan asia lainnya seperti Jepang atau Korea Selatan, dengan kata lain Bahrain masih selevel dengan Indonesia, baik dari segi permainan maupun rangking kedua negara yang tidak jauh beda. Selain itu, timnas bermain di kandang sendiri, disaksikan oleh puluhan ribu suporter, bahkan Bapak SBY turut hadir memberikan semangat.
Saat pertandingan timnas melawan Bahrain beberapa hari yang lalu, timnas seharusnya menang dan tak ada alasan untuk kalah merujuk kondisi kedua tim yang sepadan, sedangkan timnas memiliki keuntungan karena bermain di kandang sendiri. Toh, jika pada akhirnya timnas keok di kandang sendiri, jika pada akhirnya timnas mengecewakan seluruh rakyat indonesia termasuk Bapak SBY yang memutuskan meninggalkan stadion sebelum pertandingan selesai, tidak sepantasnya jika kesalahan sepenuhnya dilimpahkan kepada para pemain.
Bambang Pamungkas dkk telah berjuang hidup-mati di lapangan, tetapi justru menjapat hujatan setelah kalah dari lawan. Bahkan, pelatih timnas Wim Rijsbergen mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwasanya pemain timnas tidak layak bermain di level Internasinal dengan kata-kata kasar dan makian kepada para pemain timnas, dan sang pelatih meminta pemain-pemain baru agar bisa mengembangkan permain. Apakah ada jaminan jika pemain baru yang Wim minta bisa mendongkrak prestasi timnas? mengingat Bambang Pamungkas dkk merupakan pemain-pemain terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini? tidakkah keinginan Wim justru akan lebih menghancurkan kekuatan timnas mengingat kekompakan sebuah tim sulit tercipta dalam waktu cepat? padahal, timnas dalam waktu dekat sudah harus berjibaku dalam lanjutan Pra Piala Dunia sona Asia.
Wim Rijsbergen seharusnya mengoptimalkan kekuatan timnas yang ada saat ini dan merangkul para pemain. Bukan malah menghujat para pemain dengan kata-kata kasar yang tentu saja bisa meruntuhkan moral dan semangat pemain, yang pada akhirnya timnas akan terpuruk dalam kondisi kehilangan sopport dari pelatih, dan bisa ditebak, jika ini benar-benar terjadi, timnas akan kalah sebelum beranding. Melihat konflik yang semakin memanas antara pelatih dan para pemain timnas saat ini, melihat sosok pelatih Wim yang terkesan lempar tanggung-jawab dan temperamental, menyalahkan pemain tanpa sedikitpun ia merasa bersalah, dengan tegas saya katakan jika Wim Rijsbergen tidaklah lebih baik dari pelatih timnas sebelumnya seperti Alfred Rield, bahkan Wim sama sekali tidak pantas melatih timnas dengan sikap temperamentalnya yang bukan saja melukai hati pemain timnas, tetapi sudah mencederai hati seluruh rakyat Indonesia.
Tetapi, manakala Timnas kalah, seperti yang terjadi di tempat yang sama ketika timnas kalah 0-2 melawan Bahrain, Bambang Pamungkas dkk pun menuai kritik dari berbagai pihak. Fenomena ini tentu saja tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi nyaris disemua Negara. Bahkan, bukan hanya dalam sepak bola, melainkan disemua cabang olahraga.
Yang jadi masalah, bukanlah menang-kalahnya timnas, toh kalah menang dalam sepak bola adalah hal lumrah. Tetapi, bagaimana kekalahan tersebut bisa disikapi dengan bijak. Seharusnya pasca kekalahan timnas melawan Iran di kandang lawan sebelum menghadapai Bahrain, dijadikan momentum kebangkitan timnas. Kurang apa coba! Bahrain bukanlah tim yang terlalu tangguh jika dibandingkan dengan tim macan asia lainnya seperti Jepang atau Korea Selatan, dengan kata lain Bahrain masih selevel dengan Indonesia, baik dari segi permainan maupun rangking kedua negara yang tidak jauh beda. Selain itu, timnas bermain di kandang sendiri, disaksikan oleh puluhan ribu suporter, bahkan Bapak SBY turut hadir memberikan semangat.
Saat pertandingan timnas melawan Bahrain beberapa hari yang lalu, timnas seharusnya menang dan tak ada alasan untuk kalah merujuk kondisi kedua tim yang sepadan, sedangkan timnas memiliki keuntungan karena bermain di kandang sendiri. Toh, jika pada akhirnya timnas keok di kandang sendiri, jika pada akhirnya timnas mengecewakan seluruh rakyat indonesia termasuk Bapak SBY yang memutuskan meninggalkan stadion sebelum pertandingan selesai, tidak sepantasnya jika kesalahan sepenuhnya dilimpahkan kepada para pemain.
Bambang Pamungkas dkk telah berjuang hidup-mati di lapangan, tetapi justru menjapat hujatan setelah kalah dari lawan. Bahkan, pelatih timnas Wim Rijsbergen mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwasanya pemain timnas tidak layak bermain di level Internasinal dengan kata-kata kasar dan makian kepada para pemain timnas, dan sang pelatih meminta pemain-pemain baru agar bisa mengembangkan permain. Apakah ada jaminan jika pemain baru yang Wim minta bisa mendongkrak prestasi timnas? mengingat Bambang Pamungkas dkk merupakan pemain-pemain terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini? tidakkah keinginan Wim justru akan lebih menghancurkan kekuatan timnas mengingat kekompakan sebuah tim sulit tercipta dalam waktu cepat? padahal, timnas dalam waktu dekat sudah harus berjibaku dalam lanjutan Pra Piala Dunia sona Asia.
Wim Rijsbergen seharusnya mengoptimalkan kekuatan timnas yang ada saat ini dan merangkul para pemain. Bukan malah menghujat para pemain dengan kata-kata kasar yang tentu saja bisa meruntuhkan moral dan semangat pemain, yang pada akhirnya timnas akan terpuruk dalam kondisi kehilangan sopport dari pelatih, dan bisa ditebak, jika ini benar-benar terjadi, timnas akan kalah sebelum beranding. Melihat konflik yang semakin memanas antara pelatih dan para pemain timnas saat ini, melihat sosok pelatih Wim yang terkesan lempar tanggung-jawab dan temperamental, menyalahkan pemain tanpa sedikitpun ia merasa bersalah, dengan tegas saya katakan jika Wim Rijsbergen tidaklah lebih baik dari pelatih timnas sebelumnya seperti Alfred Rield, bahkan Wim sama sekali tidak pantas melatih timnas dengan sikap temperamentalnya yang bukan saja melukai hati pemain timnas, tetapi sudah mencederai hati seluruh rakyat Indonesia.