Oleh : Alam Panrita
DULU, kampung kami sebenarnya bernama kampung harapan. Kampung yang terletak di kaki bukit yang hijau dengan hamparan pepohonan, mulai dari batas kampung kami di bantalan sungai sampai ke atas puncak bebukitan. Manakala hamparan padi masih ranum, kampung kami tampak seperti karpet maha luas yang dirajut dari benang-benang berwarna hijau. Manakala padi siap dipanen, kampung kamipun menjelma lautan kuning keemasan tersapu sinar matahari pagi atau cahaya senja.
Tetapi, lambat laun, nama kampung kami berubah menjadi kampung mata air mata, seiring ditemukannya sebuah mata air di sela sebongkah batu yang terletak persis di kaki bukit. Mata air mata itu tercipta bukan dari kerak bumi atau dari perut bukit, tetapi, dari mata seorang perempuan yang abadi meminang kesedihan. Perempuan yang perlahan diam, perempuan yang perlahan tertawa-tawa, perempuan yang perlahan mencakar-cakar tanah, perempuan yang perlahan terisak, perempuan yang perlahan merintih, perempuan yang perlahan menyusup ke dalam sebongkah batu yang terus mengirimkan air seolah tak kenal musim.
Beberapa tahun silam, ketika warga kampung sedang sibuk menyambut hujan, ketika warga kampung sedang sibuk menyiapkan benih-benih padi untuk ditanam di sawah-sawah, ketika warga kampung sedang sibuk menyiapkan biji-biji jagung untuk ditanam di ladang-ladang, ketika warga kampung sedang sibuk membersihkan parit, selokan, tanggul, kali, dan sungai, tiba-tiba saja ada makhluk asing yang menyusup dan turun ke bumi. Mulanya hanya seekor makhluk asing, lalu menjadi sepuluh ekor makhluk asing, lalu menjadi seratus ekor makhluk asing, lalu menjadi seribu ekor makhluk asing, lalu menjadi beribu-ribu ekor makhluk asing yang tumpah ruah membanjiri kampung kami.
Potongan makhluk asing itu tidak jauh berbeda dengan dengan potongan warga kampung. Rambut, jidat, hidung, mulut, mata, dada, bahu, tangan, kaki, semuanya serupa baik bentuk serta letaknya. Tidak karena mereka makhluk asing lantas biji matanya melekat di tengkuk, misalnya. Tidak karena mereka makhluk asing sehingga mulutnya berdampingan dengan pantat atau gigi-gigi mereka berjejer di atas lutut, misalnya. Tidak sama sekali. Betul-betul serupa dengan potongan warga kampung, baik bentuk maupun letak anggota tubuhnya. Hanya saja, warna tubuh makhluk asing itu lebih mengkilap. Gigi-giginya putih, rambutnya tersisir rapi, sorot matanya tajam menikam, senyumnya aduhai mempesona, mulutnya manis -walaupun lidahnya kadang-kadang bercabang-.
Mereka bukan alien, mereka bukan dinosaurus, mereka bukan kura-kura ninja, mereka adalah makhluk asing yang turun ke bumi mengenakan pakaian yang serba mengkilap, membawa meteran-meteran, pulpen, buku-buku catatan, kamera, laptop, kunci inggris, besi baja, sinso, buldoser, mobil tongkang, bahkan perahu. Mereka, makhluk asing itu, awalnya memilih tinggal di dalam hutan, bersenda gurau, tertawa-tawa, terbahak-bahak, sambil menebangi pokok-pokok kayu yang kemudian diangkut ke planet lain dengan mobil tongkang atau perahu yang sudah menunggu di bantalan anak-anak sungai.
***
Begitulah! Seiring berjalannya waktu, gerombolan makhluk aneh itu semakin bertambah setiap hari. Mereka tidak hanya tinggal di hutan, tetapi sebagian sudah ikut berbaur dengan warga kampung. Bahkan, dengan tipu muslihatnya, banyak warga kampung yang akhirnya menjadi kaki-tangan makhluk asing yang kemudian ikut membantu mencukur gundul bebukitan dan menelanjangi hutan.
Bahkan, makhluk asing itu berhasil membujuk kepala kampung untuk merampas tanah warga yang kemudian dibanguni jembatan, pabrik-pabrik, gedung pencakar langit, rumah-rumah kaca, bahkan hamparan padi di kampung kami akhirnya berhasil disulap menjadi deret-deret rumah susun, kios, penginapan, dan berbagai macam bangunan lainnya. Kali dan anak-anak sungai telah dikeruk, diperluas, dibentuk menjadi empang atau danau, sementara jalan-jalan dipoles, jembatan digores, kemaluan dioles, yang kadang membuat perut mules!.
***
Kemarau berlalu, musim hujan datang merengkuh. Awalnya hanya gerimis, lalu menjadi hujan yang terpenggal-penggal, kemudian menjadi hujan lebat serupa berjuta-juta busur panah yang dimuntahkan dari langit. Angin menampar, kilat menjilat, halilintar menggelegar. Saat itulah, ketika para warga sedang mendengkur dibalik sarung masing-masing, tiba-tiba tanah bebukitan longsor dan runtuh. Air kali, air sungai, air empang, air danau, meluap. Air mata meruap.
Warga sontak kaget dan suara jeritan, rintihan dan tangisan seketika saling bersahutan seisi kampung. Warga kocar-kacir berusaha menyelamatkan diri masing-masing, tanpa peduli lagi dengan anak-istri-suami-kerabat, rumah maupun ternak-ternak mereka. Malam itu, kiamat betul-betul terjadi di kampung kami. Kampung harapan menjadi kampung lumpur yang dipenuhi mayat-mayat manusia yang membusuk, tertimbun tanah, dengan tubuh remuk bahkan bercerai-berai menjadi seperti potongan-potongan daging yang siap di masak.
Keesokan harinya, udara kampung kami dipenuhi aroma busuk menyengat hidung. Keesokan harinya, suara tangisan dan jeritan para warga yang terluka, yang kehilangan anggota tubuh, yang kehilangan anak-istri-suami-kerabat, abadi menuju puncak sunyi segala sunyi, mengalun syahdu mengabarkan duka tiada tara ke puncak hitam segala hitam. Keesokan harinya, pelajaran tingkat dasar kehidupan bagi warga yang masih hidup segera digelar : belajar menulis nasib sendiri di atas lempengan duka dengan tinta darah dan air mata.
Sementara di kaki bukit yang sudah retak dan terburai, di atas gundukan lumpur, seorang perempuan semakin lihai menggubah nada-nada balada, nyanyian duka yang mengiris dan menyayat-nyayat kalbu. Suaranya adalah igau burung hantu yang melengking ke puncak bukit, memantul-mantul di ruang hampa, lalu melesat jauh ke langit hitam, menyusup ke dalam gumpalan awan, kemudian kembali turun bersama patahan-patahan hujan, menjadi suara kepakan sayap jibril yang menghentak bumi.
Perempuan itu tiada henti meratapi suaminya yang ditemukan tersangkut bersama tangkai-tangkai pohon jarak di tepian sungai. Perempuan itu tiada henti meratapi putri semata wayangnya yang ditemukan tertimbun di dalam lumpur, tanpa mata, tanpa tangan, tanpa kaki, tanpa suara…perempuan itu tiada henti meratapi dirinya sendiri yang terjepit dibongkahan batu, dengan lidah menjulur, tangan menggapai-gapai, mata membelalak, dan kaki mengayuh angin.
Ia adalah sampan yang karam di lautan lumpur, sementara waktu berkemas pergi membawa debu-debu harapan. Ia adalah pelantun lagu-lagu balada gurun pasir, tertatih-tatih memainkan tempo, tersendat-sendat mengiringi pekikan rebana yang tercipta dari kulit-kulit babi. Ia perlahan diam. Suaranya perlahan pergi. Gerakannya perlahan melambat. Tangisnya perlahan menguap. Tubuhnya perlahan menyusup masuk ke dalam bongkahan batu, kemudian batu itu perlahan membasah, kemudian batu itu perlahan berlumut, kemudian di sela batu itu perlahan muncul mata air mata yang terus mengeluarkan air, kemudian bergantilah nama kampung kami menjadi kampung mata air mata.
***
Setelah bencana berlalu, kampung kami kemudian dipoles. Tidak akan ditemukan lagi hamparan sawah yang hijau. Tidak akan ditemukan lagi hamparan sawah yang menguning. Tidak akan ditemukan lagi hamparan pepohonan di bebukitan yang melambai mengikuti nyanyian alam. Bahkan, bukit itu telah rata setelah diinjak-injak mesin tangguh yang didatangkan dari planet lain. Tidak akan ditemukan lagi anak-anak sungai yang mengalirkan air bening. Tidak akan ditemukan lagi kicau burung dan suara kambing, sapi, kerbau atau kuda.
Sekarang, semuanya sudah berubah. Kampung kami telah disulap menjadi kota maju. Maju dengan lampu-lampu tamannya. Maju dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Maju dengan kios, toko, swalayan, terminal, bandara, pelabuhan, kafe, bar, hotel, tempat prostitusi dan rumah-rumah mewah. Sementara warga kampung yang dungu dan kolokan, telah disingkirkan ke selokan, digantikan makhluk-makhluk aneh dari planet lain.
Makhluk aneh itu tiada lelah bersolek di atas bangunan-bangunan kota, sementara mereka tidak pernah dan tidak akan mau tahu jika pondasi dan lantai bangunan-bangunan itu dibuat dari genangan darah dan air mata ribuan warga kampung. Makhluk-makhluk aneh itu akhirnya mengganti nama kampung kami menjadi kota maju, sementara warga kampung yang masih tersisa-meskipun sudah menjelma menjadi kawanan lalat yang berdiam di sekokan-tetap menamainya kampung mata air mata.
***
Sebongkah batu yang dulu berada di kaki bukit dan tiada henti mengeluarkan mata air mata, perlahan-lahan digelinding untuk dipecahkan di tengah alun-alun kota. Tiada seorangpun yang tahu jika di dalam batu itu ada selembar nyawa perempuan yang menggeliat, melayang-layang, terus merintih dan menangis. Tetapi, perempuan itu akan abadi menjadi mata air mata. Mata air mata yang akan muncul bukan hanya di kampung kami yang sudah molek, tetapi akan muncul diberbagai tempat.
Sewaktu-waktu, mungkin akan muncul di emper-emper toko, di tempat-tempat pengungsian, di bawah kolong jembatan, di gubuk-gubuk yang tergusur, bahkan, bisa jadi menjelma menjadi lidah-lidah api yang membakar kelamin para makhluk aneh yang datang dari planet lain.
Mata air mata itu akan terus abadi dari mata seorang perempuan yang telah mengawini kesedihan. Perempuan itu bukanlah siapa-siapa. Perempuan itu hanyalah tumbal dari geliat keserakahan yang dianggap lumrah atas nama pembangunan?. Perempuan itu hanyalah warga kampung. Perempuan itu adalah aku***
(Makassar-Bulukumba 2011)