Sabtu, 25 Juni 2011

PUISIKU-PUISIMU

Barangkali berhadapan dengan sejumlah puisi, menjadikan kita kebinggungan sendiri. Apa tidaknya, puisi moden selalunya berkunjung jauh ke sistem konvensi bahasa budaya atau sastra dapat mempengaruhi interpritasi kita terhadap sebuah puisi yang kelihatannya begitu sederhana. Ia tergantung pada kemampuan pembaca di bidang bahasa termasuk latar belakang lingkungan, begitu juga kemampuan tentang konvensi sastra dan budaya tertentu. Seorang pembaca harus terarah oleh pengalamannya dan pengetahuannya, baik yang implisit mahupun yang eksplicit. Yang sadar atau tidak sadar.

Cocktail Party, karya Teoti Herati ( Sajak-Sajak 33, 1974 ) adalah satu contoh sajak yang sangat halus dan rumit. Struktur dan maksudnya bertingkat-tingkat, mulai dengan persiapan seorang wanita untuk cocktail party, seakan sangat nyata dan faktual. Lihatlah bagaimana Teoti Herati menulis Cocktail Party;

meluruskan kain-baju dahulu
meletakkan lekat sanggul rapi
lembut ikal rambut di dahi
       pertarungan dapat dimulai
berlumba dengan waktu
dengan kebosanan, apabila
       pertarungan ilusi
seutas benang dalam taufan
amuk badai antara insan

taufan? ah, siapa
yang masih peduli
tertawa kecil, mengigit jari adalah
      perasaan yang dikebiri
kedahsyatan hanya untuk dewa-dewa
tapi deru api unggun atas
       tanah tandus kering
angin liar, cemburukan halilintar
       mengiringi

perempuan seram yang kuhadapi, dengan garis alis dan cemuh
       kejam
       tertawa lantang -
aju tercebak, gelas anggur di tangan
tersenyum sabar pengecut menyamar -
       ruang menggema
dengan gumam hormat, sapa menyapa
dengan mengibas pelangi perempuan
itu pergi, hadirin mengagumi

mengapa tergoncang oleh cemas
dalam-dalam menghela nafas,kemas
      hadapi saingan dalam arena?
kata orang hanya maut pisahkan cinta
tapi hidup merenggut, malahan maut
      harapan semu tempat bertemu
itu pun hanya kalau kau setuju

keasingan yang mempesoana, segala
tersayang yang telah hilang -
      penenggelaman
dalam akrab dan lelap
kepanjangan mimpi tanpa derita
dan amuk badai antara insan?
gumam, senyum dan berjabatan tangan

Puisi Cocktail Party adalah contoh yang menarik tentang cara bagaimana puisi moden menyulitkan pemahaman, memang ada ' aku ' dan ' kau ' tetapi tokoh-tokoh itu tidak segera muncul. ' Aku ' baru muncul dalam bait ketiga, dalam kontrontasi dengan perempuan seram ( yang dihadapi.. aku terjebak ) sesudah itu tidak disebut lagi - tetapi tetap hadir malahan terpaksa kita sebagai pembaca hadirkan dari awal puisi ini: aku yang berdendang yang bersiap untuk menghadiri cocktail party, aku yang bermenung dan lain-lain.

Dan si ' kau ' lebih tersembunyi lagi - hanya sekali saja disebut, sekan sambil lalu: maut sebagai harapan semua tempat bertemu untuk si ' aku ' - itu pun hanya kalau kau setuju dan dari kontaks ini jelas pula bahawa si 'kau ' itu adalah bekas kekasih dari si ' aku '  yang dianggapnya dirampas oleh perempuan seram tadi; sehingga satu-satunya harapan yang masih tinggal adalah pertemuan dengan maut.

Puisi Cocktail Party menurut A. Teeuw dalam arti sepenuh-penuhnya harus disebut puisi ironik, baik dalam strukturnya yang bertingkat-tingkat, yang saling melengkapi, saling menjelaskan, tetapi juga saling menisbikan dan saling memungkiri, mahupun dalam aspek formalnya.

Begitulah tanggapan jauh A. Teeuw, sarjana, guru, penterjemahan yang sangat ikhlas mengerjakan sesuatu yang diakrapinya. Dalam usia 90 tahun kini, beliau dilahirkan pada tahun 1921 di Gorinchem, sekarang menetap di Thornbreeksraat, bersebelahan Plantsoen, kota Leiden. Catatannya tentang puisi Cocktail Party Toeti Herati adalah kekagumannya terhadap penyair wanita Indonesia.


rujukan

A. Teeuw. Membaca dan Menilai Sastera, Gramedia , 1983
Muhammad Haji Salleh, Dewan Sastera ( Jun ) 2011

Jumat, 24 Juni 2011

Sutardji Calzoum Bachri

"O AMUK KAPAK"

Sutardji Calzoum Bachri 
01. ngiau! kucing dalam darah dia menderas lewat dia mengalir ngilu ngiau dia bergegas lewat dalam aortaku dalam rimba darahku dia besar dia bukan harimau bukan singa bukan hiena bukan leopar dia macam kucing bukan kucing tapi kucing ngiau dia lapar dia menambah rimba afrikaku dengan cakarnya dengan amuknya dia meraung dia mengerang jangan beri daging dia tak mau daging jesus jangan beri roti dia tak mau roti ngiau

02. kucing meronta dalam darahku meraung merambah barah darahku dia lapar O alangkah lapar ngiau berapa juta hari dia tak makan berapa ribu waktu dia tak kenyang berapa juta lapar lapar kucingku berapa abad dia mencari mencakar menunggu

03. tuhan mencipta kucingku tanpa mauku dan sekarang dia meraung mencariMu dia lapar jangan beri daging jangan beri nasi tuhan menciptanya tanpa setahuku dan kini dia minta tuhan sejemput saja untuk tenang sehari untuk kenyang sewaktu untuk tenang di bumi

04. ngiau! dia meraung dia mengerang hei berapa tuhan yang kalian punya beri aku satu sekedar pemuas kucingku hari ini ngiau huss puss diamlah aku pasang perangkap di afrika aku pasang perangkap di amazon aku pasang perangkap di riau aku pasang perangkap di kota kota siapa tahu nanti ada satu tuhan yang kena lumayan kita bisa berbagi sekerat untuk kau sekerat untuk aku ngiau huss puss diamlah

05. lebih barah dari barah membarah dalam darah dalam tiap zarah marwahku dia makan aku sekarang dialah kucing mautak mauku dia jadikan aku penggantiMu dalam rimba diriku dalam dunia dalam kota dalam langit diriku ngiau! huss puss pergilah aku tak tuhan aku tak tuah aku tak setan aku tak wauwau aku tak jimat aku tak tamtam taktaktaktaktaktaktaktak

06. siapa bikin socrates siapa bikin plato siapa bikin archimedes siapa bikin zeno siapa bikin sartre siapa bikin laotze siapa bikin mpu siapa bikin guru kalau tak aku yang membuat banyak bijak dan belum menjangkauMu ?

07. salam padamu gelisah hari tabik padamu bibit benci salam padamu benih seteru maka habil datanglah kabil maka kabil datanglah habil maka habil bisa kabil maka kabil bisa habil maka puah pada kalian maka puah jadilah perang

08. huh berapa banyak tawananku! sinekad siyakin sikeraskepala simaunyasaja ngiau aku letakkan seribu kakiku pada perut mereka kurobek tubuh kukelantang badan kucabut gigi kuku kuiris tubuh kuperas badan kubelah benak kubuka rabu mereka siapa tahu ada tuhan sembunyi disana kukirim mereka ke tiang gantungan hei martir sinekad sikeraskepala tawanan berapa tuhan yang kalian punya pelokek! kalian menyimpan tuhan untuk sendiri sampai kalian bangkai dan aku hanya melihat jejakNya pergi di ujung nafas kalian entah kemana harimau mati tak meninggalkan kenyang manusia mati tuhan hidup entah dimana

09. apa yang ngalir? darah. apa yang mekar? mawar. apa yang julur? harap. apa yang rasa? sesal. dengan seribu sesal kucari Kau dengan segala asal kucari Kau dengan seribu akal kucari Kau dengan seribu dajal kucari Kau

10. maka adalah jejak pada mawar darah pada lidah menggapai tanah pada bahu sakai pada pita komputer pada tank retak pada meriam luka pada luka beribu batalyon pada luka lekuk bungkalan gelimang goyang pada koyak beribu perawan pada patah bujang

11. aku telah nemukan jejak aku telah mencapai jalan tapi belum sampai tuhan berapa banyak abad lewat berapa banyak arloji pergi berapa banyak isyarat dapat berapa banyak jejak menapak agar sampai padaMu? jejak tak menuju ke mana jejak tak sampai ke sana jejak yang dari diri bertanya sendiri ngiau?

12. kucing meraung dalam darah meronta dalam aorta menderam dalam tiap zarah marwah dalam tiap kata diriku hai kau dengar kucing memanggilMu ? aku lepaskan segala bahasa agar kucingku bisa memanggilMu aku biarkan penyair dengan katakata tapi banyak yang meletakkan bertonton gula purapura bergerobak kerak filsafat hingga kata tercekik karenanya bagaimana penyair bisa sampai tuhan kalau kata tak sampai? kambing umpan mati tercekik sedang rimau tak makan bangkai lewat tertawa terkehkehkehkehkehkehkehkehkehkehkeh

13. husspuss diamlah kasihani mereka mereka sekedar penyair husspuss maafkan aku aku bukan penyair sekedar aku depan yang memburu membebaskan kata memanggilMu pot pot pot pot pot pot kalau pot tak mau pot biar pot semau pot mencari pot pot hei Kau dengar manteraku Kau dengar kucing memanggilMu izukalizu m a p a k a z a b a itasatali tutulita papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco zukuzangga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zukuzangga zegezegeze aahh....! nama nama kalian bebas carilah tuhan semaumu

14. kucing meronta dalam darah meraung merambah barah darahku berapa juta hari dia mengerang berapa ribu waktu dia menderu mencari mencakar menunggu

15. susu haru segala perempuan aku telah ngisap kalian perigi langit sumur seribu perahu aku telah meregukmu malam seribu bulan aku telah menidurimu tiang segala lelaki aku telah sampai puncakmu aku telah berjuta waktu mencari menungguMu

16. lebih tua dari niniveh lebih tua dari sphinx lebih tua dari maya lebih tua dari jawa lebih tua dari babilon aku telah hidup sebelum musa ratusan abad ngalir dalam nadi mengerang meraung menderu mendesah darah meronta dalam aortaku yang ada kini yang ada nanti yang ada kapan setelah sampai venus setelah sampai zaman maka akulah hidup dan Kau telah menapakkan berjuta jejakMu dalam hidupku

17. jejak tak menggapai tuju jejak tak mewariskan sampai luka tak meninggalkan badan resah tak menjangkau pegang siapa Kau? batu risau batu pukau batu Kau-ku batu jarum batu ngilu batu bisu kaukah itu teka teki yang tak menepati janji?

18. dengan seribu tuak kukuak lautan dengan seribu matari kucoba jadi dengan sejuta meriam kucoba menang dengan sejuta mawar kucoba penawar dengan apa mencariMu? kucing resah kucing barah kucing marwah kucing amuk kucing rasuk kucing palak kucing runcing kucing sembilu kucing batinku ngiau!

19. tubuh tak habis ditelan laut tak habis dimatari luka tak habis dikoyak duka tak habis digelak langit tak habis dijejak burung tak habis di kepak erang tak sampai sudah malam tak sampai gapai itulah aku lukaku lukakalian lukakita lukarisau lukangiau wau

20. musang apa ayamku rimau apa rusakau elang apa ikankau murai apa cacingkau kalian apa tuhankau? hei beri aku sejemput siapa tahu bisa puas sekejap kucingku

21. apakah manusia? hasrat kaki paha kontol puki perut badan tangan hati kepala langit duri bumi was was was was janji entah!

22. maka kubikin takhingga manusia tanpa mauku aku bikin orang amazon orang babilon aku kembangkan orang modern aku sambungkan manusia nanti aku lanjutkan manusiaakan aku teruskan perpanjangan orang aku jadikan mereka perangkap menangkapMu kuharap isiNya kudapat remahNya kulahap hariNya kurasa resahNya kusangat inginNya kujumpa ogahNya kumau Dianya kutemu jejakNya

23. aku temukan jejakMu pada bahu amazon pada badan mesopotamia pada tubuh babilon pada orang kini pada akan orang aku telah nangkap manusia dengan tangan dengan meriam dengan ide dengan pikiran namun cuma jejakMu saja yang aku dapatkan pada mereka aku bosan nanti aku bosan tunggu aku bosan hari aku bosan waktu aku bosan janji akulah penakluk yang bosan tawanan maka kini kulepaskan kalian

24. mawar lepas rasa tikam lepas luka gunung lepas puncak kini aku bebas kutaklagi punya tawanan batu tak lagi beban mawar tak peduli wangi laut tak acuh luas bebas ngiau was was was was was was was was was was was was was was huss puss diam makanlah se Ada mmmmMu!

1973-1974
diambil dari "O AMUK KAPAK"
Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri dilahirkan di Riau, tempat asal bahasa Indonesia. Setelah lulus SMA ia melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik jurusan Administrasi Negara, Universitas Pajajaran, Bandung. Mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknya dimuat majalah Horison dan Budaya jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.

Dari sajak-sajaknya itu Sutardji memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia. Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra.

Musim panas 1974 mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Oktober 1974 sampai April 1975 mengikuti seminar International Writing Program di Lowa City, Amerika Serikat. Sutardji juga menunjukkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.

Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan dikumpulkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcuta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststsichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). dan tahun 1979 itu Sutardji berangkat ke Bangkok, Thailand untuk menerima hadiah South East Asia Write Awards (S.E.A Awards) atas prestasinya dalam sastra.

O Amuk Kapak merupakan penerbitan yang lengkap sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979. Tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia Modern.


Kredo Puisi

Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.

Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.

Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.

Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor(obscene) serta penjajahan gramatika.

Bila kata dibebaskan, kreatifitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.

Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari diatas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sebdiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.

Sebagai penyair saya hanya menjaga--sepanjang tidak mengganggu kebebasannya-- agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.

Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.

Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.

Sutardji Calzoum Bachri
Bandung, 30 Maret 1973.

CIUM

cium aku dengan kata sebelum fajar menjadi jingga: telah kutandai dinding hatimu dengan jarum puisi dua belas purnama lalu sehabis melumat sepotong senja ditepi losari yang kelak kunamai pantai seribu narasi dimana setiap lekuknya ada kisah kita menjulur menggapai buih O dewi yang tertawan dalam nafas yang terbayang dalam igau yang semai dalam mimpi pun jika harus memberi tanda pada bagian tubuhmu yang lain aku memilih menancap jarum puisiku tepat pada jidatmu sebagai pengganti kecupan terakhirku sebelum kau berlabuh di dermaga lain O dewi sekali saja cium aku dengan kata sebelum fajar benarbenar menjadi jingga dan aku hanyut dalam lautan aksara menuju tempat tak terjamah O dewi karenamu kata ku ramu karenamu kita syahdu dalam lagu?  
(Pondok Gede 17 Mei 2011)

angananganangin

rindu menderu melumat jalan menghubungkan lariklarik kenangan kauaku dilintang gerimis saat tajam puisi tak dapat lagi menikam bayangmu saat lembarlembar sajak tak kuasa lagi menyusun paragraf senja bersamamu, aduh! inginku, aduh anginku.
entah dimana kau bertakhta. tak ada sandi atau jejak yang kau toreh di lintas tualang di lindap jalan atau sekedar bekas gincu pada ilalang di depan gubuk kenangan yang perlahan rebah dikepung ranung gelisah dan seribu tanda tanya, aduh! inginku, aduh anginku.
kini, dibawah samur zaman dan gigir bayang aku lari mengejar tumpukan kata dari lolong kereta berharap selembar saja saursaur auramu menukik menemuiku memintal asa membagi gelisah pada kuncup mahabbah dan jadi penjaga rimbungnya tunastunas puisi, aduh! inginku, aduh anganku.
/anganku.
(Makassar, Awal Mei 2009, Harian Radar Bulukumba 6 Agt 2011)

REBAH DALAM SABDA

pada kata kita satu
pada mata kita satu
pada rasa kita satu
pada raga kita satu
pada suara kita satu
pada masa kita satu
pada kata pada mata pada rasa pada raga pada suara pada masa kita satu
pada satu kita igau
pada satu kita risau
pada satu kita ragu
pada satu kita layu
pada satu kita abu
yang igau yang risau yang layu yang abu pada satu
itu kita!
(rebah dalam Sabda)

PELURU-PELURU

Oleh: Wa Ode Wulan Ratna

Tak pernah lupa ia pada suara den­tu­m­an meriam dan gen­cat­an senjata yang mem­­bu­atnya bangun pagi-pagi. Ia melihat sinar matahari masuk ke pembaringannya me­lalui celah jendela yang lapuk. Ia pun terduduk, berucap doa se­la­mat pagi pada Tuhan dan memohonkan kemerdekaan. Ia mengenakan seragamnya, destar merah putihnya, dan pin merah putihnya.
Layaknya prajurit yang lain, ia pun bergegas mengambil senjatanya, menyelempangkannya di bahu dan pergi tanpa sarapan apapun kecuali harapan. Ia menyusuri jalan yang tidak rata, berkerikil dan berdebu. Sesaat sebelum ia kembali pada peluru, ia teringat ibu dan menjadi ranum sebab kekasihnya tengah menunggu....
Masa, begitulah masa lalu. Ketika pemuda-pemuda hanya memikirkan bangsa. Tapi derita sayang, itu ibarat hayat yang tak lekang di waktu apapun meski negara telah merdeka. Setiap abad akan selalu datang untuk menghabiskan urat leher.

***

Di sepanjang pematang itu aku lihat kau berjalan dengan terburu-buru sambil menenteng serantang makanan. Mungkin kau akan memberikannya pada Bapakmu yang renta itu dan bukan pada suamimu yang kerjanya menggarap sawah dan memeras keringat dari pekerjaan yang berlumuran lumpur liat. Kainmu mengisut sepanjang lalang yang panjang yang tumbuh di pinggiran tanggul, membuat udara sengal dan aku gerah melihatnya.
Kau yang hamil muda itu begitu lincah menapaki setapak itu. Sebenarnya, ingin kuhancurkan benih dalam rahimmu. Tapi tak bisa, sebab ia terlindung oleh ketuban dan air itu membuatnya hangat lagi nyaman. Bisa saja benih yang baru tumbuh segempal itu berenang seperti kecebong dan berbahagia dalam naungan doa-doa di dalam sana. Sungguh rasa cemburuku tak bisa menghancurkannya, sebab air adalah kekuatan alam dan aku masih menyimpan memori kandungan. Ruang yang lembab dan lindap itu adalah benih di mana ruh mulai mengendus dan berkelemayar diterangi cahaya. Licin dan liat.
Begitu pun halnya denganmu. Dulu, dengan air mata itu bagaimana bisa aku melukaimu? Seperti halnya bumi yang diberkati air, dengan air yang menjadi tamengmu, kau adalah perempuan-perempuan yang dengannya kehidupan tumbuh. Begitulah wajah feminin Tuhan menciptakan perempuan.
“Prita!” aku memanggilnya. Ia tersenyum, berhenti dari langkahnya dan melambaikan tangannya padaku. Segera aku menghampirinya.
“Mau ke mana buru-buru?” Aku melihat rantangnya lalu perutnya.
“Ah, Mas Khalis. Biasa, aku ingin menjenguk Bapak, tak ada yang mengurus.” Ia masih malu-malu seperti dulu.
“Masmu tidak mengantar?”
“Kasihan dia. Sibuk.”
“Kalau begitu biar aku antar.” Aku menawarkan jasa untuk menenteng rantangnya. Kami berjalan beriring sepanjang pematang.
“Kau sudah mengurus kartu untuk mendapatkan dana kompensasi itu? Untuk Bapakmu?” ia tampak ragu menjawabnya.
“Aku diberi kepercayaan oleh pembarap untuk menjadi petugas lapangan. Bapakmu kan mantan pejuang, ia harus mendapatkan dana itu.”
“Mas Khalis bisa bantu? Aku tidak mengerti cara-caranya.” Kali ini aku yang ragu sebab ia sudah bersuami.
“Ya. Tapi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi aku kira. Nanti aku lihat lagi. Tapi kau bisa lihat dulu ke Pak RT, barangkali nama Bapakmu sudah terdata. Itu akan sangat memudahkan.” Kulihat matanya berkesap-kesip. Angin berkesiur dan hanya aku yang tahu hatiku telah menjadi bubur.
Betapa anehnya perjalanan ini perempuanku, dulu pernah kita berjalan berdua seperti saat ini, bergandengan tangan mesra dan merajut mimpi-mimpi bersama. Kadang kita lepas tertawa karena canda dan angan-angan kita. Tapi kini perempuanku, kau menjadi makmur sementara aku tetap seorang pengangguran yang menurut Bapakmu suka mencari muka.

***

Ia memilah-milah bongkahan arang, mana kiranya yang layak untuk ditelan sebagai pengganjal perut. Anak perempuannya belum datang dan ia tak mau menunggu terlalu lama bila ingin terus bertahan hidup. Biasanya anak perempuannya itu mampir tiga hari sekali. Membawakannya beberapa kilo beras, sambal petis dan teri. Atau sesekali bila sedang beruntung membawakannya hasil ladang, sayur yang telah diolah. Dan dalam sebulan, anak perempuannya itu akan mengurusnya sehari saja dengan penuh ketelatenan. Menginap sehari dan membuatnya lupa pada arang-arang itu.
Para tetangga sebenarnya suka mendengar cerita-cerita perjuangannya. Ia serasa menjadi muda kembali, menjadi gagah dan perkasa bila sedang menceritakannya. Namun mungkin kini mereka sudah bosan mendengarkan ceritanya sehingga ada saja yang memberinya sesuatu ketika ia hendak mengeluarkan kata. Mereka merasa iba dan salut akan kesanggupannya hidup dari memakan arang.
Matanya sudah meleleh. Rambutnya sepenuhnya telah dihiasi bulu masu. Wajahnya berkeriput dan tangannya selalu gemetar. Ia getir menelan hidup dan pengalaman, tapi ia bahagia memiliki kenangan. Mungkin orang-orang sudah tak akan bangga padanya sebab ia hanyalah masa lalu.
Tiba-tiba didengarnya pintu reot itu diketuk. Dikunyahnya satu arang dan berkata, “Siapa?”
“Ini Prita, Pak. Prita bawa makanan dan kabar.”

***

“Bapak Wadiman, sebenarnya Bapak sudah terdaftar di sini, tapi Bapak harus mengurus kartu kompensasinya ke kelurahan.” Laki-laki tua itu melirik Munir.
“Apakah harus membayar?” tanya pemuda itu.
“Tidak perlu. Pejabat dan petugas, sudah ada yang membayar.” Pak RT tersenyum. Tapi Munir tahu harus ada uang brosur yang harus digantinya dan uang rasa tidak enak. Mereka pamit.
“Bapak tidak punya uang. Jangankan untuk membayar uang terima kasih, untuk ongkos ke kelurahan saja tak ada.”
“Sudahlah, Bapak tak usah pikirkan apa-apa.”
Aku meradang ketika melihat laki-laki itu rengsa beranjak dari sawah liat. Aku tak ingin menegurnya, tapi seusai ia melunyah lahan petaknya, aku sudah terlanjur melihatnya.
“Khalis!” Ah, jancuk! Mengapa ia mesti memanggil? Aku tak bisa berpaling. Ia mendekatiku semakin dekat dan ingin rasanya kutinju batang hidungnya.
“Aku dengar dari Prita kau jadi petugas jaga pos pengaduan,” katanya. Aku sebal dia menyebut nama istrinya.
“Ya.” Tapi aku merasa bangga dengan jabatanku sebab aku punya pekerjaan yang lebih baik dari melunyah sawah.
“Pak Wadiman, ayah istriku, belum mendapat kartu. Sedang pengambilan dana tinggal tiga hari lagi.”
“Ya, dia sudah bilang padaku. Aku sekarang mau ke pusat, nanti segera aku beritahu syarat-syaratnya. Yang pasti pengambilan dananya tak dapat diwakilkan.” Ia menggangguk dan aku mohon diri. Oh Munir, mengapa kau sengaja menghancurkanku?
“Bagaimana kau bisa. Dulu pemuda-pemuda tidak ada yang selemah pada masa kini. Apa kau tidak tahu setiap saat mereka bisa saja dicekat pelor?” lelaki tua itu, yang sudah sepuh, menghinaku dengan cerita-cerita perjuangannya yang mengagumkan. Ia menunjukan bekas peluru pada lengan kirinya dan ia masih mengantungi pin merah putihnya serta menyimpan baik-baik penghargaan veterannya dari Bapak Presiden. Mungkin kelak ia akan membawanya ke liang kuburnya.
Kata-kata itu masih terngiang di telingaku. Baginya aku hanyalah pengangguran yang bagai benalu. Tentu ia tak mau anak perempuannya makan arang juga sepertinya.
Aku menghela nafas. Udara menjadi hangat, perlahan dingin akan segera datang sebab malam sebentar lagi merayap. Aku lihat sebongkah musim mengambang. Mereka adalah orang-orang yang penuh derita, sama sepertiku, berbaring dalam altar nasib. Tapi luka lebih parah, sebab aku tak mampu berbuat apa-apa demi cinta. Demi Prita. Mengapa perempuan itu bisa bahagia dengan seorang laki-laki selain aku?
Aku susuri gili-gili pada tepi jalan. Mataku menatap pohon suren dari jauh sana. Pikiranku melanglang buana ke tempat di mana orang-orang mencari keberuntungan dengan jalan melanggar hukum tapi bisa dianggap biasa atau memenuhi prosedur. Semuanya pasti akan beres dan tak kentara. Sebab aku adalah petugas jaga. Tak akan ada yang tahu aku berbuat sama seperti para calo kartu-kartu itu. Aku tersenyum dan meludahi jalan setapak itu.

***

Sungguh berkah musim dalam siruh-surihnya. Mata tua itu memandang ke luar jendela. Melihat ranting-ranting patah dan bulan pucat kehabisan darah. Ia raba lengan kirinya. Ia ingat selongsong peluru panas pernah menembus lengannya. Betapa indahnya medan yang penuh darah itu. Ia dan teman-temannya berteriak seperti kini para mahasiswa yang berdemonstrasi. Dulu adalah zaman-zaman cinta yang manis. Di mana manusia menaburkan lidah-lidah belasungkawa dan doa-doa berletusan ke angkasa setiap hari.
Hari ini ia kehilangan uang yang tak pernah ia miliki. Anak perempuannya yang membayarkan kartu kompensasi itu untuknya sebesar lima puluh ribu rupiah. Petugas baru membelikannya kartu bila ia telah membayar. Itulah yang dikatakan Munir, menantunya.
“Pak, sekarang di kota, kencing saja harus bayar.”
“Ya, Tuhan! Jadi mendapatkan dana juga harus bayar? Kemarin kan kau dengar sendiri kata Pak RT?”
“Ya, memang begitulah yang sudah tertata.”
“Ah keterlaluan betul mereka! Setengah mampus dulu aku membela-bela negara ini, masa untuk seorang veteran saja mereka tak mau menanggung sisa hidupku.”
“Sabar, Pak! Yang penting kan Bapak tak perlu lagi membayar. Setiap tiga bulan mendapat dana.” Munir menatap arang di atas meja. Tentu ia tak menginginkan ada arang lagi di atas meja makan mertuanya.
“Aku ini sudah bau tanah. Sebenarnya tak butuh pula uang, arang saja sudah cukup. Rencananya, aku ingin tabung uang itu untuk membeli sepetak tanah kuburku.” Munir diam. Ia memaklumi tingkah Bapak istrinya. Banyak orang tua yang seperti itu bila mereka telah benar-benar tua.
Ia pergi setelah menyerahkan kartu itu. Ada perasaan sungkan, entah mungkin karena tidak enak ketika lelaki tua itu menerima kartu itu.
Satu hal yang tidak bisa ia lenyapkan dari pikirannya adalah ia mungkin saja menyusahkan anak perempuannya.
Ia berjalan menghampiri jendela dan menekuri dirinya di sana. Besok ia harus mengantri untuk uang tanah kuburnya.

***

Waktu menetes tapi mataku berjalan di tengah-tengah. Sosok perempuanku menunggu, wajahnya tampak diremas-remas oleh perasaan cemas. Ia diam saja di sudut itu, sesekali ia melongok melihat sudah sampai mana Bapaknya mengantri.
Maafkan aku, Prita. Aku tak tahu bagaimana seharusnya orangtuamu yang tinggal satu itu harus membayar harga diriku sebagai laki-laki pemujamu.
Antrian itu mulai berdesak-desakan. Beberapa orang ibu-ibu tiba-tiba datang dengan penuh emosi dan mengeluh padaku sambil marah-marah. Mereka mengeluhkan karena mereka tak mendapatkan kartu padahal mereka terdaftar sebagai orang miskin. Mereka juga mengeluhkan kalau orang-orang yang mendapatkan kartu adalah orang-orang yang mapan yang hanya mengambil dana itu untuk sekadar membeli pulsa telepon selularnya.
Antrian semakin tidak beres, sebab baik yang sudah memiliki kartu atau belum bercampur menjadi satu. Panas yang membakar mulai hadir di kepala para penyandang dana. Mereka yang tidak memiliki kartu marah-marah di loket terlalu lama sedangkan antrian terlalu panjang.
“Hoi, Bu jangan lama-lama di situ! Kita di sini juga ngantri.”
“Pak, bagaimana ini? Penghasilan saya kan tidak sampai seratus ribu per bulan. Masa Bapak tidak percaya?”
“Ya, kartu bisa menyusul yang penting kan namanya sudah terdaftar di kantor RT.”
“Wah maaf, Bu. Tidak bisa seperti itu, semua sudah ada peraturannya.”
“Gimana sih pemerintah ngurus rakyatnya?”
“Jangan gitu, pemerintah juga kasihan. Rakyatnya kan banyak, Bu.”
“Yang sabar, Bu.”
“Situ enak ngomong, sini kelaparan.” Tiba-tiba semuanya menjadi kacau. Para petugas akhirnya turun tangan dan aku lengah memantaumu.
Orang-orang itu berteriak huru hara, menjadi berang. Mereka semua kesetanan terpanggang emosi. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Mereka saling dorong dan begitu kasar. Orang-orang yang aku kenal jinak-jinak itu menjadi liar tak terkontrol. Riuhnya mereka, teriakan mereka, membuat hatiku bergetar. Inikah kemarahan orang-orang miskin?
“Tolong bawa Bapakku! Tolong bawa Bapakku!”  aku mendengar suara Prita, perempuanku. Waktu berjalan terlalu cepat dan aku tak sempat mencerna. Dana itu lumer ke tangan-tangan yang mungkin bukan haknya dan aku hanya bisa melihat wajahmu merah dan dilumuri air mata.
Ia tidak menyahut. Sebutir peluru menyambutnya lagi. Kali ini tidak di lengan kirinya. Tidak pula di lengan kanan. Tidak di mana-mana. Tapi di jiwanya.
Lelaki tua itu menjadi ringan dan kembali muda. Ia bangkit dari pembaringannya, mengantongi peluru dan menyandang senjatanya di bahu. Tak lupa ia bersiul tentang lagu-lagu kemerdekaan. Ia menapaki pagi itu dengan ditemani mimpi sebab apalagi yang membuat manusia terjaga selain mimpi?
Lelaki itu ingin pergi dari dunia tuanya dan kembali ke masa lalu. Di mana perjuangan bukanlah menjadi sesuatu yang sulit seperti masa kini. Perjuangan baginya adalah dendang yang menyenangkan. Sungguh masa tuanya adalah penjajahan atas kerjakerasnya di masa muda.
Lelaki itu tak ingin lagi menengok ke belakang meski anak perempuannya memanggilnya. Sudah saatnya zaman berganti dan ia harus undur diri dan digantikan generasi baru. Tapi ia takut menengok ke belakang, macam itukah orang-orang yang akan melanjutkan perjuangannya?
Anak perempuannya sudah besar dan ia tak memerlukan dirinya lagi. Anak perempuan­nya telah mendapatkan suami yang benar dan ia bisa pergi dengan tenang.
Lelaki itu lelah. Ia tak tahu bagaimana akan dikubur sebab ia belum mendapatkan sepeser pun. Tapi ia tahu, bumi akan menerima dengan senang hati dan menanam jasanya seperti ia menimbun pin merah putihnya di dalam kantong baju seragamnya.

***

Padang-padang tengadah. Kabut malam belum luruh tapi air matamu telah jatuh. Kau yang diiringi orang-orang itu kini menjadi yatim piatu. Di dada lelakimu kau bersandar dan tersedu. Ada laki-laki hebat pemakan arang yang telah wafat untuk uang kuburnya. Aku merasa naas. Ada penyesalan dan rasa bersalah di dadaku seperti tertembus peluru-peluru itu.
Air mataku luruh. Aku memang tidak suka pada Bapaknya tapi tak ingin membunuhnya. Ada banyak kejahatan yang orang-orang sepertiku perbuat dan mereka tak pernah merasa berdosa bahkan mengulanginya berkali-kali. Tapi mereka tak pernah dilindungi cinta sehingga mereka tak tahu bagaimana rasanya menderita.
Para penduduk yang tidak puas itu masih melapor padaku. Aku sibuk mencatat keluhan mereka yang isinya sama saja. Tidak mendapat kartu, harus membayar uang administrasi, orang-orang yang mendapat dana bukan orang-orang miskin yang memang harus mendapat subsidi. Duh, kaya betul pemerintah mau memberi dana untuk itu setiap tiga bulan. Aku jadi ingat bagaimana Nabi Sulaiman meminta pada Tuhan untuk memberi makan ikan di laut sehari saja.
Tapi aku tak bisa berpikir serius. Pikiranku selalu kembali padamu.
“Mas Khalis, Pak Wardiman meninggal.”
“Ya, aku sudah tahu. Ia meninggal karena sudah tua. Sudah waktunya.”
“Ia meninggal karena kehabisan nafas terjepit dan terdorong-dorong antrian.”
“Salah sendiri kenapa orang-orang tidak mau sabar.” Aku menyelesaikan catatanku. Semua orang sudah tahu, dulu aku sangat mencintai Prita.
“Lho, Mas Khalis kok ngomong seperti itu?” Anak muda itu menatapku dengan tatapan herannya, tapi aku tidak peduli. Dia juga sudah tahu masa lalu.
“Sudah. Kau mau lapor apa?”
“Sepertinya di desa Kuwu tempat tinggal Pak Wadiman, ada yang tidak beres. Mas harus tahu, pembayannya Pak RT juga dapat dana. Jangankan itu, bahkan Pak Haji saja dapat kartu, keluarga bermotor juga dapat kartu. Masa yang dapat kartu orang-orang semacam itu?” Aku mendengarkan cerita anak muda itu baik-baik.
“Aku juga merasa ada hal yang tidak beres.” Pemuda itu tersenyum. Ia senang mendengar jawabanku. Aku harus melaporkan berita ini ke pusat.
Orang-orang telah berkumpul di halaman rumah Pak RT malam ini. Hatiku ringsek usai pemakaman Pak Wadiman. Betapa bencinya aku dengan pejabat rukun tetangga itu. Kalau bukan karenanya tentu aku tak perlu memungut uang untuk sekadar mempermainkan laki-laki tua itu. Dan orang itu sudah seharusnya menguruskan kartu dana itu bagi penduduknya yang sudah terdaftar kategori miskin. Tentu mereka tak akan berebutan minta subsidi dan berdorong-dorongan hingga menghilangakan nyawa seorang veteran.
“Saya kan sudah bilang saudara-saudara, semua keluarga miskin pasti mendapat dana kompensasi tunai,” kata Pak RT menenangkan kerumunan.
“Alah, persetan! Kami setuju kalau semuanya tidak kebagian dana daripada keluarga dekat petugas saja yang mendapat kartu dana itu.” Celetuk seorang warga.
“Kalian bicara apa? Jangan emosi begitu.” Pak RT membela diri. Aku pikir kerumunan itu sebentar lagi mulai bertindak anarkis.
“Saya tahu, yang menerima dana bahan bakar minyak itu keponakannya sendiri,” ujarku memberanikan diri.
“Khalis? Kalian semua hendak mendemoku? Memang benar suami keponakan saya dapat dana tapi lantaran mereka memang layak dapat.”
“Sudah. Kalian bubar! Tidak tahukah kalian bahwa tadi sore seorang warga kita meninggal?” kata seorang hansip, tapi penduduk terus berteriak-teriak. Mereka tidak puas dengan jawaban itu.
“Pak RT macam apa yang kita punya ini. Kita hancurkan saja semua….” Seorang pemuda berteriak dari belakang. Tiba-tiba hatiku bergetar dengan dahsyatnya. Bahkan aku melihat ibu-ibu mengacungkan golok ke angkasa. Masa beringas, lebih beringas dari antrian siang tadi. Aku tak sanggup membendung mereka. Mereka tumpah bagai air bah dan membanjiri rumah Pak RT.
Mereka berlarian, berhamburan, seperti anai-anai di musim panen. Mereka melempari batu, melempari caci, seperti melempari peluru-peluru. Begitu keras dan blingsatan.
“Tolong hentikan!”
“Kami marah. Di mana kalian taruh perut kami?”
“Kami ingin kartu-kartu itu tanpa perlu membayar atau ada potongan!”
“Hentikaaannn….!”
Sisa malam menyusut menjadi batu. Batu-batu berhamburan memecahkan mimpi semalam. Pintu rumah itu telah koyak dan isinya berhamburan ke mana-mana. Kertas-kertas, surat-surat, semua terobrak-abrik. TV 24 inchi pun menjadi sasaran keberingasan warga. Yang lolos hanya beberapa kwintal beras raskin saja. Ia berhamburan di lantai marmernya.
Aku mengelus dada. Salahku?
Pagi ini, di rumah seorang petugas jaga malam tempat Pak RT melarikan diri, pejabat rukun tetangga itu menghabisi nyawanya sendiri dengan mereguk racun serangga. Istri dan anak-anaknya meraung-raung. Mereka bilang Pak RT semalaman stres berat dan merasa terteror.
Aku tak tahu pernyataan itu benar atau salah. Tapi kematian Pak RT tidak menyurutkan rasa kacauku dan rasa bersalahku padamu.
Prita, dengan tudung hijaumu kau berdiri kaku di atas gundukan tanah merah itu. Menebar doa, tangis, dan kata-kata. Suamimu mungkin menunggumu di pematang. Kini semua orang tak akan lagi mendengarkan cerita perjuangan dari bibir Bapakmu. Tidak pula mereka merasa iba lagi dengan arangnya di atas meja.
Aku menghampirimu. Melihat rantang yang kau bawa lalu melihat perutmu yang tengah hamil muda. Tentu rantang makanan itu untuk suamimu.
“Prita, bagaimana kabarmu? Aku turut berduka atas kematian Bapakmu.” Ia tidak menyahut. Air matanya mengalir saja.
“Kasihan Bapak.”
“Ya.”
“Kau sendiri saja?” dia tidak menyahut.
“Biar aku antar.” Tapi ia menggeleng, menyusut air matanya dan pergi begitu saja.
Kau yang hamil muda itu berjalan tanpa semangat. Tapi kainmu mengisut rerumputan dan membuat mereka segar. Sebenarnya ingin kuhancurkan benih dalam kandunganmu itu. Tapi aku tak bisa sebab ia tidur sepertiku dulu, meringkuk seperti trenggiling dibalut ari-ari dan ketuban. Sungguh air adalah kuasamu, Prita, perempuan-perempuan yang sempurna dengan air mata.
Perlahan kau terobos matahari, menyusuri setapak itu. Tak kau hiraukan peluru-peluru menembus jantung dan hatiku, meninggalkan luka dan bekas yang menganga. Bapakmu mungkin membawa bekas pelurunya sebagai kenangan, tapi aku mati begitu saja tanpa pujaan. Kau pun ingin segera raib dalam pandangan.


Oktober 2005

LUKA YANG SEMPURNA

malam sebentar lagi merayap. sebongkah musim mulai mengambang. aku berbaring di altar nasib memandangi
ranting-ranting patah dan bulan pucat kehabisan darah. menaburkan lidah belasungkawa dan doa-doa berletusan ke angkasa. padang-padang tengadah. kabut malam belum luruh tapi air mataku telah jatuh. apa aku terluka?

aku meraba kedua bahuku, dadaku bahkan jidatku. tak ada apa-apa di sana. tak ada  tetesan darah. tetapi mengapa air mataku semakin tumpah di batu cadas? merayap lalu mencakar tanah merah? membuat sungai-sungai baru yang tak berhulu. Akh, apa aku benar-benar terluka? lalu siapa yang melukaiku? di sini tak ada siapa-siapa. tak ada sabetan cerulit. tak ada busur panah pun letupan peluru

tubuhku semakin kaku. nafasku tersengal layu. pandanganku kabur. diam dalam gigil, sambil berusaha menebak rahasia yang karam di lautan aksara. tak ada sepotong senja, sekuntum mawar, pun selembar rindu yang rimbung bersama tunas-tunas puisi. 

perlahan aku menjelma menjadi puri dari air mataku sendiri. aku letupkan doa terakhir ke angkasa tetapi menukik ke arah bulan. aduh, bulan yang pucat jatuh. rebah tepat disampingku. "kau terluka!". bisiknya lirih. "dimana?" aku balik bertanya. " di situ" lanjutnya sambil menunjuk kearah dadaku. ya, perih memang kurasakan. akh, teryata luka itu berasal dari dalam. jauh dari dalam menembus tulang.









Sabtu, 18 Juni 2011

SAJAK CELANA DALAM

Cleopatra! semalam aku rangkai selembar sajak dari benang rindu yang berkarat tetapi angin datang menerjang rumah kita yang tak berpintu tak berjendela membuat sajakku rontok satusatu terbang ke atas awan atau mungkin ke puncak kenangan yang telanjang dengan rambut putih bibir purba payudara purba selangkangan purba seumpama lukakudukakurinduku yang purba dilautan kata tanpa muara! cuih, pagi ini,seperti biasa, kereta surabaya meraungraung dan kupastikan dia takkan pernah membawamu kembali “hoey mesin pembual! buang saja kepingan sajakku di negeri tak bernama dan sampaikan kepadanya celana dalamku telah kujual di pasar loak untuk membeli rindu yang mengapung bersama ampas kopiku dan:perlahan menjadi aksara airmata dan terus mengeja sisa senja yang lapuk dalam gulungan sarungku!” Cleopatra,karena cinta aku sengsara? karena dinda aku merana___

MENYATU DALAM RAGU

aih:jarum puisi menjurug sebutir pasir pada awan saat ombak mencumbui pantai saat dahaga berleha dalam tarian duka saat panen air mata sudah tiba!wahai,hamburkan nafasmu dengan cinta dengan rona dengan warna dan istiharahlah diatas pelangi warnawarni!selimuti pucat rinduku yang kuyup di tangkai angin di bangkai angan atau mungkin sedang tengkurap menjilat jejak kenangan yang meradang sambil memandang rumpun ilalang seumpama tiara yang bersinarsinar berbinarbinar pada matamu wahai perempuan yang belum kunamai apaapa belum kuwarnai dengan tinta pun dengan jalang kata! aku mengirangira dengan raga tanpa suara wahai,perempuan yang berlehaleha pada selembar benang asmara yang terbentang:antara angan dan awan! puah, jatuhlah dalam dekapan nafasku.abuabu akan berlalu abuabu akukau menyatu?aih:aku masih ragu!

KILOMETER NOL

sejak malam lumpuh tak ada lagi yang bisa kulukis tentang dirimu:
asmara sebatas pembuka sajak menjelma aksara  lalu hilang meninggalkan jejak pada dinding kamar serupa potret lusuh kaku layu  memberi tanda pada sunyi pada mimpi pada janji yang rebah di rantingranting kenangan yang kian lapuk dilupakan musim dengan luapan hasrat aku mencoba mengingatingat kembali tentangmu tetapi sekali lagi malam sudah lumpuh dan rinduku kian rapuh di tangkai angan sesekali berharap sebuah kecupan terpilu pada jidatku bisa kutemui saat ranum pagi telah tiba esok dinda! (kulihat malam perlahan melepuh menjelma keranda dan kini tepat berada disampingku dengan sepasang batu nisan) AR___
(Makassar 19 juli 2009)

HUJAN KEPAGIAN

sudah lama aku menyulam khayal pada tirai hujan menata wajahmu keping demi keping dengan perekat kenangan di tiap sisinya lalu saat semuanya menjelma sempurna akan kubingkai lukisan itu dalam setiap lelah rindu yang kupelihara sejak dulu “cinta selalu menjaga rahasia pada langit pun pada hujan” katamu lirih terbatabata dan seketika linangan airmataku menjelma aliran sungai deras menuju hulu dimana setiap impian dan harapan kita karam disana/
sudah lama aku mengukir sosokmu pada gerimis memastikan setiap serpih mimpiku untuk membangun istana cinta dapat menjadi nyata tapi semuanya segera sirna dan berlalu bersama desir angin di beranda “percayalah! aku ada dinadimu seperti kamu ada didarahku” bisikmu pelan ketika bayangmu perlahan memudar dibalik rinai hujan/
sepasang camar seketika menghampiriku: yang satu menjabat tanganku lalu berkata “selamat menikmati luka” dan satunya lagi sibuk menulis namamu pada serpihan kain kafan!
(Bulukumba 2010)

RONTAK

cium aku dengan kata sebelum fajar menjadi jingga:
telah kutandai dinding hatimu dengan jarum puisi dua belas purnama lalu sehabis melumat sepotong senja ditepi losari yang kelak kunamai pantai seribu narasi dimana setiap lekuknya ada kisah kita menjulur menggapai buih O dewi yang tertawan dalam nafas yang terbayang dalam igau yang semai dalam mimpi pun jika harus memberi tanda pada bagian tubuhmu yang lain aku memilih menancap jarum puisiku tepat pada jidatmu sebagai pengganti kecupan terakhirku sebelum kau berlabuh di dermaga lain O dewi sekali saja cium aku dengan kata sebelum fajar benarbenar menjadi jingga dan aku hanyut dalam lautan aksara menuju tempat tak terjamah O dewi karenamu kata ku ramu karenamu kita syahdu dalam lagu?
(Pondok Gede 17  Mei 2011)

MANTRA

aku rasa kita akan selalu bercakap dalam senyap dengan bahasa langit dan isyarat kedipan mata yang tak lazim serta menyemai setiap harap yang kerap datang mengendap lalu meresapinya ke hati dengan getir! aku rasa dengan bahasa langit dan isyarat itu (hanya kita saja yang tahu) secara bersahaja menyapa larik-larik kenangan dan meniti setiap selasar waktu bersama desir rindu menoreh kalbu! selalu aku rasa kita tak dapat menafikan batas yang membentang dimana jarak membingkainya lalu menjadikannya nyata serta membuat kita sadar bahwa pada akhirnya dalam pilu kita berkata: biarlah kita menyesap setiap serpihan senyap dan menikmatinya tak henti hingga lelap tanpa tatap tanpa ratap! aku kian rasa ada yang diamdiam melafaz bahasa dan isyarat menjadi mantra: puah, kita rebah dalam lautan aksara tanpa makna menyatu dalam duka nganga/
(Bajoe-Kendari 2007)