malam sebentar lagi merayap. sebongkah musim mulai mengambang. aku berbaring di altar nasib memandangi
ranting-ranting patah dan bulan pucat kehabisan darah. menaburkan lidah belasungkawa dan doa-doa berletusan ke angkasa. padang-padang tengadah. kabut malam belum luruh tapi air mataku telah jatuh. apa aku terluka?
aku meraba kedua bahuku, dadaku bahkan jidatku. tak ada apa-apa di sana. tak ada tetesan darah. tetapi mengapa air mataku semakin tumpah di batu cadas? merayap lalu mencakar tanah merah? membuat sungai-sungai baru yang tak berhulu. Akh, apa aku benar-benar terluka? lalu siapa yang melukaiku? di sini tak ada siapa-siapa. tak ada sabetan cerulit. tak ada busur panah pun letupan peluru
tubuhku semakin kaku. nafasku tersengal layu. pandanganku kabur. diam dalam gigil, sambil berusaha menebak rahasia yang karam di lautan aksara. tak ada sepotong senja, sekuntum mawar, pun selembar rindu yang rimbung bersama tunas-tunas puisi.
perlahan aku menjelma menjadi puri dari air mataku sendiri. aku letupkan doa terakhir ke angkasa tetapi menukik ke arah bulan. aduh, bulan yang pucat jatuh. rebah tepat disampingku. "kau terluka!". bisiknya lirih. "dimana?" aku balik bertanya. " di situ" lanjutnya sambil menunjuk kearah dadaku. ya, perih memang kurasakan. akh, teryata luka itu berasal dari dalam. jauh dari dalam menembus tulang.